Selasa, 22 Okt 2019

Go Green, "Alam Surga di Dunia"

* Oleh: Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa
Sabtu, 19 Juli 2014 14:03 WIB
Hidup ramah lingkungan, dengan cara mengurangi perilaku-perilaku yang dapat  mencemarkan lingkungan maupun merusak alam dan berbuat sesuatu yang baik untuk bumi dengan berupaya untuk berpartisipasi dalam mengambil bagian dari perwujudan untuk menciptakan ALAM SURGA DI DUNIA.

Mengapa hal itu perlu  dilakukan…??? Karena alam adalah bagian penting dari lingkungan yang dapat diartikan sebagai tempat untuk membangun unsur kehidupan dan berpengaruh besar bagi semua mahluk yang berada di dalamnya, termasuk juga manusia. Oleh karena itu keadaan lingkungan yang baik sangat berpotensi memberikan kenyamanan, kesejahteraan dan dukungan dalam proses perkembangan dan kelangsungan hidup. Menurut seorang tokoh terkemuka A.G. Tansley (1935) lingkungan adalah salah satu bagian dari ekosistem yang memiliki suatu system yang terbentuk oleh keterikatan hubungan timbal balik yang tidak akan pernah terpisahkan antara mahluk hidup dengan lingkungannya. Sehingga ekosistem bisa diartikan juga sebagai suatu tatanan yang utuh dan menyeluruh antara semua unsur lingkungan hidup yang mempengaruhinya. Maka dengan demikian menjaga dan melestarikan lingkungan hidup merupakan tanggungjawab yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Dewasa ini, jika kita mengamati, sedikit sekali menemukan orang-orang yang memiliki kesadaran baik terhadap lingkungan sekitarnya, apalagi terhadap kelestarian alam. Hal ini dapat dilihat sejauh mana cara-cara manusia menempatkan dan memposisikan dirinya dalam aktivitas dan produktivitas demi memenuhi dan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Buddha menguraikan di dalam syair  Dpd. Danda Vagga; X-131, "Sukhakamani bhutani yo dandena vihimsati attano sukhamesano pecca so na labhate sukham; barang siapa yang mencari kebahagian dari dirinya sendiri dengan jalan menganiaya mahluk lain yang juga mendambakan kebahagian, maka setelah mati ia tak akan memperoleh kebahagiaan". Sikap untuk mensyukuri dan menghargai, serta mempergunakan maupun menjaga kelestarian lingkungan beserta sumber daya alam yang ada sangatlah minim sekali dilakukan, sehingga tidak heran apabila setiap kita melangkahkan kaki dari daerah satu ke daerah yang lainnya, dari pulau ke satu ke pulau yang lainnya, maka banyak menjumpai pemandangan-pemandangan yang tidak bersahabat terhadap lingkungan. Beberapa contoh yang sudah marak terjadi yaitu seperti pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya sehingga sampah menumpuk dimana-mana, pembalakan  liar (illegal logging) yang tanpa diimbangi dengan penanaman kembali (reboisasi), pembukaan lahan yang dijadikan sebagai tempat pengembangan industri yang tanpa memikirkan dampak buruknya terhadap makhluk-makhluk hidup yang berada di dalamnya, dan masih banyak yang lainnya.

Kondisi ini memang sungguh memprihatinkan, padahal kondisi ini adalah masalah yang harus diperhatikan bersama. Seseorang lebih cenderung prihatin dan kecewa terhadap dampak buruk yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, ketimbang memikirkan bagaimana solusinya. Seyogianya kita tidak hanya tinggal diam melihat kondisi tersebut atau menunggu orang lain yang harus melakukan atau mungkin berpikir "masalah ini bukan masalah saya dan biarlah orang lain yang memikirkannya", jika memang demikian maka selamanya perubahan menuju yang lebih baik tidak akan pernah dapat terjadi. Seperti yang telah Buddha sabdakan "Attanameva pathamam patirupe nivesaye-hendaknya seseorang memulai dan mengembangkan hal-hal yang baik dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu (Dpd.158)" dan "Kayirace kayirathenam dalhamenam parakkhame-hendaknya seseorang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati” (Dpd. 313). Dari uraian Buddha di atas dapat kita renungkan bersama bahwa, sekecil apapun usaha yang kita lakukan, jika dengan kesungguhan hati maka pada akhirnya kita akan memperoleh hasilnya. Maka dari itu jangan berpikir sempit bahwa sesuatu yang baik tidak akan membuat perubahan jika itu bermanfaat bagi banyak orang,  orang lain pasti akan ikut dan mendukung, terlebih jika hal tersebut berpengaruh terhadap lingkungan hidup. Masalah sebesar apapun dan kondisi sesulit apapun apabila dihadapi dan diatasi dengan tenang, maka semuanya akan menjadi baik. Mari kita bekerja sama dan saling mendukung, mencari solusi yang terbaik untuk perubahan hidup yang lebih baik.

Dalam sudut pandang ajaran Buddha (Buddhasasana) menjaga lingkungan dan kelestarian alam beserta sumberdaya yang ada di dalamnya merupakan salah satu bentuk wujud dari "Metta" (Cinta kasih). Di dalam "Karaniyametta Sutta" Buddha menjelaskan pengembangan cinta kasih tidak hanya dilakukan kepada orang-orang terdekat kita, melainkan cinta kasih itu hendaknya dikembangkan secara universal dan tidak membatasinya. Alam adalah unsur dari sumber kehidupan bagi kita maupun mahluk-mahluk lainnya dan secara tidak langsung ketika kita mencintai lingkungan dan alam yang kita tempati, membuktikan bahwa kita telah mencintai semua mahluk yang berada di dalamnya. Pada prosesnya lingkungan dan sumberdaya alam yang ada mempunyai hubungan timbal balik yang menguntungkan, menurut hukum sebab-musabab hal itu dibenarkan karena pada intinya mempunyai hubungan proses ketertikatan.  Oleh sebab itu, ketika kita tidak mampu mencintai dan menjaga kelestarian lingkungan serta tidak seimbang mempergunakan semua sumber daya alam yang dihasilkan, maka kita tidak dapat menjaga kelangsungan hidup dengan baik.

Untuk menegaskan  betapa pentingnya lingkungan dan sumber daya alam bagi kehidupan, Buddha memberikan perumpamaan yang sangat luar biasa yaitu, "Yathapi bhamaro puppham vannagandham ahethayam paleti rasamadaya-Bagaikan seekor lebah yang tidak pernah merusak kuntum bunga, baik warnanya maupun baunya (Dhp.49)". Di dalam ekosistem tersebut lebah tidak hanya mengambil keuntungan dari bunga, akan tetapi juga sekaligus membayarnya dengan penyerbukan. Perilaku yang dilakukan lebah tentu memberikan inspirasi tentang bagaimana seharusnya seseorang menggunakan sumber daya alam yang terbatas (Wijaya-Mukti, 2004). 

Sebagai tambahan jika alam mempunyai fungsi besar bagi kehidupan manusia maka dapat dilihat dari "Agganna Sutta" yang menunjukkan hubungan timbal balik perilaku manusia dan evolusi perkembangan tumbuh-tumbuhan. Jenis padi (Sali) yang pertama kali dikenal berupa butiran yang bersih tanpa sekam. Padi tersebut dipetik ketika sore hari, kemudian berbuah kembali keesokan harinya. Di petik pagi-pagi, butir padi itu kembali tumbuh di sore hari. Semula manusia mengumpulkan padi secukupnya untuk sekali makan, akan tetapi timbullah di dalam pikiran manusia; "bukankah lebih baik jika mengumpulkan padi yang cukup untuk persediaan makan siang dan makan malam sekaligus, lalu pikiran berikutnya muncul kembali, bukankah lebih baik lagi jikalau dikumpulkan untuk dua hari, empat hari, delapan hari dan seterusnya". Sejak saat itulah manusia mulai menimbun padi, sehingga padi yang telah dipanen tidak tumbuh lagi. Sehingga akibat dari keserakahan itu, manusia akhirnya harus menanam dan menunggu dengan waktu yang cukup lama. Batang-batang padi mulai tumbuh berumpun dan butiran-butiran padi mulai berkulit sekam (D.II.88-90).

Dari uraian tersebut dapat dilukiskan bahwa keterikatan sumber daya alam dan tindakan manusia mempunyai peranan penting terhadap hasil akhir dan proses kelangsungan hidupnya. Ajaran Buddha tidak semata-mata menitik beratkan kepada cara-cara bagaimana menuju kepada perealisasi sejati, melainkan beliau juga mengajarkan bagaimana sikap yang harus dilakukan dalam menempatkan diri yang baik terhadap sesuatu yang ada diluar diri kita. Alam adalah bagian dari sarana dan media yang dapat membantu mencapai keseimbangan hidup. Jika kita membaca riawayat hidup Buddha Gotama maka kita dapat menemukan bagaimana bentuk sikap yang dilakukan beliau terhadap pohon Bodhi, dengan rasa penuh hormat memandangi pohon Bodhi tersebut selama tujuh hari tanpa bergerak yang dikenal sebagai "amisa sattaha". Hal itu dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih (Anumodana) atas jasanya yang telah memberikan naungan selama petapaannya. Peristiwa ini terjadi dua minggu setelah pencapaian kesempurnaan agung (Sammasambuddha).

Di dalam "Vinaya Pitaka" menuturkan tentang aturan-aturan para Bhikkhu, juga telah ditetapkan bahwa seorang Bhikkhu yang menyebabkan kerusakan pada tanaman dinyatakan bersalah (Pacittiya). Ajaran Buddha selalu memberikan inspirasi baik mengenai bagaimana sikap menghormati dan tanpa melakukan kekerasan, tidak hanya berlaku terhadap semua mahluk hidup, saat masa musim penghujan (Vassa) para bhikkhu "tidak diperkenankan melakukan perjalanan guna menghindari kemungkinan terjadinya perusakan terhadap tunas-tunas tanaman atau mengganggu kehidupan binatang-binatang kecil yang muncul setelah hujan (Vin.I.137).

Berdasarkan uraian diatas, kita dapat simpulkan bahwa lingkungan, alam dan sumber daya yang dihasilkan adalah bagian dari suatu tatanan yang utuh dan menyeluruh antara semua unsur lingkungan hidup yang mempengaruhinya. Dengan demikian upaya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup merupakan tanggungjawab yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Jaga, rawat dan lestarikanlah alam kita, agar anak cucu kita kelak dapat menghirup udara segar untuk selama-lamanya. (h)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments