Senin, 24 Feb 2020
Banner Menu
Detail Utama 1

Cita Cita Yang Agung

(Oleh Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo )
redaksi Sabtu, 16 November 2019 19:27 WIB
walubi.or.id
Ilustrasi

Setiap orang memiliki satu kesamaan baik mereka yang status sosialnya rendah atau tinggi, semuanya termotivasi harapan memperoleh kebahagiaan. Dalam Pattakamma Sutta, Samyutta Nikaya diuraikan empat hal di dunia ini yang dicita-citakan, diagung-agungkan, dan diharapkan oleh setiap orang, tetapi sangat susah untuk mendapatkannya. Empat hal tersebut adalah harapan untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan Dhamma, cita-cita agar menjadi orang terpandang dalam masyarakat, harapan agar mempunyai umur panjang dan selalu sehat, serta setelah meninggal bisa terlahir di alam-alam bahagia, yaitu terlahir di alam surga.


Buddha menjelaskan lebih lanjut bahwa keinginan di atas merupakan sesuatu yang alami bagi para perumah tangga. Sesungguhnya pun hal itu sudah melekat pada diri seseorang yang dibawa mulai sejak lahir, ini disebabkan karena masih adanya pengaruh dari loba dosa dan moha pada masa kehidupan sebelumnya. Apakah dengan memiliki keinginan-keinginan tersebut adalah buruk. Buruk dan tidaknya tidaklah dapat diukur dari seberapa besarnya keinginan-keinginan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi tergantung bagaimana kebijaksanaan seseorang dalam menjalani dan melakukan suatu usaha untuk menggapainya.


Sang Buddha menasihatkan kepada kita bahwa kekayaan atau materi bukanlah satu-satunya tujuan dalam hidup kita. Sehingga dalam mengumpulkan materi, seseorang diharapkan untuk memperhatikan norma-norma etika dan norma-norma keagamaan, sesuai dengan Dhamma. Lebih lanjut, sutta tersebut menerangkan bahwa dalam mengumpulkan kekayaan, sebaiknya seseorang mengumpulkannya dengan usaha dan semangat yang tinggi (utthanaviriyadhigatehi), dengan keringat sendiri (sedavakkhitehi), dan dengan jalan Dhamma (dhammikehi dhammaladdhehi).


Utthanaviriyadhigatehi bermakna hendaklah seseorang memiliki daya upaya yang baik dan semangat yang tinggi dalam melakukan sesuatu yang dikerjakan dengan penuh perhatian, ketekunan dan kedisiplinan. Tidak pantang menyerah atau putus asa pada setiap kegagalan. Selalu mau berusaha untuk mencoba dan memperbaiki kekurangan atau kesalahan yang sudah dilakukan. Aspek ini sangat memiliki pengaruh pada pengkondisian perealisasian hasil akhir. Baik terhadap hasil secara materi atau kesejahteraan hidup.
Sedavakkhitehi bermakna hendaklah seseorang membangun sikap integritas dalam dirinya, memulai segala sesuatu usaha yang diawali dengan penuh kejujuran, totalitas terhadap segala sesuatu yang dikerjakan tanpa merasa terbebani, merasa senang pada apa yang dilakukannya, selalu melakukan dengan kerja dan keringat sendiri.


Dhammikehi dhammaladdhehi bermakna hendaklah seseorang selalu eling/sadar bahwa segala sesuatu harus dimulai dan diawali dari moral, karena moral yang baik akan mendorong seseorang pada pemahaman dan kebijaksanaan. Dapat membedakan cara dari suatu usaha yang diperbolehkan untuk dilakukan dan usaha yang tidak boleh dilakukan. Karena aturan nilai-nilai kemoralan tidak hanya memberikan benteng pada rasa malu dan takut dalam melakukan usaha yang buruk saja, akan tetapi juga dapat mempengaruhi pada peningkatan kualitas pola pikir yang baik. Sehingga dengan demikian dimungkinkan kreativitas, produktivitas yang baik semakin berkembang. Selain itu juga melakukan suatu usaha yang baik sesuai jalan Dhamma dapat mengkondisikan berkah pada semua yang sudah diperoleh.


Lebih lanjut dalam Vyagghapajja Sutta, seorang miliuner yang bernama Dighajanu bertanya kepada Sang Buddha untuk mendapatkan beberapa nasihat agar dia bisa berbuat untuk kebahagiaan di dunia ini dan dunia berikutnya. Sang Buddha mengajarkan bahwa hendaknya untuk mendapatkan kemajuan materi atau kekayaan, seseorang diharapkan melakukan segala pekerjaan dengan penuh usaha (utthana sampada), menjaga kekayaan yang telah ia dapat (arakkha sampada), hidup seimbang (samajivikata), dan bergaul dengan para sahabat yang bisa hidup bersama baik dalam keadaan susah dan senang.


Uraian sutta tersebut kiranya dapat mebuka lembaran baru dengan semangat baru, agar hari esok dapat lebih baik dari hari ini. Segala sesuatu memungkinkan untuk dilaksanakan, gapailah semua impian, cita-cita dan harapan dengan daya upaya yang baik. Jangan menunda lagi, waktu berjalan terus dan setiap waktu adalah kesempatan. Kesempatan untuk membangun kegagalan dan kesalahan yang belum sempurna kita lakukan. Berusahalah untuk menahan diri pada hal-hal yang dapat menimbulkan tindakan buruk (Samvarappadhana), usaha untuk meninggalkan hal-hal yang buruk yang sudah ada dalam diri (Pahanappadhana), usaha untuk membangun dan membiasakan hal-hal yang baik agar selalu dilakukan (Bhavanappadhana), usaha untuk menjaga dan memelihara segala kebaikan yang sudah dilakukan (Anurakkhanappadhana); Anguttara Nikaya, II.83". (f)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments