Senin, 14 Okt 2019

Berkah dan Kejahatan

Oleh : Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo ST., MM
Sabtu, 02 Juli 2016 11:56 WIB
Di era kehidupan yang semakin modern saat ini, kejahatan masih menjadi masalah besar bagi proses pengembangan harkat dan martabat kehidupan. Bahkan di Eropa yang kita kenal cukup  baik ekonominya, kejahatan tidak kalah buruk dibandingkan dengan Asia. Di Paris dan negara Eropa lainnya para perampok secara terbuka merampas barang yang baru saja dibeli tepat di depan pintu toko brand- brand terkenal dunia. Pencopetan dengan cara berkelompok menghiasi cerita wisatawan yang merasa tidak aman di benua yang diasumsikan terkenal dengan kemakmurannya. Sementara itu, di negeri tercinta ini bukan sesuatu yang luar biasa kejahatan juga tumbuh subur. Tidak hanya oleh rakyat kecil, kejahatan justru diperburuk karena tidak sedikit juga dilakukan oleh insan yang seharusnya menyampaikan pesan kebaikan seperti guru, wakil rakyat, oknun aparat penegak hukum dan masih banyak yang lain. 

Dalam Manggala Sutta yang menguraikan tentang sejumlah berkah utama, Sang Buddha menempatkan dua berkah yang berhubungan tentang kejahatan yakni mejauhi perbuatan jahat (Arati Papa) dan menghindari perbuatan jahat (Virati Papa) sebagai bagian dari berkah utama. Perbuatan jahat dapat digambarkan sebagai sikap/perilaku yang menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri maupun orang lain. Terdapat lima bentuk kejahatan utama yang harus dijauhi yakni membunuh, mencuri, berbuat asusila, berbohong dan minum-minuman keras. 

Sebagaimana diuraikan Manggala Sutta, kejahatan pada dasarnya tidak menghasilkan kebahagiaan oleh siapapun pelakunya dan tidak diperbolehkan karena alasan apapun. Pembunuhan karena alasan sakit hati,  perlakuan buruk, hutang piutang, kebencian dan dendam atau alasan apapun tidak akan menyelesaikan masalah. Justru masalah yang timbul lebih besar karena nyawa seseorang tidak dapat dihidupkan lagi sedangkan masalah lain masih bisa diselesaikan. 

Merampok, mencuri atau mengambil barang tanpa izin pemiliknya sepintas memberi kebahagiaan karena bisa langsung dimanfaatkan untuk makan sehari ataupun seminggu, membeli obat keluarga yang sakit dan membayar kebutuhan keluarga lainnya. Namun kejahatan ini  sebenarnya dapat diibaratkan cara mencari nafkah keluarga yang salah dan memberikan efek kecanduan karena mendapat sesuatu secara  gampang yang bisa berakibat buruk dipenjarakan beberapa tahun tanpa kesempatan menafkahi keluarga. Satu dua hingga sepuluh kali dilakukan mungkin bisa lolos namun jika sekali saja tertangkap, maka segala sesuatu yang didapatkan tidak sebanding.  Demikian juga kejahatan lainnya seperti perbuatan asusila, berbohong dan minuman keras tidak pernah bisa memberikan berkah kebahagiaan seperti yang dibayangkan.

Kejahatan mengakibatkan petaka tidak hanya bagi pelakunya namun juga kepada keluarga, lingkungan dan komunitasnya. Kondisi kejahatan di Eropa  yang memprihatinkan saat ini telah membentuk satu opini terhadap komunitas Eropa tertentu yang sering melakukan kejahatan. Para pelaku kejahatan yang berasal dari komunitas tertentu ini memperburuk kondisi mereka karena kepercayaan yang dapat diberikan kepada mereka jika diberi pekerjaan. Alhasil, kejahatan yang mereka lakukan tidak pernah bisa mengangkat ekonomi mereka bahkan semakin mempersempit kesempatan menumbuhkan kehidupan ekonomi. 

Kita juga dapat melihat kondisi buruk di beberapa daerah yang semakin buruk ekonominya karena kejahatan yang merajarela. Sebut saja, satu kawasan di Medan Utara yang sepuluh tahun lalu termasuk salah satu kawasan yang diperhitungkan. Namun seiring dengan waktu, kawasan ini menjadi buruk ekonominya karena tingkat kejahatan yang tinggi. Malam hari kawasan ini sepi karena rasa takut kepada kejahatan, sehingga sepulang kerja warga kebanyakan berdiam diri di rumah. Ekonomi yang seharusnya bisa berkembang jika pekerja pulang membelanjakan uangnya ke penjual jajanan, toko dan tukang ojek akhirnya terbuang ke tempat lain karena warga berkurang belanja di malam hari. Kejahatan juga menyebabkan potensi perkembangan ekonomi hilang karena pemilik modal cenderung menghindari resiko modal yang tidak jelas. Pada akhirnya, secara tidak langsung kejahatan yang dilakukan seseorang memperburuk lingkungannya dan kesempatan berkembang menjadi insan yang lebih baik. 

Memang betul kalau kita lihat hanya sesaat saja kejahatan juga memberikan kebahagiaan atas problema yang dihadapi. Tetapi kalau saatnya tiba, kita akan mengalami begitu pahit dan menyakitkan buah kamma matang. Karma tidak harus berbuah serupa tetapi dapat bentuk lainnya. Misalnya dia dikucilkan atau menjadi sumber pergunjingan yang mana terasa lebih berat, hilangnya kesempatan berkembang, keluarga yang berantakan, lingkungan yang buruk dan penyakitan. Dengan melakukan kejahatan, seseorang telah menghilangkan kesempatan meningkatkan berkah kebahagiaan diri, keluarga, lingkungan dan komunitasnya. (l)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments