Kamis, 06 Agu 2020

Renungan Buddha Dhamma

Bebas dari Sang Aku

Oleh: Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya
redaksisib Sabtu, 23 Mei 2020 11:12 WIB
kementrian pendidikan

Ilustrasi

Sifat ke-aku-an merupakan salah satu racun yang bisa menghambat perkembangan batin kita. Dalam ajaran Buddha, upaya untuk meminimalkan bahkan kalau bisa mengikis habis sifat ini, merupakan tugas dari Siswa Buddha.

Amat sulit memang mendefinisikan sifat ini dalam kalimat yang lugas. Namun pernah satu kali, Biksuni bule jebolan University of California Los Angeles (UCLA), Thubten Chodron, menjelaskan dengan kalimat yang sederhana namun menarik.

Yang MuliaThubten Chodron menjelaskan bahwa sifat ke-aku-an merupakan sifat yang dimiliki oleh seseorang, dimana sifat ini membuat orang tersebut merasa dirinyalah yang paling penting di muka bumi ini. Karena adanya sifat ini, maka ia berkeinginan agar apapun yang terjadi harus berfokus kepada dirinya. Menarik bukan?

Misalnya, begitu bicara soal uang, ia merasa hanya dirilah yang terpenting untuk bisa memperoleh uang tersebut, yang lain tidak. Atau jika membahas jabatan, ia merasa hanya dia-lah yang pantas untuk menerimanya, sedangkan yang lain tidak.

Jika sifat ini dibiarkan berkembang, maka kemelekatan akan menebal. Salah satu cirri kemelekatan sudah menebal adalah rasa kerelaan menipis. Kita tak rela berbagi dengan orang lain. Jika pun harus (dipaksa) berbagi, kita merasa amat menderita.

Sifat ke-aku-an ini bisa dimiliki siapa saja, tanpa memandang suku, ras, agama, profesi, usia, dan lainnya. Maka jika kita sudah menjadi siswa Buddha, seyogianya sifat ini dikikis, baik secara perlahan ataupun cepat.

Ada berbagai cara untuk mengikisnya. Bisa melalui pemahaman Dharma (teori), maupun dengan perenungan (samadhi) atau juga pengalaman sehari-hari. Masing-masing membutuhkan proses waktu tersendiri. Ada yang cepat, sedang, maupun cepat.

Sesungguhnya banyak hal nyata yang bisa kita jadikan latihan untuk mengikis sifat tidak baik ini. Fitnahan, hinaan, cemohan, dan lainnya, sebenarnya tak selamanya buruk. Kondisi-kondisi ini juga amat jitu untuk mengikis sifat ini. Makanya Buddha sering menasihati agar kita jangan terluka apabila mengalami pengalaman yang tak mengenakkan dalam kehidupan ini. Karena itulah sesungguhnya guru sejati.

Sebuah kisah menarik, pernah dialami seorang biksu muda yang menjumpai Maha Biksu Kuan Ching (1892-1986), seorang maha guru yang terkenal dengan praktik samadhi-nya.

Biksu muda ini mengeluh pada maha guru tentang sifat ke-aku-an dalam dirinya yang sangat besar dan belum bisa hilang. Ia memohon kepada maha guru untuk membantu menghilangkannya.

Akhirnya biksu muda ini diminta tinggal di wihara dimana Biksu Kuan Ching berdiam. Sampai satu ketika, saat kegiatan puja bakti, dimana pengurus dan umat sibuk melakukan tugasnya, tiba-tiba terdengar hardikan keras maha guru kepada biksu muda tersebut. Semua mata melongo karena tak biasanya maha guru marah sedemikian.

Biksu muda yang dimarahi juga begitu kaget dan malu. Sambil berurai air mata, ia meninggalkan lokasi baktisala dan segera berkemas untuk pamit dari wihara.

"Loh, bukannya anda yang meminta saya untuk mengikis ke-aku-an dalam dirimu? Kok hanya dimarahi begitu, sudah mau meninggalkan wihara?" Tanya maha guru sambal terkekeh. Biksu muda kontan merasa malu dan membatalkan niatnya untuk pergi.

Biksu Kuan Ching pernah memberi nasihat bahwa dengan adanya keluhuran hati maka sifat egois akan sirna dengan sendirinya.

"Santaplah makanan yang sederhana, berpakaian yang sepantasnya, rajin dalam bekerja, dan jangan memilih pekerjaan kasar atau halus. Yang penting rajin maka pikiran luhur pun akan timbul… juga menerima apa adanya, tanpa membeda-bedakan." Demikian nasihat beliau yang menjadi amat terkenal sampai saat ini.

Jadi, meski sifat ke-aku-an ini dimiliki semua orang, ingatlah, harus ada tekad untuk melatihnya agar tidak berkembang menjadi sebuah "bom atom". Sebagai siswa Buddha harus tekun berlatih agar sifat ini mengerdil atau bahkan punah. Jika demikian maka kebahagiaan akan hadir dalam kehidupan kita. Sadhu. (d)
T#gs Renungan Buddha DhammaUpasaka Pandita Rudiyanto Tanwijayamimbar agama buddha
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments