Senin, 24 Feb 2020
Banner Menu
Detail Utama 1

Ayo, Bangun dari Khayalan

* Oleh Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya (Pandita Majelis Buddhayana Indonesia Provinsi Sumut)
bantors Sabtu, 19 Oktober 2019 14:04 WIB
Ketika saya masih berusia muda, tepatnya remaja, hidup terasa seolah benar-benar nikmat. Tak pernah terpikirkan hal-hal rumit seperti saat ini. Belum terbersit soal susahnya mencari nafkah, menghidupi keluarga, bertahan dalam dunia pekerjaan, penyakit fisik, dan sebagainya. Yang ada bersenang-senang. Saya masih ingat betul bahwa masa remaja banyak dihabiskan dengan keliling ke berbagai tempat sampai lupa waktu, makan tanpa pantangan, gaya hidup semau kita, dan lainnya. Benar-benar menjadi manusia bebas.

Puluhan tahun berlalu, masa itu sudah berlalu. Saat ini usia sudah bertambah, tanggung jawab juga semakin berat. Maka apa yang sudah kita lalui bagaikan mimpi. Begitu cepat berlalu. Kini kita sudah menghadapi persoalan-persoalan baru, baik persoalan fisik maupun bathin. Keterbatasan tubuh ini mulai terasa. Kita tidak bisa semaunya lagi, kecuali memang mau mencari masalah baru.

Ada seorang rekan sebaya masih merasa kondisinya seperti kala remaja dulu. Bekerja tak kenal waktu, makan tak ada kontrol, maka ia dirundung banyak penyakit fisik yang membuat geraknya kemudian terbatas. Memprihatinkan sekali.

Ada sebuah tulisan bagus dari seorang Guru Besar Zen, Maha Biksu Sheng-Yen (1931-2009, ketika membabarkan Dharma mengulas ulang tulisan seorang praktisi Zen terkenal masa Dinasti Tang, Yang Mulia Acarya Yung-chia Hsuan Chueh (618-907) yang pernah melahirkan karya risalah terkenal yang berjudul "Senandung Pencerahan".

Master Sheng-Yen menjelaskan bagi orang yang tidak memiliki kesadaran diri maka hidup ini bagaikan mimpi panjang. Orang yang sedang bermimpi terombang-ambing dengan impiannya sendiri. Kadang ada mimpi yang indah, kadang muncul pula mimpi yang tidak mengenakkan. Namun apa pun mimpi, satu saat kita harus bangun. Nah ketika kita bangun, maka apa pun dalam impian itu lenyap, dan kita masuk dalam sebuah realitas.

Nah, tujuan kita sebagai siswa Buddha yang berlatih adalah untuk sesegera mungkin bangun dari segala impian panjang kita selama ini. Semakin intens latihan kita maka semakin cepat kita terbebas dari impian yang membuai kita.

Mimpi panjang membuat kita terjebak dalam bayang semu. Seperti pengalaman saya tadi. Saya mengira fisik ini selamanya kokoh tak tergoyahkan. Maka saya terbuai untuk tidak menghargainya. Maka ketika penyakit datang, yang ada perasaan terkejut. Dulu saya beranggapan hidup ini hanya sebuah kenikmatan dan senang-senang belaka. Waktu berproses dan kita menjadi dewasa, maka kita baru tahu hidup ini membutuhkan perjuangan untuk bertahan.

Jadi jika diinventarisir, mungkin ada lusinan, puluhan, ratusan bahkan ribuan hingga jutaan mimpi-mimpi yang menjebak diri kita sejak lahir hingga saat ini. Jika kita tak segera bangun dari semua ini, maka tali kebodohan, keserakahan dan kebencian akan semakin menebal. Kita terjerat makin kuat.

Orang yang sudah bangun maka bathinnya akan tercerahkan. Mungkin secara kasat mata dia tidak berbeda dengan yang belum tercerahkan, maka kita jangan suka membandingkan, karena itu artinya kita masih terjebak dalam mimpi kita sendiri.

Ini sama artinya dengan dua orang yang sedang makan. Yang satu makan tanpa terkontrol. Ia memakan apa pun tanpa peduli bahwa yang dimakannya sesungguhnya merupakan pantangan untuk kesehatan fisiknya. Inilah orang yang masih dalam mimpinya.
Sementara yang satu lagi makan, namun ia tahu porsinya, apa yang layak dimakan dan apa yang tidak baik dimakan untuk dirinya.
Inilah orang yang sudah sadar dari mimpinya. Nah ada lagi satu lagi, yang melihat keduanya sedang makan. Jika yang melihat ini belum tersadarkan, ia dengan mudah mengatakan keduanya tak berbeda, karena sama-sama makan.

Untuk kondisi ini, Master Sheng-Yen pernah mengambil kisah tentang Guru Besar Zen, Maha Biksu Baizhang (720-814). Biksu Baizhang memiliki seorang siswa bernama Huang-po, yang memang sudah tercerahkan. Suatu kali Huang-po sedang dalam posisi tidur di ruang meditasi. Ketika Biksu Baizhang membangunkannya, Huang-po hanya membuka mata lalu tidur kembali.

Biksu Baizhang kemudian beralih ke siswanya yang lain, yang sedang meditasi. Ia lalu memukul muridnya yang bermeditasi itu dengan papan dupa.

"Kalian memang tidak berguna, kerjanya cuma mendengkur saja. Coba lihat Huang-po, begitu kerasnya latihan!"

Bagi yang tidak mengerti tentu mengira Biksu Baizhang tidak adil. Namun sebagai yang tercerahkan, ia tahu mana yang benar-benar sadar mana yang terlihat sadar namun belum.

Demikianlah hidup ini. Karena kebanyakan kita sedang bermimpi, maka sering kali kita tak tahu lagi mana yang semu dan mana yang realitas. Semuanya campur aduk dan membingungkan. Betapa menderitanya.

Maka, ayo segera berlatih agar kita semua terbangun dari mimpi panjang ini ! (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments