Selasa, 22 Okt 2019

Antri Yuk

* Oleh : Mina Wongso
Sabtu, 13 Agustus 2016 17:31 WIB
Vinayo ca susikkhito, eta?ma?galamuttama?
Terlatih baik dalam tata susila, itulah berkah utama
Maha Manggala Sutta - Buddha

Kemacetan lalu lintas merupakan permasalahan global yang melanda kota- kota metropolitan di berbagai penjuru dunia. Di Bangkok, ibukota Thailand, lalu lintas bisa berhenti total  sampai berjam jam seperti halnya di Jakarta. Medan sebagai calon kota metropolitan sudah mulai mengikuti jejak dari kota kota tersebut dalam hal kemacetan lalu lintasnya.

Kalau Jakarta macet karena jumlah jalan sudah tidak memadai untuk jumlah kendaraan yang ada, kota Medan sering macet karena perilaku berkendara dari orang-orangnya yang seenak perut, mau menang sendiri serta kurang menaati aturan lalu lintas yang ada. Berada di jalan pada saat pagi dan sore hari ketika orang - orang berangkat dan pulang dari kerja atau aktivitas lainnya merupakan satu ujian tersendiri bagi kesehatan mental orang Medan. Perilaku jadi orang tersibuk di dunia ini ditunjukkan dengan suara klakson membahana meskipun lampu lalu lintas masih jelas-jelas merah, atau baru saja hijau. Seolah-olah tidak boleh dihalangi barang sedetik pun atau dia akan dilanda kerugian besar.

Ada yang memberlakukan lampu lalu lintas bagaikan lampu hias sehingga tidak peduli apapun warnanya kita boleh jalan terus. Klakson, menerobos lampu merah, salip kiri-salip kanan, apa saja dilakukan agar dapat mendahului orang yang di depan, seolah-olah terlambat sedikit saja maka nyawa menjadi taruhannya.
Dibandingkan dengan tetangga kita Bangkok yang kemacetannya bisa sampai dua jam, tetapi di sana semua orang tertib menunggu dengan sabar tanpa bunyi klakson sama sekali.

Tidak dipungkiri, pada jam-jam sibuk, hampir semua orang yang ada di jalan raya itu memiliki kepentingan, ada yang tidak boleh terlambat kerja karena bisa dapat sanksi peringatan, ada yang mengejar anak bisa masuk sekolah tepat waktu, ada juga yang kejar setoran pendapatan, namun siapa yang bisa mengukur kepentingan siapa yang lebih penting sehingga  dia  lah yang harus didahulukan dibandingkan orang lain. Jika seseorang merasa dia punya kepentingan untuk tiba lebih cepat, maka sebaiknya dia mengatur sendiri waktu berangkatnya sehingga dapat sampai di tempat tujuan sesuai waktu, dengan memperhitungkan resiko kemacetan yang akan dihadapi.  

Lalu lintas tidak tertib ini terjadi karena memang budaya antri tidak dibiasakan di Medan. Orang cenderung menyerobot ketika ada kesempatan, baik ketika antri di toilet umum, di supermarket, ataupun  kasir. Tidak hanya itu, orangtua juga sering kita lihat membantu anak-anaknya menyerobot ketika antri dalam permainan.
Seolah-olah sepele, tapi dengan membantu anak menyerobot giliran anak lain saat antri berarti sudah ditanamkan budaya tersebut sejak muda. Tidak heran kekacauan dalam antrian lalu lintas berlangsung makin hari makin parah.

Antri adalah satu kebiasaan yang kecil. Tapi membiasakan antri butuh waktu belasan tahun sehingga terbentuk menjadi karakter dan akhirnya menjadi budaya.
Dunia tercengang kagum ketika melihat masyarakat Jepang di tengah kekacauan tsunami sedang  melanda, masih tetap antri dengan rapi dan tertib untuk mengungsi. Mereka mendahulukan anak kecil, orangtua, perempuan dan tidak terlihat satu orang pun yang tidak sabar menyerobot barisan, meskipun dengan resiko kehilangan nyawa mengancam.

Antri berhubungan dengan pengendalian diri, ketika kita ingin cepat namun harus mendahulukan orang lain. Buddha Gautama dalam berbagai kesempatan selalu menekankan akan pentingnya pengendalian diri pada siswa siswanya. "Orang bijaksana mengendalikan perbuatan melalui badan jasmani, mereka juga mengendalikan perbuatan melalui ucapan, mereka juga mengendalikan pikiran dengan baik, mereka yang menjaga dengan baik ketiga pintu, badan jasmani, ucapan dan pikiran, benar-benar telah mengendalikan diri dengan sepenuhnya". Ketika pikiran dikendalikan, maka semua indra menjadi terkendali.

Pelaksanaan Sila, latihan meditasi, semuanya merupakan cara bagus untuk berlatih pikiran sesuai dengan ajaran Buddha, namun manfaat dari latihan baru dapat dirasakan ketika sudah dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, muncul dalam bentuk tingkah laku yang terjaga, santun, dan penuh kerendahan hati dalam tiap kesempatan, bukan hanya ketika berada di dalam vihara.  Fungsi sebuah agama adalah untuk menjadikan individu sebagai pribadi yang lebih baik.

Ada kutipan menarik dari cerita percakapan seorang guru Australia tentang kebiasaan antri yang sudah menyebar di website, facebook, maupun milis. Ketika ditanya mengapa mereka lebih mementingkan untuk mendidik anak antri daripada bisa matematika, maka guru menjelaskan tentang manfaat dari mengantri  sebagai berikut :

- Anak belajar manajemen waktu, jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal. 

- Anak belajar bersabar menunggu gilirannya, tiba terutama jika ia di antrian paling belakang. 

- Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting. 

- Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.

- Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (Di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri).

- Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

- Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

- Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang. 

- Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

- Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain. 

- Anak belajar bekerjasama dengan orang-orang yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

- Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

- Anak belajar empati, ketika melihat orang lain yang terasa lebih memerlukan dan merelakan antriannya untuk orang lain.

Percayakah anda, ketika semua orang mulai membiasakan diri pada satu kebiasaan yang kecil ini, maka lambat laun, karakter yang baik dalam masyarakat akan terbentuk. (f)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments