Jumat, 21 Feb 2020

Buddha Dhamma

Renung Kehidupan

Oleh Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo
Redaksisib Sabtu, 08 Februari 2020 14:58 WIB
sepositif

Ilustrasi

Sang Buddha menjelang Parinibbana mengingatkan kepada kita untuk selalu berjuang dengan sungguh-sungguh karena kehidupan di dunia ini tidak kekal. Memahami bahwa waktu adalah seumur nafas, tiada siapapun yang tahu kapan nafas seseorang akan terhenti. Tiada seorang pun yang bisa memperhitungkan kapan kehidupan kita akan berakhir.

Merenung kehidupan Sang Buddha, beliau adalah seorang guru yang pandai dalam mengatur waktu dan menunjukkan kepada kita semua bahwa waktu itu sangat berharga. Beliau tidak menyia-nyiakan waktunya. Waktu demi waktu dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan pribadi, anggota Sangha, upasaka dan makhluk lainnya. Pada akhirnya perjalanan waktu menjadi sejarah di kemudian hari. Manfaatkan waktu dengan baik, jangan buat catatan sejarah yang rusak, perbanyaklah kebajikan untuk membuat catatan sejarah yang berkualitas, sehingga bisa memberi inspirasi banyak orang. Tidak ada toko manapun yang menjual waktu kita yang telah lewat.

Hanya dengan menghargai waktu maka kita mempunyai banyak kesempatan untuk terus memperkaya diri menjadi orang yang lebih baik dan sukses. Dengan mengatur waktu yang baik sedemikian rupa akan melancarkan kegiatan dan pekerjaan kita menjadi maksimal dan tidak terbuang sia-sia. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Kesempatan untuk menjadi seorang yang berhasil dan meraih kehidupan yang lebih baik dan berkualitas tergantung kemauan dan usaha diri sendiri. Apapun hasil yang kita peroleh berpulang pada usaha, keuletan dan semangat kita. Hukum sebab akibat (Paticca Samuphada) menjadi jalan yang jelas bagi kita, setiap individu yang bisa mengatur waktu dan memaksimalkan aktivitasnya dengan perbuatan baik (Kusala Karma) memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi orang yang sukses dan berkualitas sebagai hasil perbuatan baiknya.

Renungkanlah perbuatan baik apa yang telah kita lakukan hari ini? Satu jam yang lalu? Berapa banyak kebajikan yang bisa kita lakukan dalam kurun waktu tersebut? Dan berapa banyak pula kejahatan yang dapat kita hindari? Kita telah tenggelam jauh ke dalam kompleksnya aktivitas sehari hari dengan melupakan hal-hal penting yang perlu kita lakukan untuk memanfaatkan waktu. Waktu adalah kesempatan, janganlah kita menyia-nyiakan kesempatan untuk membawa bekal melalui perbuatan baik kita karena kesempatan tak pernah datang lagi.

Perbaikan diri menjadi kebutuhan setiap manusia agar cita-cita untuk menjadi orang baik akan menjadi sebuah kenyataan. Hargailah waktu jika ingin menjadi lebih baik. Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya jika ingin menjadi orang sukses dan berkualitas. Jika kita terus saja beralasan tidak memiliki waktu karena terlalu banyak kesibukan maka kita juga akan kehilangan banyak kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika gagal menghargai waktu maka kehidupan kita akan menjadi sia-sia. Kepentingan batin seringkali terlantar dan tersisih oleh aktivitas lainnya yang lebih bersifat duniawi yang tidak pernah terpuaskan. Berusahalah untuk menghargai waktu karena waktu memang sangat berharga. Seseorang yang sukses secara duniawi maupun sukses secara batin adalah orang-orang yang bisa mengatur waktu dengan baik. Waktu demi waktu terus berlalu, kehidupan kita berkurang sebanyak itu. Oleh karena itu lakukan hal yang produktif dalam kebajikan kehidupan.

Yang pasti semua yang hidup berujung pada kematian. Waktu demi waktu kehidupan terus berputar, tiada yang abadi, kadang menit yang lalu dilalui dengan manis, ada pula menit yang dilalui dengan pahit. Kita sebagai manusia hanyalah pengendara di atas punggung umur kita. Nafas kita terus berjalan seiring perjalanan waktu, setia menuntun kita menuju pintu kematian. Pada dasarnya, dunialah yang semakin kita jauhi dan sebaliknya liang kuburlah yang makin kita dekati secara tidak sadar.

Kita jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat untuk kematian tidaklah harus menjadi tua. Demikian juga jangan terperdaya dengan badan sehat, karena syarat untuk kematian tidak pula karena sakit. Berjuanglah sungguh-sungguh dalam menjalankan kebenaran Buddha Dharma, ibarat bercocok tanam percayalah kebaikan dan kebajikan yang kita lakukan, akan menuntun kita pada kebahagiaan. (q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments