Senin, 21 Okt 2019

Pegangan Hidup yang Benar

Oleh: Khemanando Bhikkhu
Sabtu, 31 Mei 2014 12:01 WIB
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Dewasa ini amatlah banyak yang kita temui kasus-kasus orang yang mengalami goncangan batin, tekanan batin atau dalam bahasa populernya disebut Stress/depressi. Banyaknya saudara-saudara  kita caleg yang tidak bisa mencapai target yang diinginkan sehingga membuat mereka jatuh. Hingga hilangnya keyakinan pada diri sendiri, kepribadian hidup dan pegangan hidupnya, yang menyebabkan batin mereka semakin menderita. Problem semacam ini sekarang banyak kita jumpai di masyarakat, keluarga maupun dalam diri pribadi seseorang. Wajib bagi mereka, yang mengalami goncangan batin ini, harus mencari solusi agar problem itu tidak semakin parah. Apabila dibiarkan begitu saja tanpa mencari solusi yang tepat, maka problem itu akan menyebabkan mereka menjadi gila. Apabila sudah demikian, sulit bagi kita untuk menyembuhkannya.

Kondisi ini sangat disayangkan, namun kebanyakan orang, yang sedang mengalami problem ini kadang-kadang mencari jalan keluar yang kurang tepat. Mereka berharap dapat menemukan jalan keluar pada :1) Diri orang lain, misalnya; Ayah, Ibu, atupun keluarga, 2) Harta benda, kekayaan, 3) Kekuasaan, pangkat, 4) Organisasi, 5) Makanan, minuman termasuk minuman keras, obat-obatan terlarang dan lainnya.

Sudah tepatkah mereka bersandar pada kondisi itu? Sudah benarkah pegangan yang mereka cari untuk membahagiakan batin mereka yang sedang kacau dan menderita? Semua itu adalah tempat yang kurang aman dan kurang tepat, mengapa demikian? Karena di dalam diri orang lain maupun benda-benda, pangkat ataupun makanan dan minuman tidak bisa menjadi pegangan yang sesungguhnya. Batin semua orang sebenarnya sama, hanya terdiri dari getaran-getaran dari pikiran, ingatan, perasaan dan kesadaran. Misalnya orang tua kita sendiri, yang pikirannya selalu berubah dan perasaannya tidak selalu tetap. Kadang kalau mereka sedang marah, mereka tidak ingat lagi kepada kita (anak). Apa yang telah diberikan terasa hilang di saat syndrome itu muncul. Orang tua kita selalu mengasihi, melindungi, membimbing dan menyayangi kita, tetapi ketika mereka marah, mereka tidak segan-segan membentak kita, memarahi kita, menendang, mengabaikan dan bahkan mengusir kita.

Dengan demikian, di dalam diri orang lain tidak dapat kita temukan pegangan yang kokoh atu kuat untuk kita. Lalu, jika demikian, dimanakah sebenarnya tempat yang bisa menjadi pegangan dan sandaran kita yang aman? Terutama bagi kita yang sedang mengalami problem yang berat, ada tiga macam tempat sandaran yang kokoh dan tidak berubah, bagi mereka yang mengalami goncangan-goncangan tersebut, yaitu;

1.    SILA    : Perilaku yang baik atau Moralitas. Usahakan untuk bisa menerapkan sandaran ini dalam kehidupan kita. Kondisi ini yang menjadikan hidup kita bebas dari kesalahan-kesalahan yang bisa dicela maupun dibenci orang lain dan suatu saat bisa menyakiti dan mencelakakan diri sendiri. Seperti ucapan (berbohong, omong kosong, berdusta), perbuatan (pencurian, pembunuhan, berzinah) dan mata pencaharian  (mengeluarkan kata-kata kasar, tidak menjual belikan barang  yang tidak benar secara hukum).

2.    SAMADHI: Ketenangan pikiran/ batin dan memiliki perhatian yang prima. Usahakan untuk selalu sadar akan semua tindakan kita seperti usaha (berusaha menimbulkan hal-hal yang baik, berusaha melenyapkan hal-hal yang jelek), perhatian (tidak lalai atau lengah) dan konsentrasi (pikiran menyatu kearah yang benar dan tenang).

3.   PANNA: Kebijaksanaan

Pengertian benar (wawasan/ perhatian) dan  memiliki pikiran yang benar.

Artinya, kita tahu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, yang bermanfaat dan tidak, yang terpuji atau tidak serta mempunyai pikiran yang mampu melepas ikatan, baik terhadap kesenangan, kebencian, keuntungan maupun kerugian. Hanya pada tiga sandaran itulah, (Sila, Samadhi dan Panna), seseorang akan dapat menemukan pegangan hidup atau sandaran hidup yang benar, kuat, kokoh dan tidak akan berubah. Dari ketiga faktor inilah kita dapat simpulkan bahwa :

SILA : Dapat dipakai atau diaplikasikan sebagai alat untuk mencegah penderitaan batin seperti stress, goncangan atau kekacauan batin. Dengan melaksanakan sila, seseorang akan terhindar dari kemungkinan timbulnya penderitaan batin.

SAMADHI : Dapat diaplikasikan untuk mengatasi timbulnya suatu penderitaan yang sedang dialami. Dengan mengembangkan Samadhi, seseorang juga akan merasa tenang dan nyaman serta merasakan kebahagiaan baik jasmani maupun batin, dengan syarat menjalankan Samadhi dengan benar.

PANNA : Dapat diaplikasikan sebagai alat untuk menyembuhkan atau mengobati penderitaan batin, stress yang berkepanjangan.

Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitata, Semoga semua makluk berbahagia. (r)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments