Jumat, 18 Okt 2019

Memaafkan, Moment yang Indah

Oleh : Bhikkhu Khemanando Thera
Sabtu, 07 Juni 2014 11:56 WIB
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa,
"Akkocchi mam avadhi mam Ajini mam ahasi me ye ca tam upanayanti veram tesam na sammati; Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya. Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir" Dpd. Yamaka Vagga I : 4"

Salah satu penyebab penderitaan di dunia adalah ketidakmauan kita untuk memaafkan orang lain. Ketidakmauan memaafkan adalah penyakit berbahaya yang menggerogoti kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia berjalan tak sesuai dengan kemauan kita. Kita sering menuntut orang lain. Kita sering menuntut supaya jalan-jalan diberi karpet untuk keselamatan kita tetapi orang bijak akan selalu pakai sepatu tebal agar ia selamat dari paku, kerikil, bahkan panasnya aspal tersebut. Kadang-kadang kita marah karena pasangan, anak, orang tua, atasan, bawahan, dan rekan kerja, tak melakukan apa yang kita inginkan. Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun-tahun dan lebih parah lagi disimpan sampai tujuh keturunan. Di dalam Abhidhamma dituturkan bahwa satu jentikan menciptakan miliaran kesadaran bahkan triliunan kesadaran.

Begitu pula dengan pikiran kita sekali berpikir akan berentetan miliaran kesadaran bahkan triliunan kesadaran; tergantung pikiran baik atau pikiran buruk. Memang banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor yang memaki kita, mobil yang menyalib dan hampir membuat kita celaka, rekan-rekan yang tak mau mendengar kita, politisi yang hanya memperjuangkan diri sendiri, adik yang sering minta bantuan tapi tak pernah mengucapkan terima kasih, pembantu yang membohongi kita, maupun bos yang pelitnya luar biasa. Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. Tapi kita lupa bahwa kebencian yang kita simpan hanyalah merugikan kita sendiri. Dalam dhammapada dikatakan bahwa kebencian tidak akan berakhir jika dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan berakhir jika dibalas dengan cinta kasih. Mempraktekkan cinta kasih adalah bentuk refleksi dari internal religion kita. Semakin orang mengerti tentang nilai-nilai Agama semakin pula dirinya jauh dari hal-hal yang merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sudah menjadi watak manusia, tatkala hatinya disakiti, dia akan merasa sakit hati dan boleh jadi berujung dengan dendam. Walaupun demikian, bukan berarti kita harus dendam setiap kali ada yang menyakiti. Malah sebaliknya, jika kita dicela, maka doakanlah orang-orang yang mencela itu agar mereka sadar dan menjadi orang lebih baik dengan mengucapkan SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATTA (semoga semua makhluk berbahagia). Mampukah kita melakukannya? Orang-orang bijaksana adalah sosok yang hatinya bersih dari sifat dendam. Walau ia dihina, dicaci-maki, difitnah, bahkan hendak dibunuh, tak sedikit pun ia mendendam. Bahkan, ia mati-matian berbuat baik kepada orang-orang tersebut dan begitu ringannya ia memaafkan. Penelitian menunjukkan ketidakrelaan memaafkan orang lain memiliki dampak hebat terhadap tubuh kita: menciptakan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem kekebalan, meningkatkan tekanan jantung, otak dan setiap organ dalam tubuh kita. Kemarahan yang terpendam mengakibatkan berbagai penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi, kurang energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia sehingga diri kita semakin jauh dari Dhamma itu sendiri.

Baru-baru ini saya sempat berinteraksi dengan sekelompok mada-mudi yang mengeluhkan perasaan tertekan dan tak bahagia. Ternyata, kebanyakan dari mereka memendam berbagai kemarahan, baik kepada orang tua maupun orang-orang di sekitar mereka termasuk pacar mereka dan itulah yang menciptakan sebuah sindrom masa kini yaitu Galau Syndrome. Musuh kita sebenarnya bukanlah orang yang membenci kita tetapi pola pikir jelek kita lah sebagai musuh kita, yang harus diubah. Ada cerita mengenai seorang teman bekas teman sekolah SMA dulu. Sambil mengobrol saya bertanya, "Apakah kamu sudah melupakan pacar kamu waktu SMA dulu?" Jawabnya, "Belum bisa." Saya kemudian berkata, "Kenapa belum? Kan sudah bertahun-tahun. "Dia tertawa kecil dan berkata, "Karena aku sangat membencinya bahkan kalau ingat sepertinya saya sangat muak kepadanya". Saya lalu bilang, "Kalau begitu, kamu masih memenjara diri kamu." Lalu dia termenung dan menganggukkan kepalanya.

Kita harus terus berlatih untuk mengikis sifat dendam tersebut. Jika seseorang masih berpikir," Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya; maka kebencian tidak akan berakhir. Sebaliknya jika seseorang tanpa berpikir, ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya; maka ia akan bahagia, kebencianpun akan berakhir. Sebagai ilustrasi, kita bisa belajar dari para karateka yang berhasil menghancurkan batubata dengan tangannya. Pertama kali memukulnya, bata tersebut tidak langsung hancur. Tapi, dia tak patah semangat. Diulanginya terus usaha untuk menghancurkan bata tersebut. Akhirnya, pada pukulan kesekian, pada hari kesekian, bata tersebut berhasil dihancurkan. Memang, tangannya bengkak-bengkak, tetapi dia mendapatkan hasil yang diinginkan. Begitu pula dengan hati. Jika hati dibiarkan sensitif, maka hati ini akan mudah sekali terluka. Akan tetapi, jika hati sering dilatih, maka hati kita akan semakin siap menghadapi pukulan dari berbagai arah. Jika kita telah disakiti seseorang, kita jangan melihat orang tersebut, tetapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan ladang amal kebajikan. Kita akan semakin sakit, tatkala melihat dan mengingat orangnya.

Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara pandang kita. Sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan di luar. Karena itu jangan terlalu memusingkan perilaku orang lain. Sebaliknya, belajarlah memaafkan. Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktahuan orang lain. Banyak orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Kalaupun mereka sengaja melakukannya, itupun karena mereka sebenarnya tak tahu. Mereka tak tahu bahwa kejahatan bukanlah untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri. Orang yang suka memaki dan bersikap kasar, meluapkan emosi, kemarahan, sebenarnya ia tak menyadari bahwa mereka sedang menciptakan penderitaan bagi dirinya sendiri. Suatu ketika ia akan kena batunya, Inilah konsekuensi logis dari hukum sebab-akibat. Ada sebab pasti ada akibat. (d)



Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments