Selasa, 22 Okt 2019

Budak Keserakahan

Oleh: Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo ST., MM
Sabtu, 10 Mei 2014 13:29 WIB
Demikian telah dikatakan oleh Sang Buddha ...
"Wahai para bhikkhu, ada tiga akar kejahatan."
"Apakah tiga akar itu?"
"Akar kejahatan keserakahan (lobha), akar kejahatan kebencian (dosa), dan akar kejahatan kebodohan batin (moha).
Itulah ketiganya."

Keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang muncul dari dalam dirinya, akan merugikan orang yang berpikiran jahat, seperti buah bambu menghancurkan tumbuhnya pohon itu sendiri. (Itivuttaka 3.1; Khunddaka Nikaya).

Kita tentunya setuju kejadian yang menonjol dari waktu ke waktu, tidak lain adalah perampokan, pemerkosaan, korupsi, peperangan, kemerosotan moral, kekerasan, resesi ekonomi dunia, terorisme, banjir bandang, kekeringan dan bencana alam lainnya. Jika ditarik hingga ke intinya, salah satu akar utama kejahatan tersebut adalah keserakahan manusia terhadap orang lain dan lingkungannya.

Demi untuk mendapatkankan harta dan kekuasaan sebanyak banyaknya, banyak di antara kita yang tak segan-segan menggunakan cara yang buruk. Kita cenderung ingin  menguasai sesuatu yang bukan hak kita walau kadang belum tentu dibutuhkan, termasuk sesuatu yang  sifatnya hanya sekedar pelengkap saja dan bukan pokok.  Bahkan tidak sedikit yang memanfaatkan kekuasaannya dengan menciptakan kebijakan yang menguntungkan diri sendiri/ kelompoknya, menguras uang rakyat/ anggotanya, mencuri uang organisasi, menguasai sumber daya yang ada secara berlebihan maupun menciptakan konspirasi yang merugikan orang banyak. Lebih buruk lagi, saat ini terjadi kecenderungan makin meningkatnya paham yang menyatakan bahwa yang utama dalam menjalani kehidupan ini adalah kesenangan belaka tanpa memperdulikan norma susila dan etika serta tanpa memandang bagaimana cara menjalaninya.

Dalam satu cerita "Prisonner of Sinful Desires" oleh Burns dan McKinnon, disebutkan seorang bangsawan abad ke 14 Raynald III  ditangkap dan dipenjarakan adiknya dalam satu sel khusus tanpa kunci namun pintunya sengaja dibuat kecil agar tubuh Raynald III yang gemuk tidak dapat keluar. Walaupun ada harapan bagi dirinya untuk bebas dan mendapatkan kembali kekuasaan dan kekayaannya hanya dengan menurunkan berat badannya, Raynald tidak pernah berhasil. Raynald sangat suka makan melebihi segala sesuatu di dunia. Setiap hari, sang adik mengirimi berbagai makanan lezat kepadanya. Sang kakak tidak bertambah kurus. Sebaliknya, dia semakin gemuk. Raynald III bukan dipenjara oleh sel terkunci, melainkan keserakahan sendiri.

Dalam ajarannya, Sang Buddha mengungkapkan bahwa Lobha merupakan kemelekatan yang berlebihan terhadap sesuatu yang dapat membuat pikiran selalu merasa tidak pernah terpuaskan, lapar dan  serakah. Keinginan terhadap suatu hal yang terus menerus dan ingin lebih dan lebih dari waktu ke waktu inilah yang disebut Lobha. Namun tentunya, kemauan untuk mencapai Nibbana, kemauan untuk mendapatkan Dhamma, kemauan untuk dapat menjadi terpelajar, kemauan untuk menjadi kaya agar bisa berderma bagi kaum papa, bukanlah dapat disebut sebagai lobha. Contoh-contoh demikian lebih tepat dinamakan Chanda (kemauan). (r)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments