Senin, 13 Jul 2020

Renungan Buddha Dhamma

BEBAS DARI KETAKUTAN

Oleh Upasaka Pandita RudiyantoTanwijaya
redaksisib Sabtu, 04 April 2020 12:04 WIB
winnetnews.com

Ilustrasi

Sesungguhnya, bila kita sudah menjalankan praktik Dharma, maka baik kegelisahan ataupun ketakutan akan sirna. Dalam "Brahma vihara pharana" secara jelas disebutkan bahwa:
Semoga semua makhluk
Memiliki karmanya sendiri
Mewarisi karmanya sendiri
Lahir dari karmanya sendiri
Berhubungan dengan karmanya sendiri
Terlindung oleh karmanya sendiri
Apapun karma yang diperbuatnya, baik atau buruk
Itulah yang akan diwarisinya ..

Bila kita merenungkan syair tersebut, sungguh betapa dalamnya. Apapun yang kita alami saat ini, tak lepas dari hasil perbuatan kita sebelumnya. Jika kita memang berbuat baik, maka akan baiklah hasilnya. Sebaliknya, jika buruk, maka akan tidak baik pula hasilnya. Ini sudah dinyatakan secara tegas oleh Buddha sendiri, Guru junjungan kita semuanya.

Jika sudah demikian, apa yang mesti kita khawatirkan? Mengapa harus membebani pikiran ini dengan aneka macam hal yang sebenarnya belum terjadi? Ini sama saja meracuni kehidupan kita sendiri.

Kita boleh meneladani apa yang pernah dialami oleh seorang biksu besar, Maha Upajaya Kuan Ching (1892-1986), yang merupakan legenda hidup yang pernah terlahir di muka bumi ini.

Dalam salah satu kisah hidupnya, Biksu Kuan Ching menjalani latihan dirinya dengan mendiami sebuah gua yang terletak di Pegunungan Ching Yuan, Tiongkok, yang dikenal sebagai gunung yang jauh dari perkampungan masyarakat. Gunung ini juga dikenal sebagai tempat yang banyak dihuni oleh satwa liar dan buas, salah satunya adalah harimau.

Di gua inilah Biksu Kuan Ching memulai latihan untuk menajamkan kemampuannya dalam bermeditasi, dengan hanya bermodalkan sedikit pakaian dan bekal makanan. Saking jauhnya perjalanan, Biksu Kuan Ching berangkat, masih dengan berjalan kaki, pada waktu subuh dan baru tiba sore harinya di lokasi latih dirinya.

Sampai satu ketika, saat ia bermeditasi dalam gua yang cukup gelap, Biksu Kuan Ching mendengar suara hela nafas yang berat serta bau amis yang menusuk hidung. Penasaran, Biksu Kuan Ching membuka mata. Alangkah terkejutnya, bahwa yang berada di hadapannya adalah seekor harimau besar, dengan mata yang menyala-nyala, siap menerkam.

Awalnya, Biksu Kuan Ching merasa kecut melihat hewan buas itu. Namun segera ia menenangkan diri. Ia merenungkan ajaran Buddha, bahwa apa pun yang dialami adalah hasil perbuatan masa silam.

Setelah hilang rasa panik, Biksu Kuan Ching menatap harimau itu, lalu berkata dengan lembut, "Jika pada kehidupan lampau, saya pernah berhutang karma padamu, maka saya siap menerimanya, agar hutang karma ini dapat lunas. Namun jika tidak, maka yang terjadi adalah pembalasan yang tiada hentinya… Harimau, kamu jangan marah kepada saya. Saya hanya meminjam gua ini untuk melatih diri. Jika satu saat saya berhasil, maka saya akan menolongmu…"

Mendengar perkataan Biksu Kuan Ching, mendadak harimau itu menjadi diam, lalu keluar dari gua. Binatang buas itu kemudian berbaring di depan gua seolah menjaga gua tersebut. Bahkan tak lama kemudian, harimau itu juga membawa anak-anaknya, dan bermain di depan gua. Mereka menjadi jinak dan akrab dengan biksu tersebut.

Kejadian itu membuat keyakinan Biksu Kuan Ching kepada Tri Ratna semakin kokoh. Bahkan harimau dan anak-anaknya tersebut dibimbing untuk berlindung pula kepada Tri Ratna, sambil sesekali beliau memberikan ceramah Dharma kepada mereka.
Pernah satu kejadian, ketika sekelompok penduduk melewati gua tempat lokasi pertapaan Biksu Kuan Ching, harimau-harimau menghadang mereka, sehingga penduduk tersebut menjadi ketakutan.

Biksu Kuan Ching yang mendengar kegaduhan, segera keluar dari gua dan melihat harimau-harimau sudah mengepung sejumlah orang.

"Tolong jangan ganggu orang ini. Lihatlah, akibat karma buruk kalian masa silam, wajah kalian telah membuat orang-orang takut kepada kalian. Pergilah !" Perintah Biksu Kuan Ching dengan suara berwibawa kepada harimau-harimau itu yang langsung pergi. Dan penduduk merasa kagum sehingga kemudian juga memohon pembelajaran Dharma dari Biksu Kuan Ching.

Kisah ini merupakan kisah nyata yang begitu menginspirasi umat Buddha sampai saat ini. Bahwa sebuah kondisi terjadi karena adanya sebab. Tanpa sebab, maka kondisi itu tidak mungkin terwujud. Inilah hukum sebab akibat yang berlaku universal.
Oleh sebab itu, sebagai Buddhis, kita harus selalu waspada namun jangan terlalu mengkhawatirkan segala sesuatu yang belum terjadi. Sebab inilah yang akan menjadi racun bagi batin kita.

Rasa kekhawatiran yang berlebihan membuat kita menjadi terbatas dalam menggunakan kemampuan kita. Sehingga alih-alih berkembang, batin kita menjadi kerdil dan ini sama saja dengan menyia-nyiakan kesempatan berharga hidup sebagai manusia.
Sebagai siswa Buddha, kita harus percaya dan yakin dengan apa yang diajarkan oleh Buddha, bahwa apapun karma yang diperbuatnya, baik atau pun buruk, itulah yang pasti akan kita warisi. Sungguh jelas dan tegas. (f)
T#gs KETAKUTANRenungan Buddha DhammaUpasaka Pandita RudiyantoTanwijaya
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments