Jumat, 18 Okt 2019

Waspada Pada Kegelapan Batin

Oleh Upa Madyamilo Gunarko Hartoyo ST., MM
Sabtu, 03 Mei 2014 18:51 WIB
Kegelapan batin menjadi salah satu masalah dalam kehidupan ini yang sering sekali tidak disadari sebagian besar manusia. Kalaupun ada orang yang menyadari kegelapan batin yang ada di dalam dirinya, umumnya mereka juga pura-pura tidak tahu. Kegelapan batin dapat muncul dalam diri seseorang dalam berbagai bentuk pikiran negatif antara lain keserakahan, dendam, kebencian, kemarahan, iri hati, egois, dan bentuk lainnya. Dikarenakan berbagai bentuk kegelapan bathin tersebut, muncullah berbagai tindak kejahatan, pandangan yang salah tentang kehidupan, serta berbagai bentuk perbuatan negatif lainnya yang cenderung merugikan diri sendiri dan orang lain.

Tanpa kita sadari sumber dari semua masalah dalam kehidupan di atas  dikarenakan adanya kegelapan batin. Kegelapan bathin menjadikan diri kita  tidak memiliki cahaya terang dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Kegelapan batin ini menjadikan manusia tidak dapat membedakan lagi  mana pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan berguna, juga mana yang tidak baik dan merugikan. Kegelapan batin ini membutakan banyak orang dari kebaikan dan lalu menganggap kejahatan sebagai sebuah hal yang lazim. Sebagai bentuk nyata yang sering diperbincangkan saat ini, korupsi merupakan salah satu hal yang menunjukkan bagaimana oknum pejabat - pejabat di negeri ini sudah gelap bathinnya. Mereka membenarkan tindakannya dengan berbagai alasan yang tidak dapat dibenarkan walaupun menjadi sorotan dan cacian makian masyarakat. 

Dikarenakan kegelapan batin, seseorang menjadi terobsesi bernafsu mendapat kenikmatan yang lebih banyak dan mudah sekalipun harus diraih dengan cara yang merugikan bahkan bila perlu menghancurkan hidup orang lain. Pikiran yang kurang terang karena kegelapan bathin, mengakibatkan pandangan yang salah. Seseorang melakukan tindak kejahatan secara tidak sadar karena kegelapan bathin yang menutupi jalan terangnya sehingga tidak merasa bersalah, bahkan sebaliknya justru merasa bangga akan "keberhasilannya" itu. Lebih jauh, kegelapan batin mendorong terjadinya tindak kekerasan karena seolah mendapat pembenaran, yang pada akhirnya berakibat sangat fatal. Tidak hanya membuat jiwa menjadi gelap, kegelapan bathin juga menimbulkan percekcokan dalam keluarga, kekerasan dalam masyarakat, pelecehan hukum dan juga perbuatan jahat lainnya.

Betapapun sulit dan lemahnya cahaya kebenaran itu, namun tetap diri kita yang  bertanggung jawab atas diri kita  untuk mencari cahaya yang terang.  Memang  tidak mudah untuk menembus kegelapan batin, perlu komitmen yang kuat dan terus menerus berlatih untuk mengusir kegelapan batin dengan melatih pikiran kita. Tanpa adanya komitmen yang kuat dan latihan yang terus menerus, kegelapan batin ini tidak akan mungkin dapat hilang. Setiap kali pikiran, persepsi, atau pandangan muncul, sadari dengan sati (kesadaran, kewaspadaan).  Kita perlu mewaspadai segala bentuk kegelapan bathin ini karena kegelapan batin dapat muncul setiap saat dalam segala wujudnya. Pikiran dan pandangan keliru akan datang sesukanya dan akan pergi dengan sendirinya tanpa kita ketahui waktunya. Awasi dengan kesadaran penuh saat kemunculannya, keberlangsungan, dan kelenyapannya tanpa harus melekat padanya. Bila sudah menyadari kondisi  pikiran atau pandangan pada diri sendiri maka tidak akan muncul kelekatan padanya. Pada saat pandangan benar diperoleh, ketenangan bathin akan hadir, memungkinkan diri untuk menerima (melepas) segala sesuatu di kehidupan ini dengan apa adanya, sehingga kebahagiaan akan lebih mudah dicapai dimanapun dan dengan siapapun.

Untuk mencegah timbulnya kegelapan bathin dalam diri, cara terbaik adalah mengembangkan Panna (kebijaksanaan). Panna (kebijaksanaan) dapat dicapai dengan berbagai macam cara, seperti dengan banyak membaca, belajar, dan mendengar.Yang lebih penting lagi adalah terus menerus melatih pikiran sehingga segala kebaikan dan kebenaran terjaga terus menerus. Tanpa melatih pikiran, kegelapan batin akan mudah muncul dalam kehidupan ini tanpa kita sadari, yang akhirnya membawa kehancuran diri sendiri dan orang lain, nama buruk, dan kondisi negatif lainnya. Caranya, yang pertama, adalah dengan belajar dan belajar terus menerus. Belajar akan menumbuhkan kebijaksanaan secara intelektual. Kedua, coba renungkan apa yang telah kita pelajari; bermanfaat atau tidak, benar atau salah. Proses perenungan akan menghasilkan kebijaksanaan yang lebih mendalam. Pilihlah pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan benar, jangan mencoba melakukan yang salah dan tidak bermanfaat.

Meneropong lebih dalam, kebodohan timbul dikarenakan adanya keragu-raguan dan kegelisahan dalam diri yang disertai ketidaktahuan. Kebodohan yang diakibatkan oleh keragu-raguan biasanya muncul dalam bentuk  kurangnya keyakinan. Hal ini dikarenakan seseorang tidak yakin atau masih ragu-ragu kepada Sang Buddha, Dharma, dan Sangha. Hal ini dikarenakan kurangnya keyakinan akan adanya Hukum-Hukum Kebenaran Mutlak seperti: Empat Kebenaran Mulia, Kamma dan Tumimbal-lahir, Paticcasamuppada, dan Tiga Corak Umum yang universal. Masih terdapat keraguan terhadap hukum  kebenaran itu apakah benar atau tidak. Sehingga perbuatan buruk masih juga dilakukan karena tidak yakin akan adanya kamma vipaka (hasil dari perbuatan), baik dari kehidupan yang lampau, sekarang, dan yang akan datang.

Di sisi lain, kebodohan yang juga dapat diakibatkan kegelisahan dikarenakan  kesadaran atau pikiran gelisah, dan terlepas dari konsentrasi pada berbagai macam obyek, tidak tenang atau tidak tetap berada dalam obyek. Dikarenakan timbulnya kegelisahan, kebodohan seseorang muncul ke permukaan sehingga melakukan perbuatan buruk. Akibatnya, ia selalu berada dalam keadaan pikiran yang bodoh atau Moha.

Dengan kondisi tersebut bagaimana cara kita dapat mengikis kebodohan? Hanya dengan senantiasa menjaga pandangan benar yang dapat membantu untuk menjaga batin kita menjadi bijaksana. Pengetahuan Dhamma yang kita kumpulkan menjadi modal yang ampuh bagi perkembangan mental kita, jangan sampai kita dipengaruhi oleh kebodohan, pandangan keliru atau sesat yang akan mengakibatkan malapetaka, rintangan dan ancaman-ancaman. Jangan sampai berhenti menjaga batin dengan kebijaksanaan, sebab dewasa ini kita hidup dalam keadaan yang semakin terdesak, terancam pengaruh-pengaruh negatif, dan semakin gencarnya godaan kehidupan duniawi yang serba gemerlapan. Oleh karena itu mutlak batin kita dijaga oleh kebijaksanaan, kalau tidak demikian kita akan mudah didikte oleh pengaruh rangsangan duniawi dan pandangan keliru yang menyebabkan kita sering salah jalan.  (r)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments