Sabtu, 19 Okt 2019

Keraguan dan Kegelisahan Sumber Kebodohan

Oleh Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo ST., MM
Sabtu, 17 Mei 2014 12:16 WIB
Orang dungu yang berpengertian dangkal, terlena dalam kelengahan, sebaliknya, orang bijaksana senantiasa menjaga kewaspadaan, seperti menjaga harta yang paling berharga.
Jangan terlena dalam kelengahan, jangan terikat pada kesenangan-kesenangan indra.
Orang yang waspada dan rajin bersamadhi, akan memperoleh kebahagiaan sejati.

Di dalam lingkungan pergaulan kita, banyak hal yang sebenarnya tidak baik apalagi berguna dilakukan namun tetap dibiarkan. Mulai dari merokok yang dilakukan seolah olah hal lazim, minum alkohol di tempat terbuka hingga yang bersembunyi main judi dan perbuatan asusila serta beragam hal buruk lainnya. Apakah hal ini dilakukan karena kita tidak mengetahui perbuatan buruk tersebut? Tentunya tidak, hal ini lebih dikarenakan kualitas bathin rendah yang lazim disebut "kebodohan". Daya tahan mental/ bathin persis seperti daya tahan jasmani yang staminanya sering sekali dapat melemah sehingga secara sadar ataupun tidak kita melakukan perbuatan buruk.

Kebodohan yang kita maksud disini, tidak seperti pengertian umum tentang kebodohan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diartikan sebagai sangat tumpul otaknya atau tidak cerdas. Arti kebodohan dalam pengertian umum tersebut, cenderung hanya mengarah pada kelemahan kadar intelektual atau segi kecerdasan saja, tetapi kurang begitu dikaitkan dengan kualitas batiniah seseorang. Makna kebodohan lebih luas menunjukkan kualitas batin seseorang, yang menunjukkan kebijaksanaan seseorang. Dalam kitab Paramatthajotika,  didefenisikan orang bodoh sebagai orang yang menjalani kehidupan hanya sekedar karena bernapas - dalam arti hanya sekedar hidup saja, tidak menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan.

Sebenarnya batin yang mengetahui kondisi jasmani, sedangkan jasmani tidak mengetahui batin. Dengan demikian sebagai makhluk hidup, kita harus mampu memberikan perhatian penuh pada batin, karena pada dasarnya yang merasakan kebahagiaan atau penderitaan adalah batin kita. Apabila batin tidak dilengkapi dengan kebijaksanaan, keyakinan kuat, pengetahuan kuat, perhatian murni, dan konsentrasi, maka kebodohan akan gampang masuk, kemudian pandangan kita menjadi sesat,disusul kemelekatanpun menjadi ikut hadir pula. Pada akhirnya hal tersebut akan menimbulkan kesengsaraan, derita, malapetaka dan kelahiran kembali berkali-kali.

Meneropong lebih dalam, kebodohan timbul dikarenakan adanya keragu raguan dan kegelisahan dalam diri yang disertai ketidaktahuan. Kebodohan yang diakibatkan oleh keragu-raguan biasanya muncul dalam bentuk  kurangnya keyakinan. Hal ini dikarenakan seseorang tidak yakin atau masih ragu-ragu kepada Sang Buddha, Dharma, dan Sangha. Hal ini dikarenakan kurangnya keyakinan akan adanya Hukum-Hukum Kebenaran Mutlak seperti: Empat Kebenaran Mulia, Kamma dan Tumimbal-lahir, Paticcasamuppada, dan Tiga Corak Umum yang universal. Masih terdapat keraguan terhadap hukum hukum kebenaran itu apakah benar atau tidak. Sehingga perbuatan buruk masih juga dilakukan karena tidak yakin akan adanya kamma vipaka (hasil dari perbuatan), baik dari kehidupan yang lampau, sekarang, dan yang akan datang.

Di sisi lain, kebodohan yang juga dapat diakibatkan kegelisahan dikarenakan  kesadaran atau pikiran gelisah, dan terlepas dari konsentrasi pada berbagai macam obyek, tidak tenang atau tidak tetap berada dalam obyek. Dikarenakan timbulnya kegelisahan, kebodohan seseorang muncul ke permukaan sehingga melakukan perbuatan buruk. Akibatnya, ia selalu berada dalam keadaan pikiran yang bodoh atau Moha.

Dengan kondisi kondisi tersebut bagaimana cara kita dapat mengikis kebodohan? Hanya dengan senantiasa menjaga pandangan benar yang dapat membantu untuk menjaga batin kita menjadi bijaksana. Pengetahuan Dhamma yang kita kumpulkan menjadi modal yang ampuh bagi perkembangan mental kita, jangan sampai kita dipengaruhi oleh kebodohan, pandangan keliru atau sesat yang akan mengakibatkan malapetaka, rintangan dan ancaman-ancaman. Jangan sampai berhenti menjaga batin dengan kebijaksanaan, sebab dewasa ini kita hidup dalam keadaan yang semakin terdesak, terancam pengaruh-pengaruh negatif, dan semakin gencarnya godaan kehidupan duniawi yang serba gemerlapan. Oleh karena itu mutlak batin kita dijaga oleh kebijaksanaan, kalau tidak demikian kita akan mudah didikte oleh pengaruh rangsangan duniawi dan pandangan keliru yang menyebabkan kita sering salah jalan. (r)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments