Kamis, 22 Agu 2019

Tukang Tambal Ban Korban Penganiayaan Mohon Perlindungan Hukum ke Kapoldasu

admin Senin, 11 Februari 2019 14:09 WIB
SIB/Roy Surya Damanik
SURAT TANDA BUKTI: Manumpak Lubis yang menderita stroek dan menjadi korban penganiayaan menunjukkan surat tanda bukti laporan di Polsek Percut Sei Tuan, usai diwawancarai wartawan di Polrestabes Medan, Sabtu (9/2).
Medan (SIB) -Manumpak Lubis (42) warga jalan Enggang Raya Perumnas Mandala, Kecamatan Percut Sei Tuan, Delisersang, penderita stroke yang menjadi korban penganiayaan belum lama ini sering diteror pelaku yang hingga kini masih bebas berkeliaran.

"Pelaku berinisial HS (37) warga Jalan Enggang hingga kini masih bebas berkeliaran. Pelaku kini semakin menjadi-jadi, sering meneror saya dan keluarga. Saya memohon kepada Bapak Kapoldasu Irjen Agus Andrianto dan Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr Dadang Hartanto untuk perlindungan hukum kepada saya dan keluarga," harap Manumpak kepada wartawan di Mapolrestabes, Sabtu (9/2).

Manumpak yang sehari-harinya penambal ban di depan rumahnya itu mengungkapkan, aksi penganiayaan yang menimpa dirinya terjadi pada Jumat 28 Desember 2018 sekira pukul 21.00 WIB. Ketika itu dia keluar dari rumahnya dan hendak bekerja. Tiba-tiba dari seberang jalan, HS mengucapkan kata-kata yang tak pantas kepadanya.

"Saya minta istri untuk memapah saya supaya bisa mengejar pelaku. Namun pelaku berhasil kabur. Selanjutnya saya dan istri kembali duduk di depan rumah. Tiba-tiba saya merasa kesakitan lantaran tangan kanan saya dipukul pelaku dengan kayu broti. Selanjutnya pelaku langsung lari ke rumahnya. Beruntung saya mengangkat tangan, jika tidak kepala saya pasti kena kayu broti. Kejadian ini sudah saya laporkan ke Polsek Percut Seituan," ujarnya sembari menunjukkan bukti laporan yang tertuang di Nomor: LP/2883/K/XII/2018/SPKT Percut.

Pemicu pelaku yang tega menganiayanya lantaran HS cemburu melihat Manumpak dekat dengan istrinya sendiri. Pelaku suka mengganggu istri saya. HS tidak suka jika saya dekat dengan istri. Bukan hanya istri saya saja yang sering diganggu pelaku. istri tetangga yang lain juga sering diganggunya. Perbuatan pelaku ini sudah sangat meresahkan dan HS selalu menganggarkan adiknya seorang polisi," beber bapak tiga anak itu.

Masih kata korban, sejak dilaporkan ke Polsek Percut Sei Tuan pada Desember 2019 lalu, saksi-saksi sudah diperiksa. Pihak penyidik belum lama ini mengatakan akan melakukan gelar perkara kasus Manumpak. Namun hingga kini tidak ada tindaklanjut dari pihak kepolisian. Justru pelaku makin menjadi-jadi. Pelaku setiap malam meneror korban dan selalu mengintip korban dari seberang rumahnya.

"Saya sedih melihat kinerja kepolisian ini, sebab pelaku tidak juga ditangkap. Kesedihan saya semakin bertambah lantaran awal Januari 2019 anak laki-laki saya yang paling kecil yang berusia 9 tahun meninggal karena demam berdarah (DBD). Saya memohon kepada Bapak Kapoldasu dan Kapolrestabes Medan untuk perlindungan hukum kepada saya," pintanya dengan rasa sedih.

Kapolsek Percut Seituan Kompol Faidil Zikri yang dikonfirmasi, Minggu (10/2) mengenai hasil gelar perkara korban, beralasan pihaknya sudah menyampaikannya ke juru periksa dan Kanit Reskrim Iptu MK Daulay agar segera tindaklanjut sesuai mekanisme hukum.

"Sudah saya sampaikan ke juper dan Kanit agar segera tindaklanjut sesuai mekanisme hukum. Besok saya tanya lagi sudah sampai dimana tindaklanjutnya," katanya. (A16/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments