Selasa, 22 Okt 2019
  • Home
  • Medan Sekitarnya
  • Sidang Korupsi Proyek IPA Tirtanadi Ricuh di PN Medan, Terdakwa Menolak Ditahan

Sidang Korupsi Proyek IPA Tirtanadi Ricuh di PN Medan, Terdakwa Menolak Ditahan

Selasa, 06 November 2018 11:19 WIB
SIB/Rido Adeward Sitompul
RICUH: Sidang Korupsi proyek IPA PDAM Tirtanadi di PN Medan berakhir ricuh, Senin (5/11). Kericuhan akibat terdakwa menolak ditahan oleh tim JPU Kejari Belawan.
Medan (SIB) -Sidang kasus dugaan korupsi proyek pekerjaan EPC Pembangunan Instalasi Pengelolaan Air (IPA) PDAM Tirtanadi di Martubung, senilai Rp 58.773.104.000.000 yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Medan pada gedung Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (5/11), berakhir ricuh. Kericuhan terjadi seusai majelis hakim yang diketuai Syafril Batubara menutup sidang yang beragendakan pembacaan nota keberatan (eksepsi) terdakwa Flora Simbolon melalui tim kuasa hukumnya. 

Seusai ditutup, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Belawan hendak membawa terdakwa ke sel tahanan sementara di PN Medan. Namun terdakwa Flora menolak. Dia tak mau disebut sebagai terdakwa lagi. "Saya menolak ditahan. Saya bukan lagi seorang terdakwa. Putusan praperadilan telah menyatakan saya tidak bersalah. Tidak ada hak anda menahan saya lagi," teriak Flora kepada tim JPU Kejari Belawan yang hendak membawanya. 

Sontak, para keluarga Flora yang turut hadir di persidangan juga melakukan protes. Sehingga terjadi perdebatan antara tim JPU Kejari Belawan dengan keluarga Flora dan para tim kuasa hukum Flora. "Kami yang membawa saudari dari Lapas. Jadi kami juga yang harus memulangkannya. Kalian harus tahu prosedur. Tidak ada penetapan hakim untuk menyatakan melepaskan anda (Flora) dari tahanan. Ini sudah sesuai dengan aturannya," kata seorang JPU menjawab penolakan tersebut.

Keributan semakin meluas hingga keluar ruang sidang Kartika tempat dilaksanakannya persidangan tersebut. Pihak kepolisian dan Satpam pengadilan serta para pengawal tahanan dari Kejari Belawan hampir bentrok dengan keluarga terdakwa dan tim kuasa hukum Flora. "Jangan tahan klien kami. Dia sudah tidak tersangka lagi. Kalian penegak hukum harusnya tahu hukum. Di mana HAM di pengadilan ini," teriak kuasa hukum terdakwa. 

Sekitar 20 menit adu argumen, akhirnya terdakwa berhasil dibawa keluar pengadilan dari pintu belakang gedung tersebut. Terdakwa langsung dibawa pihak Kejari Belawan menggunakan mobil Avanza meninggalkan gedung PN Medan dengan ditemani seorang kerabat dekat terdakwa.

Dalam persidangan pembacaan eksepsi tersebut, tim penasihat hukum terdakwa Flora Simbolon mengutarakan keberatannya terhadap dakwaan jaksa yang menyatakan kliennya telah merugikan negara terkait proyek IPA PDAM Tirtanadi daerah Martubung. 

Sidang yang semula berlangsung tenang tersebut, tim kuasa hukum terdakwa mengatakan kepada majelis hakim bahwa status kliennya telah gugur demi hukum. "Adanya putusan Praperadilan tanggal 26 Oktober 2018 yang menyebutkan klien kami gugur dari status tersangkanya tentunya sudah sah. Dakwaan yang disebutkan Jaksa Penuntut Umum adalah cacat hukum," tegas Jefri Simanjuntak mengacu hasil Keputusan Praperadilan yang diputuskan Hakim Tunggal Irwan Effendi.

Sebelumnya, JPU Kejari Belawan yang dipimpin Yarmasari,  pada sidang dakwaan sebelumnya mengatakan, perbuatan terdakwa Flora Simbolon telah menyalahi kontrak pengerjaan proyek IPA Tirtanadi itu.  JPU menilai perbuatan terdakwa Flora Simbolon telah mengakibatkan kerugian negara, khususnya PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp 18,1 miliar dari nilai pagu proyek itu senilai Rp 58,7 miliar tahun anggaran 2014. 

JPU mendakwa perbuatan Flora dengan pidana dalam Pasal 3 jo Pasal 18 UU RI No 31 Tahun 1999  sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (A14/d)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments