Minggu, 31 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

Sejak Covid-19 Mencuat, Buah Impor Sulit Ditemukan di Medan

Kamis, 09 April 2020 12:49 WIB
liputan6.com

Ilustrasi

Medan (SIB)
Buah-buahan impor sudah sejak lama tidak tersedia di pusat-pusat perbelanjaan mewah, swalayan dan Pusat Pasar di Medan.
"Sudah lama buah impor tidak masuk lagi di Medan. Lihat saja buah anggur, sunkis, lemon, apel dan buah impor lainnya," ujar Siahaan, Pengawas dan Keamanan di Pasàr Berastagi Buah Jalan Kol Sugiono kepada SIB, Rabu (8/4).

Disebutnya, sejak hangatnya virus corona, buah impor tidak ada lagi, hanya buah lokal mendominasi bisnis di tempat ini.
Buah yang selalu tersedia yakni semangka, naga, salak, jeruk Berastagi, jeruk lemon lokal, apel malang, pisang barangan, belimbing, melon, alpukat, jeruk bali, pepaya, nenas dan manggis.

"Banyak konsumen nanya kapan masuknya buah impor, pihak pengusaha belum bisa pastikan," ungkap Siahaan.
Kondisi yang sama juga terjadi di Pusat Pasar yang biasanya ada di toko-toko yang menjual buah-buahan impor, akhir-akhir tidak ada lagi. "Nihil buah impor gak ada masuk sejak awal Maret ketika hangatnya virus corona," ujar Yamin, seorang pekerja di sana.
sudah sulit

Sementara Pengamat Ekonomi Gunawan Benyamin membenarkan, belakangan ini buah impor sulit ditemukan lagi.
"Memang belakangan ini kita sulit atau bahkan tidak menemukan buah-buahan impor seperti kelengkeng, pear, apel, anggur maupun buah impor lain yang biasa dijual di sejumlah pasar modern dan pasar buah pada umumnya," ungkap Gunawan kepada SIB, Rabu (8/4).

Disebutnya, sejak Covid-19 ini mencuat memang sejumlah buah-buahan impor menghilang di pasaran.
Gunawan menilai hilangnya buah-buahan impor itu tidak terlepas dari kebijakan pemerintah. Meskipun tidak semua bahan pangan hilang. Bawang putih, bawang Bombay, gula pasir masih didatangkan dengan cara impor.

Apa yang terjadi pada buah-buahan impor harus disikapi arif masyarakat. Jangan terlalu mengeluh. Karena buah-buahan ini urgensinya masih lebih rendah dibandingkan dengan komoditas pangan pokok seperti bawang dan gula, ujarnya.

Katanya, wajar pemerintah memprioritaskan impor kebutuhan pangan pokok tersebut. Sementara untuk buah-buahan bisa disubtitusi dengan buah lokal. Kebijakan memilah impor itu sendiri juga tidak lepas dari pengendalian defisit neraca perdagangan. Rupiah yang melemah belakangan ini juga sulit dikendalikan jika impor tetap dibiarkan untuk semua jenis komoditas.

Jadi urgensinya ini yang lebih didahulukan. Sehingga tidak memicu terjadinya tekanan pada mata uang Rupiah secara berlebihan.
“Tidak perlu gelisah, kondisi sekarang ini sangat genting. Selain masalah tekanan terhadap mata uang Rupiah jika impor terus dibuka semuanya, penyebaran penyakit yang menempel di komoditas pangan kita juga menjadi pertimbangan serius, tegas Gun yang juga sebagai Ketua Tim Pemantau Berbagai Harga Bahan Pokok. (M2/f)

T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments