Rabu, 23 Sep 2020

    Sebanyak 651 Kasus Seksual dan KDRT di Sumut

    * Medan Kasus Tertinggi KTP dan KTA
    Jumat, 05 Juni 2020 22:59 WIB
    Foto : Dok /dr Eny Muhartiyanti Manurung

    dr Eny Muhartiyanti Manurung

    Medan (SIB)
    Kasus pelecehan seksual di Indonesia khususnya di Provinsi Sumut masih kerap terjadi. Gangguan atau perilaku seksual menyimpang yang muncul secara berulang disebut parafilia. Disebut menyimpang karena hasrat dan perilaku ini umumnya melibatkan suatu bentuk aktivitas, objek, baik orang atau benda, maupun situasi yang pada kondisi normal tidak merangsang secara seksual.

    Hal itu dikatakan dr Eny Muhartiyanti Manurung yang bertugas di Puskesmas Aek Ledong, Asahan kepada wartawan di Medan, Kamis (4/6). Menurut data dari Sistem Informasi Online Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Simfoni KPPPA) RI untuk wilayah Sumut menunjukkan data bahwa kasus kekerasan seksual di ruang personal atau KDRT masih mendominasi yang tercatat/dilaporkan sebanyak 651 kasus di tahun 2019.

    "Data jumlah kasus ini turun 30% dari tahun 2018 sebanyak 932 kasus. Daerah yang banyak melaporkan kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) dan Kekerasan Terhadap Anak (KTA) adalah Kota Medan 88 kasus, Deliserdang 74 kasus, Labura 37 kasus, Serdang Bedagai 37 kasus dan Batubara 34 kasus," ujarnya.

    Sedangkan menurut catatan Komnas Perempuan, selama tahun 2018 telah terjadi 406.178 kasus, yang mana jumlah ini meningkat 14% dari tahun 2017 yang berjumlah 348.446 kasus. Beberapa kasus yang perlu mendapat perhatian di antaranya tentang laporan inses (pelaku paling banyak adalah ayah kandung, ayah tiri/angkat dan paman), kekerasan dalam pacaran yang dilaporkan ke instansi negara.

    Selain itu meningkatnya angka kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) menjadi 35 kasus senada dengan meningkatnya laporan pengaduan langsung ke Komnas Perempuan tentang kasus KBGO yang di tahun 2020 meningkat 300% dari 97 kasus menjadi 281 kasus.

    Eny Manurung menyebutkan ada tujuh jenis kelainan sexual yang acapkali ditemui yaitu pedofilia dan infantofilia, eksibisionisme, voyeurisme, froteurisme, fetisisme dan parsialisme. Selanjutnya, transvestitisme, masokisme seksual, sadisme seksual.

    Menurutnya, mengobati kelainan seksual sangat penting untuk dilakukan. Sebab jika tidak segera ditangani, kelainan seksual dapat membahayakan diri sendiri, keluarga, hubungan sosial dengan orang lain termasuk pasangan, pekerjaan, maupun masyarakat umum yang berisiko menjadi korban.

    Adapun cara agar terhindar dari pelecehan sexual dengan bersikap tegas dan tujukan ekspresi ketidaksukaan terhadap hal tersebut. Jangan bersikap malu-malu atau diam, karena pelaku tidak akan berhenti dan mungkin malah semakin menjadi-jadi.

    "Biasanya pelecehan seksual berupa sentuhan pada beberapa bagian tubuh kamu dan sebagai perempuan rawan sekali terjadi ketika terdapat banyak orang yang berdesak-desakan. Jangan takut untuk melaporkan kepada pihak berwajib apabila kamu mengalami pelecehan seksual tersebut, baik yang berupa sentuhan atau rabaan, hingga ketingkat pemaksaan sekalipun. Kalau kamu merasa khawatir melaporkannya langsung kepada pihak berwajib, kamu bisa mengutarakannya terlebih dahulu kepada orang terdekat kamu, orang tua misalnya," jelasnya. (M17/d)
    T#gs
    Berita Terkait
    Komentar
    Komentar
    Silakan Login untuk memberikan komentar.
    FB Comments