Kamis, 19 Sep 2019

Petani di Sumut Diajak Asuransikan Lahan Pertanian

admin Kamis, 11 Juli 2019 12:07 WIB
Ilustrasi
Medan (SIB) -Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut Marino mengajak para petani untuk menjadi peserta Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), mengingat pesertanya saat ini sangat minim. Padahal jika lahan petani terkena bencana akan mendapatkan ganti rugi.

"Jika terjadi bencana di lahan petani, yang disalahkan pemerintah. Padahal menjadi AUTP premi yang dibayar 80 % ditanggung pemerintah, selebihnya dibayar petani yakni Rp 36.000 per hektar per MT. Pemerintah melalui Jasindo yang akan menangani AUTP," ungkap Marino menjawab pertanyaan SIB, Rabu (10/7).

Disebutnya, kelompok petani yang menjadi peserta dalam Program Bantuan Premi AUTP mendapat ganti rugi sebesar Rp 6 juta per hektar dengan pertanggungan premi Rp 180.000 per musim tanam (MT) apabila lahan pertaniannya rusak. Para petani lebih dulu bergabung dalam kelompok tani, jika terjadi bencana lebih mudah mengkordinirnya.

Ketika ditanya minimnya petani menjadi peserta AUTP karena kurangnya sosialisasi yang diberikan pada mereka, Marino mengatakan, sama sekali tidak. Hanya saja ada anggapan mereka, lahan yang ditanam itu aman dari bencana, sehingga mengurungkan minat tersebut.

Marino berharap, ke depan peserta AUTP di Sumut semakin bertambah karena bencana yang terjadi bukan urusan manusia. "Artinya, kita tidak mengetahui apa yang terjadi ke depan," ujarnya.

Diketahui, tahun 2019 lahan sawah yang diasuransikan di Sumut 734,77 hektar dan jumlah peserta AUTP 1.117 orang.
Data diperoleh SIB, jumlah petani di Sumut 1,2 juta dengan lahan pertanian ratusan ribu hektar.

Serangan Ringan
Disinggung adanya kemarau dan bencana yang menyebabkan tanaman petani di luar Sumut kekeringan, bahkan fuso, menurut Marino, jika ada populasi serangan itu memang ada di propinsi ini hanya saja serangan ringan di bawah 25 %. Artinya tanaman masih bisa berproduksi.

Mengenai serangan tikus Marino mengatakan, biasanya hama tikus terjadi usai panen. Tikus-tikus ini membuat lobang- lobang di lahan, karena itu pihaknya melibatkan para petani memberantasnya secara bersama-sama.

Bahkan dari hasil kerjasama mengendalikan hama tikus itu ditemukan lebih 3.000 ekor dari lobang bekas tanaman padi. "Temuan jumlah tikus ini untuk sekali berantas. Jumlah tikus yang besar itu kemudian dibakar," imbuhnya.

Untuk menghindarkan berbagai serangan terhadap tanaman petani di Sumut, dimintanya agar petani sekali minggu melakukan pemantauan di lahan. Jika ditemukan lebih mudah memberantasnya. (M2/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments