Minggu, 31 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

Imam Besar Masjid Istiqlal KH M Nasaruddin Umar Kunjungi YP Sultan Iskandar Muda Sunggal

Perbedaan Jangan Diartikan Malapetaka, Justru Rahmat dari Tuhan

admin Minggu, 20 Januari 2019 14:29 WIB
SIB/Dok
KUNJUNGI : Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasarudin Umar MA,PhD duduk berdampingan dengan Ketua Dewan Pembina YP Sultan Iskandar Muda, dr Sofyan Tan, di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Medan Sunggal, Sabtu (19/1).
Medan (SIB)-Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasarudin Umar MA PhD menegaskan, perbedaan jangan diartikan sebagai malapetaka. Justru perbedaan itu adalah rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dia mencontohkan, sebuah lukisan kalau hanya berwarna putih maka tidak akan indah. Namun jika banyak warna kontrasnya maka terlihat menarik. Begitu juga Indonesia, beragam agama dan suku membaur menjadi satu kesatuan.

Menurutnya, sebuah institusi negara yang masyarakatnya homogen tidak menjadi jaminan negara tersebut akan selalu damai. Buktinya saja, negara dari Timur Tengah yang hanya terdiri dari beberapa agama dan etnis selalu ada perang. "Bukan berarti negara yang plural itu akan menjadi petaka. Indonesia yang terdiri dari berbagai agama dan suku masih tetap damai dan sejahtera sampai saat ini," katanya di sela-sela kunjungannya ke Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Medan Sunggal, Sabtu (19/1).

Nasarudin menambahkan, Indonesia ini sudah diramal dalam empat fase akan bubar, pertama di tahun 2008, 2011, 2014 dan 2017. Tapi hingga kini ramalan itu tidak terjadi. Jadi pengamat politik sulit memprediksi Indonesia, kenapa negara dengan beragam suku dan agama ini masih bersatu dan tidak pecah.

"Selama masyarakat bersatu, tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang bisa menghancurkan Indonesia. Karena itu, meski berbeda-beda agama jangan saling menyakiti, menghina tetapi harus saling menghargai," tuturnya.

Sementara Ketua Dewan Pembina YP Sultan Iskandar Muda dr Sofyan Tan mengaku, pertama kali dirinya bertemu Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasarudin Umar MA PhD adalah saat mengunjungi New Zealand di 2015 atas undangan Perdana Menteri New Zealand. Pada pertemuan tersebut dibahas bagaimana mewujudkan dunia yang damai melalui pendidikan.

Saat itu, kata dia, Sekolah Iskandar Muda menjadi percontohan, bagaimana membangun Indonesia yang beragam ini melalui pendidikan multikultural. "Hari ini Buya Nasaruddin datang untuk melihat langsung sekolah Sultan Iskandar Muda. Sekolah ini memiliki siswa dengan agama dan suku yang beragam dan di sini menekankan persatuan di tengah perbedaan," tegasnya.

Diceritakan Sofyan Tan, tujuan dibangun sekolah multikultural ini agar bagaimana generasi bangsa yang berasal dari berbagai suku dan ras bisa memiliki kesamaan pandangan membangun Indonesia yang lebih damai dan sejahtera. "Kemajuan Indonesia berada di tangan generasi muda. Jika rasa memiliki sudah ada maka Indonesia tidak akan mengalami perpecahan," pungkas anggota DPR RI Komisi X ini.(A11/d)

T#gs Justru Rahmat dari TuhanPerbedaan Jangan Diartikan Malapetaka
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments