Minggu, 09 Agu 2020

Pemko Medan Gelar Gemes Geliatkan Wisata Seni dan Budaya

Minggu, 04 November 2018 10:57 WIB
Medan (SIB) -Pemko Medan kembali menggelar  pertunjukan seni  dan budaya Melayu terakbar bertitel Gelar Melayu Serumpun (Gemes) di halaman Istana Maimun  Medan, Jumat (2/11) malam.

 Dalam edisi yang ketiga ini, Gemes tampil  lebih menarik dan spektakuler sehingga menjadi  satu tontonan yang sangat memuaskan pengunjung.

Di samping aneka seni dan tari Melayu, Gemes semakin menarik dengan  mengusung Istana Maimun nan anggun dan megah menjadi latar belakang panggung. Ditambah lagi dengan dukungan lighting yang gemerlap  sehingga membuat Istana Maimun semakin terlihat mewah dan berkelas.

Tampaknya Pemko Medan melalui Dinas Pariwisata Kota Medan ingin menjadikan Gemes sebagai salah satu kegiatan yang akan mampu mengundang wisatawan lokal maupun mancanegara datang mengunjungi Kota Medan. Terbukti kegiatan ini telah mendapat simpatik dari sejumlah negara serumpun seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam dan Thailand dengan mengirimkan duta seninya untuk mengikuti  Gemes.

Di bawah guyuran hujan, Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi  resmi membuka Gemes 2018. Pembukaan ditandai pemukulan gendang yang dilakukan Wali Kota bersama Wakil Wali Kota Ir Akhyar Nasution MSi. Setelah itu dilanjutkan dengan Tarian Ahoy sebagai tarian khas Kota Medan. Kemudian disusul tarian kolosal Melayu yang dibawakan puluhan penari dari berbagai negara serumpun dan daerah  serta  menjadikan payung sebagai properti tarian.

Dalam sambutannya, Wali Kota sangat mengapresiasi digelarnya Gemes. Apalagi  khsusus tahun ini, penyelenggara menghias halaman Istana Maimun dengan 428 payung sebagai simbolusia Kota Medan yang saat ini telah memasuki 428 tahun. Kemudian tarian kolosal Melayu yang dibawakan 73 pasang penari sebagai lambang usia kemerdekaan  Indonesia yang ke-73 tahun.

"Keberhasilan merangkul suku Melayu se-kawasan merupakan sebuah prestasi sekaligus bisa menjadi daya tarik wisata bagi Kota Medan. Kita harapkan melalui even ini akan menjadi  wadah melestarikan seni dan budaya Melayu sekaligus mengedukasi masyarakat Kota Medan, khususnya generasi muda dalam memahami kebudayaan dan rumpun Melayu," kata Wali Kota.

Oleh karenanya wali kota berharap agar  pagelaran ini dapat menjadi salah satu ikon pariwisata di Kota Medan yang dapat menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Apalagi dalam pagelaran tahun ini, Gemes  ditampilkan di Istana Maimun yang merupakan salah satu ikon kebanggaan  Kota Medan. Padahal dalam edisi pertama dan keduanya, Gemes selalu dilaksanakan di Lapangan Merdeka Medan.

Selain empat negara serumpun, Gemes 2018 juga diikuti provinsi tetangga seperti Nanggroe Aceh Darusalam (NAD). DKI Jakarta, Jambi, Bengkulu, Palembang serta Riau. Kemudian sejumlah daerah di Sumut di antaranya Deliserdang, Serdangbedagai, Binjai, Tebingtinggi, Langkat, , Asahan, Batubara, Sibolga, Tanjungbalai, Labuhanbatu Utara dan Kota Medan. Sebagai bentuk ungkapan apresiasi dan terima kasih atas keikutsertaan mereka, wali kota pun memberikan cinderamata kepada seluruh perwakilan peserta.

Sedangkan pertunjukan seni dan tari yang ditampilkan di antaranya tari kolosal Melayu, fashion show busana Songket Medan, workshop serta penampilan bersama Tarian Ahoy secara bergantian. "Selain melestarikan seni dan tari Melayu, kita harapkan gelaran Gemes ini mampu mendukung geliat pariwisata di Kota Medan," harap Wali Kota.

Di samping Wali Kota dan Wakil Wali Kota, gelaran Gemes juga dihadiri Konjen Malaysia, unsur Forkominda Kota Medan, Sekda Kota Medan  Ir Wiriya Al Rahman, Raja Muda Deli Tengku Hamdy Osman Deli Khan,   tokoh masyarakat, pimpinan OPD di lingkungan Pemko Medan, camat dan lurah.

Pembukaan Gemes 2018 diakhiri dengan penampilan penyanyi dangdut asal ibukota Nasar. Meski hujan deras mengguyur,  penyanyi jebolan Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 2014 terus tampil membawakan sejumlah lagu dangdut hits diikuti goyangan pengunjung.

Sebelumnya Kadis Pariwisata Kota Medan Agus Suriono dalam laporannya menjelaskan, tujuan digelarnya Gemes sebagai ajang publikasi dengan promosi guna menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara dengan mengusung seni dan budaya Melayu yang memiliki kekuatan sisi geografis dan histori Kota Medan pada masa lampau.  (A07/f) 
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments