Minggu, 20 Okt 2019

Pemerintah dan Masyarakat Diminta Gunakan Uang Non Tunai Bertransaksi

admin Sabtu, 05 Oktober 2019 11:15 WIB
Ilustrasi
Medan (SIB) -Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI ) Provinsi Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, penggunaan UNT (Uang Non Tunai ) di provinsi ini sudah mengalami peningkatan terutama elektronifikasi non tunai jalan tol yang terjadi peningkatan selama Agustus 2019.

"Jadi kita berharap pemerintah daerah dan masyarakat dapat menggunakan uang non tunai dalam melakukan transaksi," ungkap Wiwiek didampingi Deputi Direktur Pengembangan Ekonomi dan UMKM Demina Sitepu, Rabu (2/10).

Disebutnya, selain elektronifikasi di jalan tol, juga transaksi non tunai lainnya yakni elektronifikasi Pemda, penerapan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) online penerimaan Pemda non tunai dan pengeluaran Pemda non tunai .

Elektronifikasi transaksi Pemda juga diperluas dengan mendorong kerjasama antara Bank Pembangunan Daerah dan perbankan dalam memerluas kanal pembayaran pajak dan retribusi selain ATM dan teller. Juga mendorong penerapan SP2D online di 8 Pemda yang belum menerapkannya.

Transaksi non tunai lain yang terjadi di masyarakat yakni dalam hal penyaluran program pemerintah Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Hingga Juli 2019 pemerintah sudah menyalurkan BPNT sebanyak Rp304,87 miliar kepada rata-rata 395 ribu Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Wiwiek menjelaskan, jumlah ini meningkat hingga 6,25 kali secara yoy (year on year) dibandingkan periode sama tahun lalu karena jumlah KPM juga meningkat dari 51 ribu KPM pada periode sebelumnya.

Sedangkan Program Keluarga Harapan (PKH) yang tersalurkan sebanyak Rp1,46 triliun kepada 429 ribu KPM, meningkat 1,2 kali selama tahun 2019 dari Januari sampai Juli 2019 (ytd).

Wiwiek menambahkan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) mengalami peningkatan terlihat dari jumlah kartu ATM/Debet (ATM/D) pada Juli 2019 sebanyak 7,14 juta kartu, meningkat dari Juni 2019 sebanyak 7,09 juta kartu.
Dari sisi transaksi ATM/D, pada bulan Juli meningkat secara KTM dari Rp17,7 triliun pada Juni 2019 menjadi Rp19,1 triliun pada Juli 2019 dengan share 70 % transaksi belanja, naik dibandingkan bulan sebelumnya. "Adapun outstanding kartu kredit turun dibandingkan bulan sebelumnya," ungkap Wiwiek.

Menyinggung perkembangan sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah, Wiwiek menyebut dari sisi pembayaran non tunai nominal transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS) pada Agustus 2019 cenderung turun dibanding bulan sebelumnya dengan volume stabil. Penurunan nominal transaksi sebesar Rp2,5 triliun secara mtm. Adapun transaksi selama tahun 2019 meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Sedangkan nominal transaksi melalui Sistem Kliring Nasional BI (SKN BI) hingga Agustus 2019 (ytd-Agustus 2019) cenderung menurun secara yoy yang disebabkan peralihan preferensi transaksi dari cek/BG (bilyet giro) ke transaksi melalui mobile banking atau fintech.

"Diharapkan dengan adanya kebijakan baru SKN BI dapat mendorong transaksi kredit di SKN BI," katanya.

Pengelolaan uang tunai sendiri, menurut Wiwiek, pada Agustus 2019 arus kas di Kota Medan menunjukkan net outflow (uang keluar dari BI) walaupun terjadi penurunan outflow dan peningkatan inflow (uang masuk ke BI).

"Hal ini disebabkan oleh arus balik uang pasca panen di beberapa hasil tani," jelasnya.

Wiwiek juga menjelaskan kegiatan layanan uang di daerah ini. Selama tahun 2019, terdapat 5 Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA BB) baru di Medan. Ada 12 KUPVA BB yang tutup dan 4 KUPVA BB dalam proses perizinan serta terdapat 2 cabang KUPVA BB Dolarasia di wilayah Toba yaitu di Parapat dan Kabanjahe.

Dari sisi transaksi, jelas Wiwiek, pada Juli 2019 transaksi KUPVA BB tumbuh 27 % secara yoy. Secara ytd (year to date) Juli 2019, transaksi KUPVA BB baik pembelian dan penjualan valuta asing (valas) tumbuh 17% secara yoy dari Rp2,39 triliun menjadi Rp2,79 trilliun.

Adapun transaksi Penyelenggaraan Transfer Dana Bukan Bank (PTD BB) pada Juli 2019 tumbuh 29,3% secara yoy yang didorong oleh pertumbuhan transaksi incoming yang mencapai 19,7% dan outgoing yang tumbuh hingga 83,7% (mayoritas ke Malaysia untuk pembayaran sekolah). Namun secara umum transaksi PTD BB baik incoming maupun outgoing ytd Juli hanya tumbuh secara yoy.
"Pangsa pasar transaksi PTD BB adalah negara Malaysia dimana 98% incoming dan 55% outgoing," ungkap Wiwiek. (M2/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments