Sabtu, 25 Mei 2019

Pasien Cacar Monyet Belum Ditemukan di RSHAM

admin Rabu, 15 Mei 2019 13:41 WIB
Ilustrasi
Medan (SIB) -Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sejauh ini belum mengeluarkan surat edaran ke setiap daerah provinsi terkait dengan mewabahnya virus cacar monyet (monkeypox virus) di Singapura.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut dr Yulia Maryani mengatakan, Dinkes Sumut saat ini telah menjalin kerjasama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) khususnya di Bandara Kualanamu dan Pelabuhan Belawan.

"Kita sudah menjalin kerjasama dengan KKP di Bandara," kata dr Yulia Maryani kepada wartawan, Selasa (14/5).

Yulia menjelaskan, kerjasama ini dilakukan, karena KKP memiliki alat berupa thermoscaner atau alat untuk pengukur suhu tubuh. Bila penderitanya berjalan melewati alat itu, maka secara otomatis ia akan terdeteksi.

"Sehingga petugas akan langsung memeriksanya secara klinis. Dan kalau memang benar, maka pasien akan langsung di rujuk ke RSUP H Adam Malik," jelasnya.

Akan tetapi sejauh ini, sambung Yulia, pihaknya sama sekali belum menemukan kasus cacar monyet itu masuk ke wilayah Sumut. Karenanya ia mengimbau kepada masyarakat, terutama yang hendak melakukan perjalanan ke Singapura, agar sedapat mungkin menjauhi sumber penyebarannya.

"Gunakan juga masker untuk pencegahannya. Namun yang terpenting adalah, bagaimana terus menjaga daya tahan tubuh tetap bugar," sebutnya.

Yulia menerangkan, kasus monkeypox ini sempat marak pada tahun 2017 di Central African Republic, Democratic Republic of Congo, Liberia, Nigeria, Republic of Congo, dan Sierra Leone. Penularan penyakit ini berasal dari hewan ke manusia dengan bentuk mirip cacar pada manusia.

"Meskipun jauh lebih ringan daripada cacar, namun monkeyfox ini bisa berakibat fatal. Daerah endemisnya, terutama tersebar di bagian Afrika tengah dan barat, yang merupakan daerah hutan hujan tropis," terangnya.

Yulia menambahkan, dikarenakan monkeypox mirip sekali dengan penyakit ruam lain, seperti cacar, cacar air, campak, infeksi kulit akibat bakteri, kudis, sifilis, dan alergi terkait obat, monkeypox hanya dapat didiagnosis secara pasti di laboratorium khusus dengan sejumlah tes yang berbeda.

Karenanya sambung dia, untuk pencegahannya, upayakan menghindari kontak dengan tikus dan primata terinfeksi serta membatasi paparan langsung terhadap darah dan daging yang tidak dimasak dengan baik.

"Selain itu batasi kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau bahan yang terkontaminasi harus dihindari. Memakai sarung tangan dan pakaian pelindung lainnya saat menangani hewan yang terinfeksi dan ketika merawat orang yang sakit dan menjalani perilaku hidup bersih dan sehat," pungkasnya.

Sementara itu, Kasubag Humas RSUP H Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak yang ditanyai prihal pasien suspect monkeypox di rumah sakit milik Kemenkes ini mengaku belum menemukannya. Akan tetapi lanjut dia, bila nantinya ada pasien yang datang dengan dugaan cacar monyet, pihaknya telah siap untuk untuk memberikan penanganan.

"Sejauh ini belum ada. Tapi kita sudah siap menanganinya, karena kita punya gedung khusus untuk ruang rawat infeksius dengan kapasitas 11 tempat tidur dan SDM yang mendukung," sebutnya. (M17/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments