Senin, 22 Jul 2019

Hasil Survey Prefensi Wisatawan di Sumut

Medan dan Danau Toba Paling Banyak Dikunjungi Wisatawan

Admin Minggu, 16 Desember 2018 10:52 WIB
SIB/Nelly Hutabarat
Medan (SIB) -Pjs Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara Hilman Tisnawan mengatakan, salah satu sektor yang  memiliki potensi untuk menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru adalah pariwisata. Temuan menarik dari survey prefensi wisatawan di Sumatera Utara November 2018 yang dilakukan BI bahwa Medan menjadi lokasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan disusul Danau Toba.

Hilman Tisnawan mengungkapkan hal itu dalam "Pertemuan Tahunan Bank Indonesia  Propinsi Sumut 2018 di Hotel Adi Mulai Jalan Diponegoro Medan, Jumat  siang (14/12). Acara tersebut dihadiri Wagubsu Musa Rajekshah, Ketua Dekranas Sumut Ny Edi Rahmayadi, para pimpinan perbankan, pelaku usaha, pengamat ekonomi, para konsul, akademisI dan asosiasi usaha  dan para kepala daerah

Disebutnya, untuk mendukung pertumbuhan pariwisata Sumut, BI bersinergi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait. Langkah awal sinergi ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman terkait kerjasama pengembangan potensi ekonomi kawasan Danau Toba antara Bank Indonesia dengan Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT) dan Pemkab Tobasamosir.

Ia mengungkapkan, berdasarkan kajian, jumlah wisatawan nusantara dan mancanegara yang masing-masing sebesar 10% akan meningkatkan pertumbuhan Sumut sebesar 0,56%. Saat ini, pangsa sektor pariwisata terhadap PDRB Sumatera Utara sebesar 7,4% dengan tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2017, jumlah kunjungan Wisman ke Sumatera Utara mencapai 261 ribu orang, dengan rata-rata durasi tinggal 6 hari, total belanja 631 dolar AS (Amerika Serikat ) per kunjungan, dan total devisa yang diperoleh 231 juta dolar AS.

Sebagai perbandingan, sebutnya, jumlah kunjungan Wisman ke Bali pada tahun yang sama mencapai 5,6 juta orang dengan penerimaan devisa 6,4 miliar dolar AS diikuti Danau Toba. Di antara kegiatan favorit yang dilakukan wisatawan di Medan yakni  berbelanja di Pasar Petisah dan Pasar Ikan. " Potensi ini perlu dikembangkan lebih lanjut agar dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Medan. Namun ada  faktor yang paling banyak dikeluhkan wisatawan yakni  kualitas jalan dan keamanan transportasi darat," ungkap Hilman.

Di kesempatan itu, katanya, pemerataan kesejahteraan menjadi isu dalam pembangunan Sumatera Utara terutama karena kegiatan perekonomian masih terpusat di Pantai Timur yang pangsanya pada perekonomian Sumatera Utara hampir 75%.

Lebih jauh, indikator kemiskinan Pantai Barat sangat tinggi, terutama daerah kepulauan seperti Nias, dimana persentase penduduk miskin lebih dari 20%. Indikator lainnya yang perlu menjadi perhatian  adalah Nilai Tukar Petani (NTP) Sumut yang telah berada di bawah indeks (100) sejak Februari 2017 sekaligus berada di bawah NTP Nasional (103).

Kemudian, tantangan lainnya adalah iklim investasi yang terutama dipengaruhi oleh 3 faktor  yaitu ketersediaan infrastruktur, insentif yang menarik dan Izin yang mudah. Investasi baik dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sangat dipengaruhi ketersediaan infrastruktur yang memadai mencakup infrastruktur aksesibilitas berupa infrastruktur jalan, rel kereta, pelabuhan dan bandara, sinfrastruktur energi berupa pembangkit tenaga listrik.

Dia juga menyinggung, sekitar 50 %  ekspor Sumatera Utara disumbang kelapa sawit sehingga kondisi ini menyebabkan perekonomian rentan terhadap volatilitas harga di pasar internasional seperti yang terjadi saat ini. 

"Untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas tersebut, perlu upaya penciptaan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru," imbuhnya. (A2/l)
Editor: Admin

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments