Kamis, 21 Nov 2019
  • Home
  • Medan Sekitarnya
  • Mantan Uning Sibolga, Muthia Muchsin Siregar Ajak Kaum Milenial Hidup Sehat Tanpa Rokok

Mantan Uning Sibolga, Muthia Muchsin Siregar Ajak Kaum Milenial Hidup Sehat Tanpa Rokok

redaksi Jumat, 08 November 2019 16:56 WIB
SIB/Dok
Muthia Muchsin Siregar.
Medan (SIB)
Mantan Uning (Putri) Sibolga 2015, Muthia Muchsin Siregar ajak para milenial hidup sehat tanpa rokok. Apalagi saat ini mengonsumsi rokok sudah menjadi trend tersendiri di kalangan milenial. Banyak di antara mereka yang sudah berkenalan dengan rokok sejak usia dini. Hal itu disampaikan Muthia Muchsin Siregar kepada wartawan, Selasa (5/11) di Medan.

Dia menuturkan, istilah 'sebat' merupakan kepanjangan dari sebatang dan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah sebatang rokok. Tidak diketahui dengan pasti siapa pencetus istilah ini, namun kata tersebut sangat melekat dengan keseharian para milenial. Istilah ini pun sering kali digunakan sebagai awal mula percakapan yang lebih intens.

Menurut Data Riskesdas 2018 menunjukkan jumlah perokok di atas 15 tahun sebanyak 33,8 %. Dari jumlah tersebut 62,9 % merupakan perokok laki-laki dan 4,8% perokok permpuan. "Hasil dari wawancara saya secara langsung menunjukkan 9 dari 10 orang perokok aktif usia 17-25 tahun mengaku, bahwa dorongan dari lingkungan merupakan faktor utama yang menyebabkan mereka mencoba untuk merokok," paparnya.

Menurut survei yang dilakukannya kepada seorang mahasiswa, Muhammad Haichal Muzakkir (20) mengatakan, awalnya cuma ikutan aja, karena gaya pergaulan dan semuanya merokok. Tapi lama-lama merokok jadi kebiasaan. Ada niat buat berhenti, tapi susah, karena lingkungan tidak men-support.

Sementara itu, kemudahan untuk mendapatkan rokok di Indonesia juga menjadi faktor pendukung tingginya angka perokok usia muda di Indonesia.

Menurut Peraturan Pemerintah tentang Tembakau tahun 2012, kata dia, anak di bawah usia 18 memang tak boleh membeli, dibelikan, dan/atau diberikan rokok. Mereka juga tak boleh dilibatkan kegiatan yang disponsori produk tembakau. Namun dalam pelaksanaannya, masih banyak masyarakat yang seakan tutup mata dengan hal tersebut. Mayoritas pedangan hampir tidak pernah menanyakan usia dari pembeli ketika membeli rokok. Ataupun terkadang para pembeli usia muda akan berkata disuruh oleh orang yang lebih tua seperti ayah, abang ataupun paman nya untuk membeli rokok.

Reza Andrean Tamebaha (16, pelajar) ketika diwawancarai Muthia berkata, dirinya pertama kali mencoba merokok ketika SMP dan membelinya di warung di dekat sekolah." Hal tersebut merupakan contoh kecil dari kurangnya kesadaran masyarakat dalam mendukung peraturan pemerintah tentang tembakau tahun 2012. Ketika ditanya mengenai dampak negatif dari merokok, hampir semua responden dapat menjawab dengan sangat baik," katanya.

Hal tersebut, lanjut dia, berarti sebenarnya mereka paham namun tetap melakukan hal yang jelas merugikan bagi diri sendiri. Karena sudah menjadi gaya hidup dan sulit lepas dari rokok. "Tidak jarang pula mendapatkan ajakan berupa "sebat dulu lah" sebelum ingin pulang, yang sangat sulit untuk ditolak. Dikarenakan sudah menjadi kebiasaan, remaja itu pun kerap melontarkan ajakan yang sama kepada teman yang lain," tuturnya.

Pada zaman sekarang, kata dia, banyak anak muda yang merokok pada awalnya agar dapat terlihat keren dan dapat masuk ke dalam sebuah pergaulan tertentu. Memang tidak ada paksaan dari pihak manapun, melainkan keinginan dari dalam diri sendiri untuk mencoba terlihat sama seperti yang lain. Atau dapat dikatakan sebagai salah satu proses dalam pencarian jadi diri, namun yang sangat disayangkan hal tersebut menjadi sebuah candu. Pernyataan tersebut didukung oleh teori Amstrong (1995) yaitu merokok sebagai "penopang" dalam bermasyarakat.

Fakta tersebut, lanjut dia, memunculkan pertanyaan, mengapa harus mengikuti tren yang memiliki dampak buruk bagi diri sendiri. "Jika bisa menciptakan tren baru yang positif mengapa tidak? . Itu dapat dimulai dari diri sendiri. Tidak perlu mengkambing hitam-kan pergaulan dan lingkugan, karena setiap keputusan yang diambil merupakan 90% atas kesadaran diri sendiri. Maka untuk berhenti merokok pun dibutuhkan kesadaran dan komitmen dari diri sendiri pula.

Mengapa gaya hidup 'sehat' yang sudah lebih lama dikampanyekan belum bisa menjadi tren bagi kaum milenial ? ucapnya. (M11/t)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments