Selasa, 12 Nov 2019
  • Home
  • Medan Sekitarnya
  • Lahan 5000 Meter Persegi di Kualanamu Dibeli Tahun 2011, Hingga Kini Belum Diserahkan ke HKBP

Seluruh Asset Tanah dan Bangunan HKBP akan Didata

Lahan 5000 Meter Persegi di Kualanamu Dibeli Tahun 2011, Hingga Kini Belum Diserahkan ke HKBP

Senin, 08 Juni 2015 14:41 WIB
Medan (SIB)- Komite Asset Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menyarankan agar tanah milik HKBP seluas 5000 meter persegi di Kualanamu, Deliserdang, Sumut supaya dijadikan pusat kegiatan rohani. Lahan yang berada di ruas jalan menuju Bandara Kualanamu itu dibeli HKBP tahun 2011 dari Ir Elbiner Silitonga MBA untuk dijadikan Retreat Center HKBP. Namun sebelum dibangun, Komite Asset akan mempertanyakan status kepemilikan tanah di sekitar Kualanamu ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Deliserdang agar tidak tumpang tindih, mengingat lahan di sekitar Bandara Kualanamu banyak yang merupakan eks Hak Guna Usaha PTPN IX sekarang menjadi PTPN II.

Juru bicara Komite Asset HKBP, Sahat Simatupang kepada wartawan mengatakan,   dari dokumen yang dimiliki HKBP diketahui tanah itu dibeli dari pengusaha Elbiner Silitonga. Perlu diperjelas batas kepemilikannya agar BPN mudah mensertifikasi. Sebab, antara HKBP dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN dalam waktu dekat akan menjalin kerjasama (MoU) untuk mempermudah sertifikasi lahan.

" Ini seiring dengan semangat tata kelola lahan sosial dan tempat ibadah oleh Kementerian Agraria BPN yang sudah diprakarsai  Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PB NU," ujarnya, Minggu (7/6).

Jika selesai disertifikasi, lahan HKBP di Kualanamu bisa dibangun sebagai tempat ibadah terpadu dilengkapi fasilitas modern. Tanah tersebut adalah eks Hak Guna Usaha PTPN II (eks PTPN IX) yang sudah berakhir dan diklaim sudah dibagikan kepada beberapa pengusaha perumahan pada masa Gubsu Raja Inal Siregar antara tahun  1988 - 1998. Sebelum bandara berdiri  Raja Inal Siregar menyerahkannya kepada PT Pangripta untuk membangun komplek perumahan Metro City (Kota Baru).

Dari penelusuran dokumen dan investigasi yang dilakukan Komite Aset HKBP, pada rapat Badan Usaha HKBP tahun 2012 lalu, di Hotel Grand Cempaka, Jakarta yang dihadiri antara lain Dumoli Siahaan, Ignatius Pakpahan, Elbiner Silitonga, Aminudin Manurung dan Manerep Pasaribu, terungkap bahwa HKBP membeli tanah seluas 5000 meter persegi dengan harga Rp 300 ribu per meter. HKBP mentrasfer uang melalui Bank BNI sebesar Rp 1,5 miliar ke PT Pangripta Investama.Uang pembelian lahan itu diambil dari kas HKBP pada 7 April 2011 oleh Bendahara Umum HKBP saat itu Pdt BM Siagian.

Lokasi tanah yang dibeli HKBP itu adalah site plan kompleks perumahan Metro City Kualanamu. Namun hingga saat ini belum diserahkan kepada HKBP. Secara khusus,  Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata sudah menyerahkan masalah yang terkait sertifikasi lahan HKBP di Kualanamu kepada Komite Aset. Dasar pembelian lahan di Kualanamu adalah persetujuan pimpinan HKBP ketika itu Ephorus DR Bonar Napitupulu dan Kepala Departemen Koinonia DR Jamilin Sirait." Mereka juga sudah pernah meninjau lokasi lahan. Namun sayangnya lahan itu belum diserahkan kepada HKBP," tutur Sahat.

Anggota Komite Aset HKBP Romein Manalu mangatakan, seluruh aset HKBP berupa tanah dan bangunan akan didata komite. Kerja komite menurut Romein akan dibagi dalam beberapa divisi. Salah satunya adalah Divisi Investigasi yang dipimpin Wakil Ketua Komite Aset HKBP AKBP Maruli Siahaan yang dipercaya Mabes Polri menduduki jabatan baru sebagai Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut.

Pendataan aset tanah dan bangunan HKBP, ujar Romein, terus dilakukan Komite Aset dengan tujuan percepatan sertifikasi dan legalisasi. Dalam waktu dekat, kata Romein , Ephorus HKBP WTP Simarmata dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan akan bertemu menandatangani MoU percepatan legalisasi dan sertifikasi aset HKBP. Ir Elbiner Silitonga yang dihubungi SIB terkait pembelian lahan 5000 meter persegi itu tidak memberi tanggapan apa-apa. “Saya no commentlah”, ujarnya. (A12/c)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments