Sabtu, 16 Nov 2019
  • Home
  • Medan Sekitarnya
  • LAPK: Fungsi Intelijen Polisi Harus Ditingkatkan Antisipasi Maraknya Kejahatan

LAPK: Fungsi Intelijen Polisi Harus Ditingkatkan Antisipasi Maraknya Kejahatan

Rabu, 13 Mei 2015 10:19 WIB
Medan (SIB)- Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) Dr Farid Wajdi SH MHum mengatakan, tahun 2015, Kota Medan dan Sumatera Utara pada umumnya seakan tak pernah sepi dari kasus kejahatan. Maraknya kasus kejahatan dalam berbagai bentuk seperti perampokan, pencurian dengan kekerasan, peredaran Narkoba belakangan semakin meningkat dan menjadi momok warga.

“Sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, polisi dituntut untuk lebih sigap mengantisipasi tindak kriminal ini,” kata Farid di Medan, Senin (11/5).

Dikatakan, merujuk pada pemberitaan media massa secara kualitas dan kuantitas tren kejahatan terus menaik. Oleh itu, polisi harus buat langkah yang tidak monoton, sehingga tidak mudah dibaca penjahat. Artinya, jangan ada kejadian baru polisi bergerak. Cuma menunggu laporan di kantor, sedangkan kejahatan tetap saja terulang.

Kepolisian perlu meningkatkan patroli keamanan dan polisi diminta membuat terobosan baru mencegah tindakan-tindakan kriminal. Peningkatan patroli itu penting karena masyarakat rindukan kehadiran polisi di tengah-tengah mereka. Melihat kondisi keamanan dan banyaknya kasus kejahatan terkini situasinya sudah sangat miris, Polisi wajib lebih mengintensifkan patroli di lingkungan masyarakat.

Selain itu, meningkatkan fungsi intelijen dalam mengungkap pelaku kejahatan. Dengan begitu, dapat mendeteksi keberadaan pelaku kejahatan, baik ketika akan melakukan aksi kejahatan, maupun dalam pelarian setelah melakukan tindak kejahatan. “Fungsi intelijen harus ditingkatkan untuk mengantisipasi bentuk perampokan yang marak terjadi saat ini.”

Masyarakat menaruh harapan besar untuk polisi mengungkap dan menuntaskan kasus-kasus yang ada, namun kehadiran polisi dengan patroli rutin dan perpaduan akan lebih baik lagi untuk tindakan preventif (pencegahan). Perlu dipahami, sebenarnya polisi sudah paham akan pengenalan kejahatan di suatu wilayah, atau pemetaan wilayah rawan kejahatan. Harusnya ada tindakan khusus atas wilayah-wilayah rawan.

Dikatakannya, untuk antisipasi kejadian kejahatan yang terus terulang Polda Sumut dan Polres se-Sumut perlu membuat langkah khusus yaitu langkah untuk deteksi. Salah satu langkah, misalnya menyebar personel-personel polisi ke lokasi-lokasi rawan kejahatan.

Merujuk lansiran media massa kejahatan jalanan seperti penjambretan dan perampokan dan khususnya di angkutan umum termasuk kasus yang menonjol. Perlu dicatat bahwa ada pergeseran jam rawan kejahatan, khususnya kejahatan dari malam menjadi siang hari.

“Kalau polisi tidak meningkatkan kinerja, masyarakat saat ini sedang dalam kondisi apatis terhadap sistem. Mereka tak lagi percaya dengan sistem hukum di Indonesia. Aparat penegak hukum tak lagi diyakini sebagai pelindung dan pengayom karena mereka dinilai selalu mengabaikan masyarakat yang membutuhkan pertolongan,” kata Farid lagi.

Pilihan masyarakat akhirnya memakai hukum jalanan untuk menghakimi sendiri para penjahat jalanan. (A01/q)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments