Jumat, 18 Okt 2019
  • Home
  • Medan Sekitarnya
  • Kerusakan Hutan Sudah Parah, Masih Ada Pengusaha Garap Lahan Mangrove di Langkat

Kerusakan Hutan Sudah Parah, Masih Ada Pengusaha Garap Lahan Mangrove di Langkat

admin Selasa, 10 September 2019 12:31 WIB
SIB/Lesman Simamora
Oknum pengusaha budidaya udang yang disebut-sebut berinisial Ac membangun tanggul diduga ilegal di atas kawasan Hutan Lindung tepatnya di Desa Kwala Gebang Kecamatan Gebang Kab Langkat, foto direkam, Selasa (3/9).
Gebang (SIB) -Meski kerusakan kawasan hutan di pesisir pantai cukup parah, tapi sejauh ini masih saja ada oknum pengusaha yang menggarap lahan mangrove yang diduga ilegal tepatnya di Dusun I Desa Kwalagebang, Kecamatan Gebang Kabupaten Langkat Sumatera Utara.

Pembuatan tanggul pada lahan mangrove menggunakan excavator yang diperkirakan sepanjang 300 meter sebelah Timur dan 300 meter sebelah Utara menuju Desa Kwala Gebang itu, kini sudah rampung dikerjakan.

Kepala Desa Kwalagebang, Paridah yang dikonfirmasi SIB di ruang kerjanya, Selasa (3/9) mengatakan, dirinya sama sekali tidak mengetahui aksi oknum pengusaha berinisial Ac melakukan pengerukan/pembentengan di kawasan hutan mangrove tersebut.

"Sampai saat ini saya tidak pernah mendapat konfirmasi dari oknum pengusaha terkait adanya kegiatan excavator di dalam kawasan hutan mangrove itu. Yang saya tahu, jauh sebelumnya sudah ada tambak budidaya udang di tengah kawasan hutan yang dirambah tersebut," ucapnya.

Secara pribadi, lanjutnya, dirinya tidak merasa keberatan kawasan hutan mangrove itu dibendung, sebab sebelum itu infrastruktur jalan menuju desanya selalu tergenang air laut saat pasang surut berlangsung.

Disinggung status lahan yang dilingkup, dia mengaku tidak tahu, apakah itu masuk kawasan hutan lindung (HL) atau tidak. "Saya tidak tahu," ucapnya lagi, seraya menyebut pihak kehutanan Wilayah Kabupaten Langkat belum lama ini sudah turun menemuinya terkait pengerukan lahan mangrove tersebut.

Di tempat terpisah didesa yang sama juga ada pengerukan lahan bekas tambak udang di atas kawasan Hutan Lindung (HL) dengan menggunakan excavator, tetapi itu sudah dikelola oknum pengusaha berinisial Ho sejak tahun 1990-an. Hal itu diamini oleh anggota BPD Desa Kwalagebang, Bustami yang ketika itu turut mendampingi Kades Parida.

Menurut Bustami, pengelolaan lahan eks tambak udang yang disebut-sebut loksinya di atas HL yang dikeruk, kini telah diserahkan pengusaha Ho kepada Kelompok Tani Kwala Indah di desanya untuk diusahai lebih lanjut, termasuk dia di dalamnya.

Bustami mengaku heran karena kenapa lahan yang dua hektar diributi, sementara areal perkebunan kelapa sawit di atas HL yang begitu luas di desa itu, tidak dipermasalahkan. Kalau memang lahan HL tidak boleh diusahai, silahkan ditutup aja semua, jangan pilih kasih. "Kalau sejumlah perkebunan kelapa sawit itu ditutup, ya kami pun berhenti berusaha di lahan pertambakan udang tersebut," ucapnya.

Catatan SIB, kawasan hutan mangrove di wilayah Langkat sudah sejak lama dalam kondisi cukup memprihatinkan, namun sejauh ini belum ada tindakan tegas yang dilakukan para pihak berkompeten terhadap para perusak kawasan hutan tersebut.

Terpisah, Kepala Resort Langkat Hilir, H Girsang yang dikonfirmasi SIB melalui telepon genggamnya, terkait pengerukan/pembentengan kawasan Hutan Lindung yang diduga ilegal di Desa Kwalagebang Langkat mengatakan, dirinya tidak berwenang memberi keterangan untuk itu. (M25/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments