Sabtu, 14 Des 2019

Kasus Stunting di Sumut Lebih Tinggi Dibanding Angka Nasional

admin Senin, 16 September 2019 13:44 WIB
Ilustrasi
Medan (SIB) -Kasus stunting di Provinsi Sumut akan menjadi permasalahan sosial untuk ke depan bila tidak segera ditanggulangi. Seperti diketahui, Sumut salah satu daerah penyumbang kasus stunting di Indonesia. Dimana, angka temuannya mencapai 30,8%, yakni lebih tinggi dari angka yang ditetapkan nasional sebesar 30,5%.

Oleh sebab itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr Alwi Mujahit Hasibuan menyebut satu dari tiga orang anak di Provinsi Sumut dipastikan akan mengalami stunting. "Satu dari tiga anak ini jangankan untuk bersaing dengan anak-anak dari negara lain, dengan teman di lingkungannya sendiri saja dia pasti akan kesulitan," kata Alwi, Minggu (15/9).

Ia menjelaskan kasus stunting ini sebetulnya dapat diintervensi hingga temuannya menjadi nol kasus. Caranya dengan memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada anak selama dua tahun.

Pemberian ASI itu, terangnya menurut hasil penelitian dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia yang diperolehnya, yaitu dilakukan selama delapan kali perhari sampai sang anak merasa kenyang. Hal ini, kata Alwi, maka sudah cukup untuk memenuhi gizi dari sang anak agar terhindar dari stunting.

"Jadi sebenarnya stunting ini kalau diintervensi yakni di 1.000 hari pertama kehidupan. Mulai dari konsepsi di dalam rahim (gizi ibu), kemudian pemberian ASI selama dua tahun. Kalau kedua hal ini bisa kita jaga dengan baik, stunting itu harusnya nol," jelasnya.

Alwi membandingkan, pada masa dirinya dilahirkan pada tahun 1965 lalu, kehidupan masyarakat serba sulit. Dimana untuk makan ikan, sepotong harus dibagikan kepada empat sampai enam orang sekali makan.

Namun begitu angka stunting dan kekurangan gizi, tutur dia, justru malah rendah. Sebab, para orangtua sadar untuk memberikan ASI kepada anaknya selama dua tahun penuh.

"Malah dulu ada istilah, jangan banyak makan ikan, karena nanti akan cacingan. Tapi kenapa di zaman itu tidak seperti sekarang yang angkanya sampai 30,8%. Karena ibu pada masa itu menyusui anaknya selama dua tahun," ucapnya.

Alwi meyakini, semua ibu tentu sayang pada anaknya. Hanya saja ia berpendapat, banyak ibu yang tidak begitu paham bagaimana cara menyayangi anaknya dengan benar, sehingga masalah stunting ini bisa sampai terjadi.

"Untuk itu, kita dari Dinas Kesehatan berencana untuk menggandeng Karang Taruna sebagai penggerak untuk menanggulangi stunting ini. Paling tidak dia bisa melakukan pendampingan bila ada ibu hamil dan menyusui di desanya," tuturnya. (M17/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments