Kamis, 19 Sep 2019

Jambore Petani Muda 3

Jumlah Petani Indonesia Terus Menurun

admin Rabu, 11 September 2019 13:27 WIB
SIB/Dok
Narasumber: Perwakilan dari Tanijoy Jainal Damanik, Wakil Dekan III Fakultas Pertanian USU Rabu Supriatna, Manager Penjualan Pupuk Korporasi PT Petrokimia Gresik Trudo Nainggolan dan Manager Promosi dan Perencanaan Pemasaran PT Petrokimia Gresik Junianto Simaremare menjadi narasumber pada Jambore Pemuda 3 di Medan Sabtu (10/9).
Medan (SIB) -Rendahnya minat generasi muda untuk menekuni bidang pertanian menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah. Sebab, saat ini yang terlibat dalam usaha budidaya pertanian kebanyakan orangtua.

"Rata-rata yang bekerja di sektor pertanian saat ini berusia 45 tahun ke atas. Anak mudanya sangat minim. Padahal pertanian memiliki potensi yang luar biasa besar dalam menghasilkan financial," kata Manajer Promosi dan Perencanaan Pemasaran PT Petrokimia Gresik, Junianto Simaremare kepada wartawan, Selasa (10/9) di aula gedung pascasarjana Fakultas Pertanian, Medan.
Karena itulah, kata dia, Petrokimia Gresik menggelar Gerakan Jambore Petani Muda 3 Petrokimia Gresik .
Kegiatan ini dilakukan kerjasama dengan Fakultas Pertanian di 12 universitas di Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Junianto didampingi Manager Penjualan Pupuk Korporasi PT Petrokimia Gresik Trudi Nainggolan, Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Tavi Supriana, dan perwakilan dari Tanijoy, Jainal Damanik,
Dikatakan Junianto, dalam waktu 10 tahun, jumlah rumah tangga petani turun 20% atau hilang sekitar 15,6 juta. Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat setiap tahun dan pertumbuhan penduduk itu berbanding lurus dengan kebutuhan pangan nasional.

"Artinya, peran serta generasi muda di sektor pertanian sangat dibutuhkan untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional," ujarnya.
Sebagai solusi agroindustri, lanjut dia, PT Petrokimia Gresik mengajak anak muda yang memiliki minat dan konsentrasi dalam memajukan sektor pertanian dalam kegiatan Jambore Petani Muda 3. Mereka yang memiliki ide bisnis di bidang pertanian yang berorientasi profit, namun juga memiliki dampak positif bagi lingkungan sosial sekitar dapat berpartisipasi dalam gerakan ini.

Menurut Junianto, tahun ini merupakan yang ketiga kalinya Jambore Petani Muda diadakan sejak dimulai pada 2017 lalu, Pada 2017, kegiatan ini berfokus pada anak-anak muda berusia 25-30 tahun yang sudah aktif di bidang pertanian dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah. Mereka kemudian memberi motivasi kepada generasi muda mengenai masa depan bidang pertanian yang menjanjikan.

Tahun 2018, Petrokimia fokus kepada SMK Pertanian. Ada 83 SMK Pertanian di Indonesia yang diajak bekerjasama dengan membuka kelas inspiratif.

"Dan tahun ini, kita fokus pada calon-calon sarjana pertanian. Kita bekerjasama dengan fakultas pertanian dari 12 universitas, seperti USU, UGM, IPB, Unsoed, UB, Unpad, Unila, UNS, UNEJ, Udayana, Unhas dan Universitas Lambung Mangkurat," terangnya.
Wakil Dekan III Fakultas Pertanian USU, Tavi Supriana, menyambut positif kegiatan ini sebagai salah satu cara untuk mendukung generasi muda terjun ke bidang pertanian.

"Fakultas Pertanian USU mendorong para mahasiswanya untuk menjadi wirausahawan di bidang pertanian. Dalam 5 tahun terakhir, kewirausahaan sudah menjadi bagian dari kurikulum di Fakultas Pertanian USU, lengkap dengan praktikumnya. Kita juga memiliki Program Kemandirian Mahasiswa (PKM) untuk membantu pendanaan bagi mahasiswa yang terjun ke bidang ini," terangnya.
Manajer Penjualan Pupuk Korporasi PT Petrokimia Gresik, Trudo Nainggolan, mengatakan, nantinya 12 tim terbaik dari setiap universitas mendapat kesempatan memaparkan idenya secara langsung di depan dewan juri.

Tiga ide bisnis terbaik akan mendapat program mentoring secara khusus oleh para CEO yang memiliki keahlian di industri pertanian, yakni CEO PT Petrokimia Gresik, Rahmad Pribadi, CEO Tanijoy Muhammad Nanda Putra, dan CEO Agradaya, Andhika Mahardika. Di samping itu, ke-3 tim itu juga akan memperoleh dana untuk pengembangan bisnisnya.

Sementara perwakilan Tanijoy, Jainal Damanik mengatakan, sebagai lembaga financial technology (fintech), Tanijoy aktif terlibat dalam membantu pengembangan pertanian Indonesia, khususnya di Sumut.

"Kita mempertemukan investor dengan para petani. Di samping itu, kita juga bekerjasama dengan vendor-vendor untuk membantu kebutuhan petani, seperti pupuk, benih, dan sebagainya, serta membantu pemasaran komoditas pertanian. Seperti yang kita lakukan di Kabupaten Humbahas dan Karo dalam mengembangkan tanaman kentang dan jagung," jelasnya.

Junianto Simaremare berharap, Gerakan Jambore Petani Muda ini dapat menjadi titik awal untuk memacu semangat dan pengembangan agrosociopreneur generasi muda di bidang pertanian, dengan PT Petrokimia Gresik sebagai wadah yang menjembatani startup dan generasi muda agar bisa saling menyampaikan idenya.

"Hingga akhirnya para generasi muda ini tidak hanya memperoleh mentoring dari para CEO handal, namun juga memperoleh investasi dan networking dengan para investor. Sehingga mereka dapat mengimplementasikan bisnisnya untuk mengembangkan sektor pertanian Indonesia," tambahnya. (R5/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments