Selasa, 21 Mei 2019

Jumlah Pasien Rawat Jalan RSJ Prof DR M Ildrem Meningkat

admin Kamis, 14 Maret 2019 16:43 WIB
Ilustrasi
Medan (SIB) -Jumlah kunjungan pasien rawat jalan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof DR M Ildrem selama tahun 2017-2018 meningkat.

Wadir Pelayanan RSJ Prof DR M Ildrem dr Dapot Gultom SpKJ MKes menyebut jumlah kunjungan rawat jalan di tahun 2017 sebanyak 16.229 pasien. Sementara di tahun 2018 jumlahnya sebanyak 16.899 pasien. "Dilihat dari per bulan tahun 2017 ke tahun 2018 juga ada peningkatan," kata Dapot, Rabu (13/3).

Peringkat pertama diagnosa kunjungan rawat jalan di 2017, pada gangguan skizotipal dan gangguan waham sebanyak 13.846 kasus, disusul gangguan suasana perasaan (afektif) sebanyak 1.209 kasus dan gangguan mental organik sebanyak 316 kasus.

Untuk diagnosa kunjungan rawat jalan tahun 2018 terbanyak gangguan skizotipal dan gangguan waham mencapai 14.661 kasus, disusul gangguan suasana perasaan (afektif) sebanyak 1.185 kasus dan gangguan mental organik sebanyak 303 kasus.

Sementara, jumlah pasien rawat inap 2017 dan 2018 mengalami penurunan. Di 2017, jumlah rawat inap mencapai 2.026 pasien. Sedangkan di tahun 2018 jumlah rawat inap menurun menjadi 1.682 pasien.

"Diagnosa pasien rawat inap pada 2018, gangguan skizotipal dan gangguan waham. Diagnosa pasien rawat inap di tahun 2017, gangguan skizotipal dan gangguan waham, gangguan mental organik, gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psiko aktif, gangguan suasana perasaan, gangguan neurotik, somatufarm dan gangguan yang berkaitan dengan stres serta retardasi mental," sebutnya.

Ia menyebut pasien yang berobat paling banyak dari warga Kota Medan sebanyak 30% disusul warga Deliserdang, Langkat, Siantar dan daerah Sumut lainnya. Namun, presentasinya tidak begitu besar. "Usia pasien paling banyak dari 17 sampai 45 tahun dan jenis kelamin pasien rawat inap kebanyakan laki-laki," sebutnya.

Dapot mengatakan penanganan pasien emergency dirawat maksimal selama 40 hari. "Setelah dirawat 40 hari dan dinyatakan diperbolehkan dokter untuk pulang, kita menghubungi keluarganya. Memang ada juga keluarga pasien enggan menjemputnya kembali. Untuk jalan keluarnya, kita antarkan ke rumah keluarganya," ungkapnya.

Dapot juga menyebutkan jumlah pasien rawat inap hingga awal Maret 2019 mencapai 350 orang. "Jumlah ini menurun semenjak diberlakukan BPJS Kesehatan dari 2014 yang memakai sistem rujukan. Selain itu, di setiap rumah sakit daerah sekarang sudah ada tenaga psikiater dan bisa ditangani oleh rumah sakit daerah. Memang ada juga pasien yang emergency dibawa kemari. Misal pasien emergency seperti membahayakan orang lain, membahayakan lingkungan dan membahayakan dirinya sendiri," ujarnya. (A17/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments