Jumat, 06 Des 2019

Investasi Bodong Dilaporkan Puluhan Nasabah dan Karyawan ke Polrestabes Medan

admin Rabu, 11 September 2019 13:15 WIB
SIB/Roy Surya Damanik
KORBAN INVESTASI BODONG: Sejumlah nasabah yang menjadi korban investasi bodong mendatangi Mapolrestabes Medan untuk membuat laporan terkait penggelapan uang nasabah yang diduga dilakukan CV Baitul Maal wa Tamwil, Selasa (10/9).
Medan (SIB) -Puluhan warga mendatangi Mapolrestabes Medan dengan membawa barang bukti berupa berkas untuk membuat laporan terkait penggelapan uang nasabah yang diduga dilakukan CV BMT, Selasa (10/9).

Salah seorang nasabah, Reza yang diwawancarai di Mapolrestabes Medan mengaku ia menginvestasikan uangnya Rp 30 juta. Diungkapkannya bahwa setiap nasabah mendapat keuntungan investasi sebesar 11% per tiga bulannya.

"Saya sudah 1 tahun bergabung sebagai nasabah perusahaan itu. Kalau investasi 11% yang diberikan dari jumlah deposit pertiga bulan. Untuk menjadi nasabah hanya melampirkan fotocopy KTP beserta uang deposit. Kalau kita investasi Rp 5 juta itu pertiga bulan dapat sekitar Rp125 ribu. Namun di sini ada dijanjikan bunga, reward dan semakin banyak modal semakin banyak bunganya," ungkapnya.

Sementara itu salah seorang karyawan CV BMT berinisial TM (22) yang diwawancarai mengatakan perusahaan yang memiliki 6 cabang dan satu kantor pusat itu tidak bernaung di bawah pengawasan OJK.

"Diduga perusahaan sudah kalut mengembalikan dana nasabah. Lebaran kemarin banyak melakukan penarikan dana. Saya dan rekan kerja lainnya mendapat teror dari nasabah. Wajar saja nasabah meminta uang mereka. Sementara dari perusahaan lari dan tidak tahu kejelasan. Sebelumnya perusahaan telah mencicil dana nasabah meski tidak semua. Kini karyawan dan nasabah belum menemui titik terang terkait uang investasi yang ditanam sejak awal bergabung," bebernya.

Sedangkan HN (24) yang juga diwawancarai mengaku ia kurang lebih 6 bulan bekerja sebagai marketing di perusahaan itu sekaligus mengambil angsuran nasabah.

"Kerja kami dari pagi sampai tengah hari cuma keliling. Tengah hari sampai sore duduk-duduk di kantor saja. Untuk dapat bekerja, pihak perusahaan menahan ijazah karyawannya sebagai bentuk jaminan dan dikontrak 6 bulan. Selama itu tidak boleh diambil ijazah. Awal September lalu semua ijazah karyawan di cabang Sutrisno Medan dipulangkan. Tidak ada kepikiran bahwa perusahaan akan tutup," katanya.

HN menyebutkan, jika ia mendapat nasabah atau membawa nasabah untuk menanam modal (investasi) akan dijanjikan mendapat 0.5% dari jumlah deposit.

"Kami kalau nyari nasabah mendapat fee 0,5% dari investasi. Lain lagi jika nasabah membuka tabungan, kami mendapat Rp 1000 per nasabah," jelasnya.

Disinggung terkait perusahaan yang diduga milik keluarga ini tidak terdaftar di OJK, HN mengatakan telah memiliki 7 cabang dan kantor pusat di Jalan TB Simatupang. Kalau cabang lainnya di Pakam, Binjai, Jalan Sutrisno Medan, Delitua, Setiabudi, Marelan.

"Kantor di Jalan Sutrisno terakhir buka pada 2 September 2019. Sementara kantor di TB Simatupang buka terakhir 6 September. Gaji kami juga tidak dibayar sejak Agustus. Jumlah karyawan di kantor cabang Sutrisno kurang lebih 15 orang," sebutnya sembari menambahkan perusahaan tersebut telah beroperasi sejak 2007.

Pantauan wartawan, terlihat para nasabah dan karyawan sedang berdiskusi dengan petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Setelah diberi penjelasan, petugas menyarankan kepada para korban untuk membuat kuasa serta mengumpulkan berkas yang menjadi alat bukti. Dimana nantinya satu orang yang mewakili untuk membuat laporan. Selanjutnya para nasabah masih bertahan di Mapolrestabes untuk mengumpulkan alat bukti.

Petugas SPKT yang tak ingin namanya dikorankan mengatakan akan menerima laporan korban setelah berkas-berkas dilengkapi. Laporan nantinya akan diwakili satu orang. (M16/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments