Kamis, 24 Sep 2020

Forum Dialog Lintas Agama

Gejala Berkembangnya Aliran Kepercayaan Sesat di Sumut Harus Diantisipasi

Kamis, 11 Juni 2015 14:34 WIB
Medan (SIB)- Meski kondisi sosial kemasyarakatan di Sumut saat ini masih kondusif, namun gejala berkembangnya aliran kepercayaan menyimpang atas nama agama menjadi ancaman yang harus diantisipasi.

Demikian salah satu kesimpulan Forum Dialog Lintas Agama dan Tokoh Masyarakat dengan narasumber Guru Besar UIN Sumut Prof DR Syahrin Harahap MA, Assisten Intelijen Kejatisu Nanang Sigit Yulianto SH MH dan Kepala Badan Kesbangpol Linmas Sumut Drs H Eddy Syofian Purba MAP, Selasa (9/6).

Dialog di Aula Kantor Bupati Langkat, Stabat itu dibuka Wakil Bupati H Sulistianto atas kerjasama Badan Kesbangpol Linmas Sumut dan Pemkab Langkat. Intinya tentang pemahaman bersama pencegahan kekerasan dan radikalisme serta antisipasi  aliran sesat di Sumut.

Prof Syahrin menegaskan, agama-agama masuk ke Indonesia bersifat damai, bukan dengan kekerasan. Setiap upaya mencegah kekerasan mendapat dukungan dari komunitas agama karena semua agama tidak mengajarkan kekerasan.

"Oleh sebab itu paham radikalisme adalah impor dan bukan asli budaya anak negeri," ujarnya.

Asisten Intelijen Kejatisu juga mengakui aliran kepercayaan masyarakat telah menunjukkan perkembangan khususnya yang diindikasikan sebagai aliran kepercayaan yang menyimpang atas nama agama atau sesat.

"Sementara itu berbagai permasalahan penodaan agama belum dapat diselesaikan secara tuntas, terutama pelarangan dan pembubaran organisasinya. Kondisi ini merupakan ancaman terjadinya potensi konflik yang dapat mengganggu kondusivitas," ujarnya.

Oleh sebab itu lanjutnya peran Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) atau Tim Pakem sangat strategis dalam menjaga ketertiban dan ketenteraman umum sehingga harus direvitalisasi.

Kepala Badan Kesbangpol Linmas Sumut Drs H Eddy Syofian Purba MAP mengemukakan, untuk menangkal kekerasan dan radikalisme,  setiap umat beragama harus memperkuat pemahaman dan penghayatan keagamaannya secara baik dan benar.

Selanjutnya pemahaman multikultural harus semakin mendasari kehidupan masyarakat yang beragam dari berbagai aspek. "Ini patut dikembangkan, bukan saja di kalangan elit, tetapi harus meresap menjadi bagian dari nilai dan persepsi masyarakat luas," ujarnya.

Pada sesi akhir dialog Prof Syahrin mengemukakan beberapa pemikiran untuk mencegah deradikalisasi, antara lain mewujudkan pemerintahan yang adil dan pro kebenaran, mengembangkan pemahaman agama yang moderat, penguatan nasionalisme, mengembangkan kesadaran akan humanisme agama, reaktulisasi humanisme kurikulum pendidikan agama. (rel/A16/w)
 
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments