Kamis, 24 Sep 2020
  • Home
  • Medan Sekitarnya
  • Direktur CV Sumber Medica Diduga Terlibat Korupsi Pengadaan Alkes RSU Perdagangan

Terungkap di PN Medan

Direktur CV Sumber Medica Diduga Terlibat Korupsi Pengadaan Alkes RSU Perdagangan

Selasa, 22 September 2015 11:37 WIB
Medan (SIB) - Direktur CV Sumber Medica, Effendi diduga terlibat dalam dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) RSU Perdagangan, Kabupaten Simalungun, senilai Rp5 miliar yang bersumber dari APBN-P 2012.

Hal itu terungkap dari keterangan saksi dalam persidangan perkara itu di Pengadilan Tipikor Medan, dengan terdakwa Wan Kek alias Sumitro. Dalam perkara ini, negara dirugikan Rp3 miliar lebih.

Penasihat hukum terdakwa, Yunus Timotheus, Sabtu (19/9), mengatakan, dari keterangan saksi itu, Effendi harus ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu).

Berdasarkan keterangan saksi bernama Usli pada persidangan tanggal 9 September 2015 lalu (dalam perkara Wan Kek alias Ali Sumitro), kata dia, dijelaskan pemesanan barang-barang berupa alat-alat kesehatan untuk RSU Perdagangan, Kabupaten Simalungun, kepada suplier dilakukan seseorang bernama Effendi.

"Penyerahan barang yang telah dipesan diserahkan kepada Effendi. Dan pembayaran keseluruhan pemesanan Alkes tersebut juga dilakukan Effendi," ujar Yunus.

Yunus menambahkan, pihaknya merasakan ada kejanggalan dalam proses pemeriksaan beberapa terdakwa, khususnya Andrianto (sudah divonis) dan Wan Kek, sejak penyidikan dilakukan Kejatisu, di mana dalam keterangan kedua terdakwa pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP) telah berulang kali disebutkan adanya aliran dana kepada seseorang bernama Effendi.

Hal ini juga terungkap dalam surat putusan No.50/Pid. Sus-TPK/2015/PN.Mdn atas nama terdakwa Andrianto. Begitu juga dengan keterangan terdakwa Wan Kek dalam persidangan terdakwa Andrianto.

Dalam kesaksian itu, terdakwa Wan Kek juga menyatakan, adanya voucer/slip BNI Cabang Pemuda Medan membuktikan adanya aliran dana ke Effendi.

Namun, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejatisu tetap tidak menetapkan Effendi sebagai tersangka terlebih lagi sebagai terdakwa di persidangan.

Dalam dicatum ketiga putusan No 50/Pid.Sus-TPK/2015/PN-MDN atas nama terdakwa Andrianto, disebutkan, benar terdakwa Andrianto telah bekerjasama sedemikian rupa dengan drg Amrianto, Jon Elyas Susanto Saragih, Wan Kek  alias Ali Sumitro, Ramli Sagala dan Effendi serta M Syahrin Ihsan. Adanya kerjasama dengan peran masing-masing, dimana peran masing-masing tersebut dalam mewujudkan terjadinya tindak pidana korupsi.

"Dengan demikian telah jelas Effendi turut serta berperan dalam perkara a quo (korupsi). Berdasarkan hal di atas, Kepala Kejatisu harus segera menetapkan Effendi sebagai tersangka, karena terlibat secara bersama-sama dalam perkara dugaan korupsi pengadaan Alkes RSU Perdagangan," tegas Yunus.

Sebelumnya, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejatisu, R Zega kepada wartawan pernah mengatakan, pihaknya akan meneliti kembali proses penyidikan. Fakta dan keterangan yang terungkap di persidangan bisa dijadikan alat untuk menjerat tersangka baru.

"Jika ada alat bukti kuat diperoleh, baik terungkap di persidangan, kita akan tahan Efendy. Tapi, kita masih menunggu hasil atau perkembangan di persidangan. Saat ini, penyidik belum menemukan bukti itu. Dan Effendi masih berstatus sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi ini," kata R Zega Berdalih.

Diketahui, Wan Kek selaku rekanan pengadaan alat kesehatan (Alkes) di RSUD Perdagangan, Simalungun, didakwa JPU Hendri Sipahutar, melakukan tindak pidana korupsi yang menyebabkan kerugian negara Rp3,3 miliar dari total anggaran Rp5 miliar. (A11/y)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments