Kamis, 18 Jul 2019

BPPI Kritisi Pergub 21, Pramuwisata yang Ahli di Sumut Hanya 60 Orang

* Ben Sukma: Banyak Organisasi Pariwisata, Tapi Orang-orangnya Tak Ngerti Pariwisata
Rabu, 12 Agustus 2015 11:39 WIB
Medan (SIB)- Wakil Ketua Umum Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI), Ben Sukma, selaku praktisi bisnis pariwisata senior di daerah ini, tiba-tiba mengkritisi Peraturan Gubernur (Pergub) No.21 tahun 2015 tentang Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Propinsi Sumut, baik soal proses penerbitannya maupun soal isi dan substansinya.

'Pergub No.21 tahun 2015 tentang HPI ini dibuat terkesan asal jadi dengan input-input yang dangkal. Selain karena prosesnya tak melibatkan mitra terkait seperti asosiasi travel selaku pihak utama yang menggunakan jasa pramuwisata (guide), isinya juga belum mencakup klasifikasi dan fungsi guide itu sendiri. Setidaknya, Pergub ini diterbitkan setelah menggelar semacam penyuluhan atau Diklat dan sertifikasi pramuwisata di daerah ini," ujar Ben Sukma kepada SIB di kantornya, Selasa (11/8).

Soalnya, ujar Presiden Direktur Sukma International Hotel & Travel Group itu, para pramuwisata di Sumut tidak lagi pernah menjalani pembekalan atau diklat pemerintah atau Dinas Pariwisata Daerah propinsi sejak 1996. Itu berarti, sudah 19 tahun atau hampir 20 tahun pramuwisata di daerah ini beroperasi dengan status yang kurang jelas yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah berdasarkan Undang-Undang.

Akibatnya, ujar Ben, terbitnya Pergub 21 itu sama sekali tak dibarengi dengan ekspos data pramuwisata di Sumut yang telah dilegalisir sebagai HPI.

Misalnya, tentang jumlah pasti pramuwisata yang ada di Sumut saat ini, mulai dari nama, pendidikan / alumni, keahlian bahasa pandu wisata-nya, alamatnya, kerjanya di perusahaan atau travel mana atau apakah pramuwisata freelance. Ben juga mempertanyakan jumlah guide yang sudah memiliki sertifikat, apakah lebih banyak yang sudah disertifikasi atau justru masih lebih sedikit. Soalnya sejak 1996 tak ada lagi pihak yang menyelenggarakan Diklat atau sertifikasi guide.

Sembari menunjuk data, Ben menyebutkan jumlah pramuwisata yang aktif dan benar-benar ahli dengan bahasa asing di Sumut hanya berkisar 60-an orang saja. Jumlah itu meliputi para guide yang mayoritas mampu berbahasa Inggeris, guide yang mampu berbahasa Belanda hanya 8 orang, fasil berbahasa China (khususnya Hokkian) 8 orang, mampu bahasa Jerman hanya 6 orang dan yang mampu berbahasa Perancis hanya 5 orang.

'Pramuwisata itu tanggungjawab pemerintah, di daerah tanggungjawab Dinas Pariwisata setempat. Bahkan berdasarkan UU No.10 tahun 2009 (tentang pariwisata), khususnya pasal 51 dan pasal 57 menegaskan, pramuwisata sebagai perorangan maupun asosiasi layak mendapat penghargaan bila dinilai berprestasi, plus dana untuk pariwisata ini ditanggung pemerintah.

Artinya, kebijakan mengalokasikan dana untuk pembekalan pramuwisata dengan melibatkan ahli bahasa dari Unimed atau PTS setempat ini jauh lebih penting dibanding menghabiskan dana untuk studi banding. Apalagi kalau studi bandingnya ke destinasi yang belum tentu lebih baik dari Sumut. “Kalau modelnya masih begini, saya berani pastikan SDM pariwisata kita sama sekali belum siap menghadapi MEA 2015 ini. Belum lagi banyaknya muncul organisasi praktisi pariwisata tapi orang-orangnya (pengurus atau anggota) tak mengerti pariwisata," papar Ben.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata (Disbudpar) Sumut Drs Elisa Marbun Msi, menegaskan SDM pariwisata Sumut termasuk pramuwisata sudah siap menghadapi MEA 2015 dengan indikator nyata yang telah diekspos pada Pembekalan Kompetensi dan Sertifikasi SDM Pariwisata selama 3 hari di Hotel Polonia Medan, 5-7 Agustus pekan lalu.

'Pergub No.21 tentang pramuwisata atau HPI itu diterbitkan setelah proses yang melibatkan semua pihak terkait. Itulah sebabnya diterbitkan agar proses pembekalan itu bisa berlanjut. Soal klasifikasi guide muda atau guide madya yang dibandingkan dengan guide lokal atau guide nasional, itu kan hanya teknis pelayanan di objek setempat," katanya kepada pers.

Sementara itu, Ketua HPI Sumut Koes Endro, menyebutkan kalau jumlah pramuwisata atau guide yang hanya 60-an orang di Sumut itu, mungkin data lama pasca vakum atau nihilnya program pemerintah daerah sejak 1996 lalu. Soalnya, saat ini terdapat total 194 orang guide dengan kemampuan berbagai bahasa yang memang tetap mayoritas kemampuan bahasa Inggris.

'Pramuwisata aktif di Sumut saat ini beroperasi di empat daerah destinasi utama di Sumut. Ada 111 orang di Medan sekitarnya, 37 orang di Danau Toba (Parapat-Samosir), 34 orang di Bukit Lawang, dan 12 orang di Brastagi (Karo). Jumlah ini berdasarkan nomor registrasi yang berlaku nasional dan sebagian sudah memiliki sertifikat dan kita terus akan kerja sama dengan Dinas Pariwisata untuk sertifikasi lanjut bagi para guide yang sudah memenuhi syarat," ujar Koes Endro kepada SIB melalui telepon selulernya. (A04/h)


T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments