Minggu, 21 Apr 2019

Medan No 2 Kasus Kekerasan Anak di Sumut

Ayah Kandung Tersangka Cabul Bisa Dikenai Hukuman Kebiri

admin Senin, 11 Februari 2019 14:07 WIB
Ilustrasi.
Medan (SIB) -Tersangka predator kejahatan seksual terhadap 2 anak kandungnya, YA alias Amat (31) di Desa Bandarklippa Percut Seituan Medan terancam hukuman 20 tahun penjara bahkan seumur hidup.

"Jika terbukti melakukan kejahatan seksual terhadap 2 putri kandung yang berusia 9 dan 10 tahun secara berulang-ulang, tersangka bisa dikenakan hukuman tambahan berupa kebiri (kastrasi) dengan cara suntik kimia," ujar Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait kepada wartawan di Medan, Sabtu (9/2).

Menurut ibu korban, R (36), perbuatan yang dilakukan YA terhadap putri kandungnya terungkap setelah putri sulungnya melapor kepadanya pada Rabu (1/12) tahun lalu tentang aksi bejat ayahnya telah mencabulinya. Setiap kali melakukan perbuatan bejatnya, tersangka mengancam korban agar tidak memberitahukan kepada siapapun.

Mendengar laporan putrinya, ibu korban menginterogasi kedua putrinya dan muncullah pengakuan bahwa kejahatan seksual terhadap mereka sudah dilakukan ayah kadungnya berulang-ulang dengan ancaman kekerasan sejak tahun 2015. Tidak terima akan perbuatan suaminya, R kemudian melaporkan kasus itu ke Poltestabes Medan.

"Mengingat tersangka adalah orangtua kandung korban yang seyogianya menjaga dan melindungi anaknya dan mengingat pula bahwa perbuatan YA merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) setara dengan tindak pidana Narkoba, korupsi dan terorisme, saya percaya dan yakin benar penyidik Unit PPA Polrestabes Medan tidak akan ragu dan pasti menerapkan ketentuan tindak pidana luar biasa kepadanya. Sehingga Jaksa Penuntut Umum (JPU) diharapkan pula dapat menuntut tersangka dengan ancaman hukuman seumur hidup," ujarnya lagi.

Ancaman pidana tersebut sebagaimana dimaksud dalam ketentuan padal 81 ayat (1), (2) junto 76D atau pasal 82 ayat (1), (2) junto 76E UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Atas maraknya kasus kejahatan seksual terhadap anak, baik yang dilakukan anak dan orang dewasa secara perorangan dan bergerombol di Kota Medan, maka sudah saatnya Pemko Medan segera membangun gerakan bersama memutus mata rantai kekerasan terhadap anak di lingkungan rumah, sekolah dan ruang publik. Hal itu harus melibatkan semua lurah dan anggota masyarakat di masing-masing lingkungan kelurahan di Kota Medan.

Sebab Medan masuk urutan kedua dari 33 kabupaten/kota di Sumut setelah Kabupaten Deliserdang terbanyak dijumpai anak korban kekerasan. Sepanjang tahun 2018 saja di Deliserdang dilaporkan 149 kasus kekerasan terhadap anak, sementara itu di Kota Medan dilaporkan 112 kasus. Dengan demikian tidaklah berlebihan jika Kota Medan darurat kekeradan, tidak ramah dan tidak layak bagi anak. (A13/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments