Sabtu, 07 Des 2019
  • Home
  • Medan Sekitarnya
  • Atlet Karate Berprestasi Tinggal Kelas, Kadisdik Diimbau Evaluasi Kepala SMAN 21 Medan

Atlet Karate Berprestasi Tinggal Kelas, Kadisdik Diimbau Evaluasi Kepala SMAN 21 Medan

admin Kamis, 18 Juli 2019 10:44 WIB
SIB/Evy Daeli
Mediasi : Pertemuan mediasi dilakukan antara pihak sekolah dan orangtua di SMAN 21 Medan, Selasa (16/7).
Medan (SIB) -Hendi Saputra Butarbutar seorang siswa SMAN 21 Medan satu di antara 12 siswa yang dinyatakan tinggal kelas atau naik pindah, lantaran prestasi akademiknya dianggap turun. Padahal Hendi merupakan atlet karate berprestasi yang telah mengukir sederet prestasi olahraga karate di tingkat nasional maupun internasional.

"Prestasi akademik Hendi nilainya anjlok, dan kepribadiannya juga kurang sopan terhadap guru. Jadi atas rapat dewan guru pihak sekolah sepakat tidak menaikkan Hendi ke kelas yang lebih tinggi, namun telah memberikan toleransi kepadanya dengan mengeluarkan kebijakan, yakni memberi surat rekomendasi naik kelas tetapi harus pindah ke sekolah lain," kata Sunariyo Kepala SMAN 21 Medan, kepada SIB di Medan, Selasa (16/7).

Namun demikian, saat dikonfirmasi apakah pihak sekolah tidak memberikan nilai tambahan karena Hendi merupakan siswa berprestasi dalam bidang olahraga, dia justru mengaku tidak mengetahui bahwa siswanya tersebut berprestasi, padahal Hendi sering meminta izin dari sekolah untuk mengikuti pertandingan.

"Tidak, kami tidak tahu itu, prestasi apa dia? Lagian kalaupun dia berprestasi bukan juga membawa nama sekolah," kata Guru BP Asmara Dewita SPd dan Hapsa di hadapan orangtua Hendi yang saat itu memertanyakan alasan anaknya tinggal kelas.

Bukan itu saja, beberapa guru sempat menghardik wartawan SIB yang hendak mengonfirmasi dan mengklarifikasi masalah tersebut. "Kamu siapa, apa urusanmu, apa kapasitasmu dalam masalah si Hendi ini? tanya Hapsa sambil menunjukkan jarinya ke wartawan SIB.

Perlakuan tidak menyenangkan juga ditunjukkan beberapa guru saat pertemuan antara pihak sekolah, orangtua dan wartawan. Bahkan seorang guru yang diketahui bernama Dian Augusri Sinaga merokok saat mediasi berlangsung, dan Darmawati mengkritik keinginan orangtua Hendi yang memertahankan anaknya untuk tetap sekolah di situ.

Sementara orangtua Hendi, S Nadapdap dan M Butarbutar mengaku kecewa atas sikap dan tindakan tak wajar pihak SMAN 21 Medan kepada anaknya. Mereka menduga ada sentimen pribadi sehingga anaknya tidak naik kelas.

"Dari sebelum ada keputusan dinyatakan tinggal kelas, wali kelasnya Ibu Novi sudah berulang kali mengancam si Hendi akan ditinggal kelaskan. Bukan itu saja, perlakuan guru olahraganya pernah meminta panitia untuk mencoret nama anak saya dari daftar Olimpiade Olahraga Siswa Nasional.

(O2SN) dan justru mengikut sertakan temannya yang prestasinya jauh di bawah Hendi. Karena tak terima anak saya dicoret, terpaksa saya mendaftarkannya pakai uang pribadi saya," kata M Butarbutar.

Sementara menanggapi hal tersebut, Antoni Pasaribu selaku guru besar karate Sumatera Utara mengecam keras tindakan pihak sekolah terhadap siswa berprestasi yang seharusnya didukung penuh bakatnya.

"Hal yang sangat konyol dan bodoh jika ada sekolah yang tidak tahu menahu tentang siapa saja siswanya yang berprestasi, apalagi yang sudah membawa harum negara. Hendi ini aset negara yang seharusnya mendapatkan dukungan penuh dari sekolah dimana ia menuntut ilmu. Saya meminta dengan tegas agar Kadisdik SU segera mengevaluasi kinerja guru-guru di SMAN 21 Medan, khususnya guru olahraganya yang mengabaikan prestasi siswanya," kata Antoni Pasaribu yang juga wasit karate Asia itu.

Menaggapi hal tersebut, Kadisdik SU melalui Kabid SMA Disdik SU, Zuhri Bintang sangat prihatin dan menyayangkan tindakan yang dilakukan pihak sekolah baik terhadap siswanya maupun kepada wartawan Harian SIB. Zuhri Bintang berjanji akan mencoba mengkoordinasikan masalah ini kepada pihak sekolah, jika terbukti akan diberikan sanksi administrasi.

"Seharusnya sekolah itu tahu siapa saja siswanya yang berprestasi, bukan berarti karena tidak membawa nama sekolah, serta merta mengabaikan prestasi yang dimiliki si anak. Sekolah harusnya memertimbangkan hal ini," kata Zuhri Bintang. (M20/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments