Selasa, 29 Sep 2020

    Wakil Sekjen: PP Muhammadiyah Miliki Kriteria Calon Presiden

    Senin, 10 Maret 2014 12:35 WIB
    Medan(SIB)- Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah, Dr H Abdul Mu’ti, MEd kepada wartawan usai membuka Seminar Nasional Ikatan Alumni UMSU se Jabodetabek di Garuda Plaza Medan, Sabtu (8/3/2014) mengatakan, Muhammadiyah memiliki sikap dalam menentukan presiden ke depan sesuai dengan keputusan Tanwir Muhammadiyah di Bandung tahun 2012.

    Ada tujuh kreteria pemimpin nasional khususnya presiden yang diinginkan Muhammadiyah, salah satunya tidak lagi menjadi pemimpin partai politik tertentu. Selain itu moralitas baik dan mampu menegakkan moralitas, tidak hanya pada dirinya tetapi dalam konteks kehidupan kebangsaan.

    “Presiden mendatang, harus seorang yang mampu membangun solidaritas, mampu membangun dan mensolidasikan kekuatan bangsa yang sebaik-baiknya dan seorang yang mampu menyelesaikan masalah dan bukan justru menjadi bagian dari masalah atau bermasalah dan menciptakan masalah.

    “Pemimpin ke depan harus berani mengambil resiko atas segala yang menjadi keputusan politiknya meskipun ada tekanan, ada orang yang tidak suka, tetapi jika itu benar dan sesuai dengan konstitusi dan mengarah kepada kebaikan harus jalan terus,” katanya.

    Abdul Mu’ti menegaskan, presiden tidak boleh mengambil keputusan karena kepentingan lobi tertentu dan bukan yang kepentingan bangsa makanya pemimpin ke depan harus berani mengambil resiko dengan kepemimpinan itu.

    “Dalam konteks ini, seorang presiden harus memiliki konteks yang kuat dimana bangsa ini harus dibangun. Jangan sampai presiden tidak memiliki arah dan terus-terus berubah,” katanya.

    Abdul Mu’ti meyakini akan ada figur yang sesuai dengan kreteria Muhammadiyah. Tetapi persoalannya masih terkendala dua hal yakni presiden sesuai dengan UUD dicalonkan partai politik dan gabungan partai politik. Selain itu, dipilih oleh rakyat.

    “Proses yang paling penting yakni bagaimana partai bisa mengambil keputusan yang jernih, arif, dan melihat kepentingan bangsa secara keseluruhan. Kalau kira-kira menurut kepentingan bangsa tidak memiliki figur calon presiden yang tepat, seharusnya partai tersebut legowo dan mengusung figur lain. Problemnya saat ini bermutu atau tidak bermutu yang penting ketua partai saja maju,” katanya.

    Saat ditanya jika tidak ada figur yang sesuai kriteria Muhammadiyah, apakah harus Golput? Abdul Mu’ti menegaskan, golput bukan pilihan yang arif karena menyerahkan keputusan kepada orang lain. Makanya, dia mengajak masyarakat ikut memutuskan jangan hanya menjadi kelompok yang mengikuti keputusan orang lain. Terlepas dari kualitas calon, lanjutnya masyarakat diminta untuk berpartisipasi pada pemilu caleg karena hasilnya akan menentukan kemenangan partai politik dalam mengusung calon presiden dan wakil presiden makanya tahapan ini harus dilalui dengan baik karenanya harus menentukan pilihan dengan baik. 

    Sementara Rektor UMSU, Dr Agussani MAP mengatakan ide seminar nasional bertema “Formulasi model kepemimpinan ke depan menjelang Pemilu Presiden 2014” digagas alumni UMSU dan juga alumni perguruan tinggi muhammadiyah se nusantara. “Sebagai rektor UMSU saya menyampaikan sangat mendukung karena akan ada sinergy sehingga nantinya pertemuan ini menjadi satu kekuatan serta ada konsolidasi setiap tahun antara alumni Muhammadiyah se nusantara,” katanya.

    Agussani berjanji akan mensosialisasikan kepada pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah untuk mendukung  hasil dari pertemuan tersebut. (A2/w)

    Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


     
    T#gs
    Komentar
    Komentar
    Silakan Login untuk memberikan komentar.
    FB Comments