Senin, 10 Agu 2020

    Tes Keperawanan Bagi Siswi Bentuk Pelanggaran HAM

    Jumat, 13 Februari 2015 19:47 WIB
    Medan (SIB)- Koordinator Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Sumut, Drs Oberlin Charles Tambunan, menilai wacana  tes keperawanan bagi siswi merupakan bentuk pelanggaran hak azasi manusia. "Wacana itu sudah bergulir, ini kan bisa menjadi bentuk pelanggaran hak azasi manusia," ujarnya saat disambangi di kantornya, Rabu petang (11/2).

    Keperawanan dapat terjaga jika adanya indoktrinasi moral kepada siswi. Pasalnya wacana yang dinilai berlebihan tersebut berkaitan aib pribadi seseorang. "Tugas Komnas PA ini untuk melindungi anak, semua kita bertanggung jawab menjaga dan melindungi anak anak bangsa. Ingat program Presiden Jokowi menganjurkan revolusi mental, jadi institusi keluarga, agama, pemerintah bertanggung jawab bersama memberi pemahaman kepada siswa pentingnya moral, bukan membuat tes keperawanan," tuturnya.

    Gaya hidup anak dan remaja saat ini sangat berpengaruh pada keadaan berkembangnya budaya luar yang bergulir, baik aspek fashion dan pola fikir. "Kami melihat faktor keadaan sosial budaya kita yang terus berkembang bisa dibendung dari pemahaman yang diberikan orangtua anak dan remaja kita, ini untuk antisipasinya, marilah kita sama sama melindungi anak kita," ujarnya.

    Ia mencontohkan, dalam waktu dekat ini Hari Valentine atau Valentine Day merupakan budaya luar yang berpengaruh di benak remaja bahkan orang dewasa. Itu kan bukan budaya timur, tidak ada itu bentuk kasih sayang yang sebebas bebasnya," ujarnya.

    Oberlin Charles mengharapkan tes keperawanan bagi siswi tidak mesti dilakukan, Pasalnya tidak ada seorang pun yang ingin diketahui aibnya. Hal itu sebagai indikator psikologis manusia. "Itu kan aib, janganlah dengan maksud  mencegah generasi muda agar tidak menyimpang ke seks bebas, dibuat tes keperawanan.

    Pemahaman moral dan ajaran agama sangat penting untuk membendung permasalahan itu," tuturnya. (Dik-FL/i)
    T#gs
    Komentar
    Komentar
    Silakan Login untuk memberikan komentar.
    FB Comments