Minggu, 05 Apr 2020

    Pengamat Sosial Shohibul Anshor :

    Krisis Listrik Di Sumut Sangat Kompleks Dan Lemahnya Perencanaan PLN

    Minggu, 11 Mei 2014 21:17 WIB
    Medan (SIB)- Pengamat sosial politik Shohibul Anshor Siregar mengatakan, energi listrik bukan hanya untuk   penerangan untuk nonton televisi dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Tetatpi listrik juga prasyarat investasi/industri.

    “Kita tidak tahu penurunan kapasitas produksi Inalum kalau energi listrik yang dia miliki dialihkan ke sasaran lain , kata Shohibul, Jumat (9/5) .

    Menurutnya memang betul tak dapat dibantah bahwa sejak direncanakan dari awal (tahun 70-an) Inalum itu diandalkan untuk sekaligus menjawab kebutuhan energi listrik di Sumatera, tak cuma Sumatera Timur.

    Dilema serius ini juga menjelaskan bahwa janji Presiden SBY dua bulan lalu yang menyatakan krisis listrik teratasi dalam dua bulan rupanya tak berisi jawaban jitu,katanya.

    “Kita paham bahwa ekonomi tak mungkin tumbuh tanpa investasi dan iklim investasi itu diprasyaratkan adanya energi listrik.

    “Jika harus mengorbankan industti Inalum mestinya itu hanyalah untuk sementara saja, menunggu semua rencana normalisasi listrik yang sudah ada bisa dijalankan secara sempurna, kata Shohibul.

    Dikatakannya, krisis listrik di Indonesia khususnya di Sumut sangat kompleks dan mengindikasikan lemahnya perencanaan dan tata kelola PLN yang berakar pada kebobrokan sistemik pemerintahan.

    Sudah terlanjur bahwa semua BUMN dan BUMD menjadi ATM dan tak ada yang bisa merehabilitasinya. Sangat tak mendidik saat SBY menjelaskan  krisis listrik pertanda pertumbuhan. Itu malah menyembunyikan masalah ini yang begitu kompleks, kata Shohibul.

    Menurutnya, defisit PLN sebesar 380 MW itu bukan saja disebabkan pertumbuhan atau demand saja. Tetapi pertumbuhan yang tidak diantisipasi dengan baik dan benar.

    Ibarat seorang anak yang sejak umur tiga tahun hingga delapan tahun memakaikan celana yang sama dan sudah menggantung. Betul ada pertumbuhan (anak itu makin tinggi hingga celananya menggantung).Tetapi sekaligus memberi penjelasan bahwa keluarga tempat anak hidup itu miskin dan tak mampu membeli yang baru. Mengapa ? Itu yang tak dijawab oleh SBY.

    Proyek panas bumi Sarulla yang diasumsikan bisa memberi jawaban melalui eksploitasi panas bumi sudah berusia enam belas tahun. Tidak ada progres. Indikasinya ialah negeri ini ingin menjual saja dan menyerahkan kepada kapitalis asing. Kedaulatan kita tak jelas, katanya. 

    “Jangan kita lupakan bahwa ratusan miliar dolar uang rakyat digunakan bayar Inalum agar lepas dari Jepang ke pangkuan RI. Sekarang 100 persen milik RI, mau kita korbankan menutupi korupsi listrik yang adalah ulah buruk PLN. PLN harus bertanggung jawab atas krisis listrik yang terjadi di Sumut, jelas Shohibul Prihatin.  

    Secara terpisah Direktur   Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) Farid Wajdi kepada wartawan di Medan belum lama ini mengatakan , seperti diduga krisis listrik byarpet di Sumatera Utara bakal tak berujung ternyata benar adanya.

    Meskipun Presiden SBY, Gubernur Sumut dan para menteri terkait energi listrik telah bertemu, duduk bersama, mencari solusi, PT PLN tetap mengulah. Tak lama pasca-pelaksanaan pemilihan legislatif (Pileg) 9 April lalu, PT PLN kembali melakukan pemadaman bergilir.

    Dikatakannya, solusi krisis listrik di Sumatera Utara tidak bakal selesai kalau cuma rapat, menerbitkan surat keputusan, dan taburan wacana. Mereka selalu lupa mengeksekusi, sehingga solusi tak kunjung terurai.

    Sebenarnya sangat ironis, karena saat listrik byar pet, siswa atau mahasiswa dalam pelbagai tingkatannya sedang berlangsung ujian sekolah. Sesuatu yang sangat mengganggu dan sulit diterima akal sehat. Bagaimana para pelajar dan mahasiswa dapat ujian dengan baik dan tenang, kalau listrik senantiasa byarpet. Tak peduli apakah pagi, siang, sore atau malam?

     Dikatakan Farid,krisis listrik di Sumut, telah terjadi selama lebih kurang 9 tahun. Pertanyaannya, mengapa krisis listrik di Sumatera Utara seperti tak ada solusi? 

    Sebenarnya kalau Sumut ingin segera keluar dari krisis energi listrik adalah dengan mengonversi seluruh daya 640 MW proyek PT Inalum dipakai untuk PLN. Sistemnya adalah sewa Inalum. Pilihan itu lebih bermanfaat dan logis dibandingkan dengan menyewa genset dari luar negeri. Solusi Inalum dikonversi jauh itu lebih logis. Konstruksi berpikir bahwa pabrik Inalum untuk sementara dihentikan sambil menunggu peremajaan mesin. Sewa listrik 640 MW selama tiga tahun dapat digunakan pemerintah untuk membayar tunai harga Inalum termasuk dengan biaya modernisasi mesinnya,katanya.

    Solusi krisis cuma dapat diatasi dengan kerja nyata dan tanggung jawab penuh dari para pemangku kepentingan. Jadi, posisi Inalum dalam situasi krisis listrik adalah mesin penyelamat. Inalum adalah kebijakan tanggap darurat konkrit dalam mencari jalan keluar krisis listrik. Solusi lain adalah pelengkap. Ibarat sebuah perang, Inalum adalah tentara amfibi yang membuka jalan dan mengamankan masuknya tentara reguler untuk menaklukkan musuh. (A2/w)
    T#gs
    Komentar
    Komentar
    Silakan Login untuk memberikan komentar.
    FB Comments