Senin, 10 Agu 2020

    Jika Peduli, Pemko dan PLN Bisa Hasilkan Listrik dari 1500 Ton Sampah di Medan

    *Sampah di DKI Sudah Bisa Hasilkan Listrik 2 MW
    Jumat, 12 September 2014 10:31 WIB
    Medan (SIB)- Selain bimasa limbah sawit dan pembangkit minihidro, Sumatera Utara juga berpotensi menghasilkan listrik dari sampah dan tenaga surya. Namun, kedua energi terbarukan ini masih belum diolah, sedangkan di Jakarta sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)  Bantargebang sudah dimanfaatkan menjadi Pembangkit Listrk Tenaga Sampah (PLTS).

    Rektor ITM Medan Prof Dr Ilmi Abdullah MSc, Rabu (10/9) mengatakan di Medan, setiap hari sampah yang dihasilkan 1.500 ton, baik sampah organik maupun non organik. Sampah yang akan dijadikan bahan bakar harus melalui tahapan-tahapan. Tahap pertama, sampah disortir untuk memisahkan yang tak bisa menjadi bahan bakar seperti batu serta pecahan kaca. Setelah disortir sampah dihancurkan. Setelah dihancurkan setidaknya ada 1.100 ton sampah atau berkurang 400 ton.

    Sampah yang sudah dihancurkan itu kemudian dikeringkan dan terdapat 60 persen dari jumlah 1.100 ton sampah yang bisa dijadikan bahan bakar. “Bila dikonversikan ke solar, tiga kilogram sampah setara dengan 1 liter solar. Berarti 600 ton sampah yang menjadi bahan bakar sama dengan 200 ton solar,” katanya.

    Menurutnya kalau dihitung-hitung 1.500 ton sampah mampu menghasilkan 20 MW listrik per harinya. Bagi Ilmi, PLTS di Medan bukan hal mustahil, karena Jakarta sudah lebih dulu menerapkannya di TPA Bantargebang. “Jakarta menghasilkan sampah 5.000 ton per harinya,” katanya.

    Padahal katanya, PLTS Bantargebang hanya memanfaatkan gas metan yang dihasilkan sampah yang sebelumnya dibiarkan menumpuk sejak lama. Cara kerjanya, gas metan dari sampah dialirkan menuju pipa untuk menjadi bahan bakar sebelum mengolah sampah menjadi bahan bakar.

    “Dengan 5.000 ton sampah dapat menghasilkan minimal 20 MW. Saat ini hanya dihasilkan 2 MW karena sisanya dijadikan kompos. Sedangkan keuntungan penggunaan sampah sebagai bahan bakar PLTS tidak hanya mampu menghasilkan listrik, tetapi juga memiliki manfaat dari sisi estetika,” katanya.

    Artinya, listrik bisa dapat dan sampah tidak berserakan. PLTS tersebut belum dilirik PLN termasuk Pemko Medan. Pemerintah saat ini lebih berkonsentrasi membenahi pembangkit yang sedang rusak serta proyek kelistrikan yang masih terbengkalai.

    Menurutnya, di mana-mana sampah berserakan saja tapi Pemko pun tak peduli.

    Padahal Malaysia sudah menggunakan PLTS sebagai alternatif untuk menghasilkan listrik. “Saya tiga tahun mengelola proyek di negeri jiran tersebut,” katanya lagi.

    Bayangkan saja kata Ilmi, PLTS ini diminati investor Korea dan Jepang, namun sayangnya pemerintah Indonesia belum siap. Selain menghasilkan setrum, sampah juga memberi pemasukan tambahan bagi warga sebagai penghasil kompos.

    Pasalnya, 40 persen sampah biasanya akan menjadi kompos yang memiliki nilai ekonomis tinggi, setidaknya 28 ton kompos per hari bisa didapat. Ia menambahkan, tidak ada efek samping dari PLTS. Hanya saja lokasinya dekat dengan sumber bahan baku atau pelayanan sampah terintegrasi. “Saat ini banyak TPA sudah penuh seperti di Namo Bintang dan TPA Terjun. Jangan sampai nanti gasnya meledak karena dibiarkan begitu saja,” katanya. (A2/i)
    T#gs
    Komentar
    Komentar
    Silakan Login untuk memberikan komentar.
    FB Comments