Selasa, 25 Feb 2020
Banner Menu
Detail Utama 1

    Dinas Pertanian Provsu Kalim Sumut Surplus 422.440 Ton Beras, Jagung 267.371 Ton

    Bulog "Impor" Lagi 9 Ribu Ton Beras dari Pulau Jawa
    Jumat, 10 Januari 2014 10:21 WIB
    Medan (SIB)- Provinsi Sumatera Utara  selama tahun 2013 mampu mempertahankan posisinya di lima besar lumbung beras Indonesia.Tak hanya surplus beras, provinsi ini juga diklaim mempertahankan prestasi swasembada jagung seperti tahun sebelumnya. Gubsu H Gatot Pujo Nugroho, pun meminta capaian ini harus terus ditingkatkan sepanjang tahun 2014 dengan berbagai pendekatan mutu dan nilai tambah produk termasuk aplikasi paket teknologi pertanian.

    Kepala Dinas Pertanian Sumut Ir HM Roem S MSi didampingi Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumut Ir Setyo Purwadi MM dan Kasubag Humas Pimpinan Harvina Zuhra SPT MSi mengemukakan itu kepada wartawan di Kantor Gubsu di Medan, Senin (6/1/14), sehubungan refleksi 2013 dan proyeksi 2014 Sumut bidang pertanian dan ketahanan pangan.

    "Produksi padi Sumut pada 2013 sebesar 3.665.433 ton gabah kering giling (angka ramalan atau ARAM II) yang setara  2.299.693 ton beras. Dengan produksi tersebut maka Sumut telah mampu berswasembada beras sebesar 122,50 persen sehingga provinsi ini merupakan salah satu lumbung beras nasional atau terbesar ke-5 di Indonesia," klaim Roem.

    Dijelaskannya atas dasar statistik jumlah penduduk Sumut 13.717.595 jiwa dengan produksi beras 2.299.693 ton maka Sumut surplus 422.440 ton atau swasembada 122,50 persen karena kebutuhan beras per tahun 1.877.253 ton. Sementara konsumsi beras masyarakat 136,85 kg per kapita per tahun.
    Kadis menjelaskan, pada tahun 2013 Sumut juga masih tetap swasembada jagung di mana kebutuhan jagung 904.236 ton dengan produksi 1.171.607 ton maka terdapat surplus 267.371ton atau swasembada jagung 129,57 persen.

    Dalam periode tahun 2003-2012, lanjut Kadis laju pertumbuhan produksi padi cukup baik dengan laju pertumbuhan produksi sebesar 0,98 % dan  produktivitas 1,83%. Dari data tersebut  peningkatan produksi berasal dari peningkatan produktivitas.

    "Ditinjau dari ketersediaan sumber daya lahan dan air, kemajuan teknologi, serta dukungan pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pertanian, maka produksi padi di Sumatera Utara masih dapat ditingkatkan baik melalui kegiatan pencetakan areal sawah baru, meningkatkan luas panen dan meningkatkan produktivitas lahan. Apabila ketiga komponen tersebut kita laksanakan Insya Allah dapat meningkatkan ketahanan pangan di Sumatera Utara," jelasnya.

    Kadis mengakui sesuai arahan Gubsu  berbagai program ke depan harus lebih signifikan, terutama beras yang merupakan komoditas strategis karena menjadi makanan pokok penduduk di Sumatera Utara sehingga pertumbuhan produksi beras harus meningkat setiap tahunnya dan merupakan salah satu program pemerintah pusat dalam rangka swasembada beras 10 juta ton pada 2014 sehingga perlu upaya-upaya untuk peningkatan produksi pangan.

    Ketahanan Pangan Kondusif

    Sementara Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumut Ir Setyo Purwadi MM mengemukakan secara umum situasi ketahanan pangan Sumatera Utara tahun 2012 -2013 cenderung semakin membaik dan kondusif. Dilihat dari ketersediaan bahan pangan, ketersediaan komoditi pangan yang surplus selama tahun 2012 – 2013 adalah beras, jagung, ubi kayu, kacang tanah, telur dan minyak goreng.

    Untuk mendukung percepatan Swasembada Beras di Sumatera Utara Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara terus menerus mempromosikan pengurangan konsumsi beras sebesar 1,5 % per tahun dengan menggalakkan diversifikasi pangan melalui penggalian potensi pangan lokal dan penggalian kearifan lokal.

    Dikemukakan, Pemprovsu juga telah melakukan penyusunan Peta Kerawanan Pangan untuk mengetahui lokasi dan faktor penyebab terjadinya kerawanan pangan serta intervensi hasil penyusunan melalui pemberian bantuan dan Penguatan Usaha Kelompok (PMUK) untuk kategori rawan dan agak rawan pangan.

    Sementara itu, Humas Bulog Divisi Regional Sumut Rudi menyebutkan, untuk tahun 2014 ditetapkan penerima Raskin (beras miskin) di Sumut  746.220 RTS (Rumah Tangga Sasaran) dengan per RTS menerima 15 kg  per bulan.

    “Jadi  jumlah RTS tahun 2014 ini masih menggunakan data tahun 2013 yang bersumber dari BPS (Badan Pusat Statistik) Sumut”, ujar Rudi kepada wartawan, Rabu sore (8/1).

    Ia mengatakan, jumlah RTS tersebut merupakan RTS dari kabupaten/kota di propinsi ini. Namun dia tidak merinci masing-masing penerima Raskin tersebut.

    Menyinggung stok beras yang dikuasai Perum Bulog  Divre Sumut  hingga saat ini katanya 65.000 ton  di antaranya 9.000  ton penambahan dari Jawa Timur yang kini lagi tahap bongkar di Pelabuhan Belawan. Dari 9.000 itu yang diimpor dari pulau jawa itu yakni  5.000 ton dari Jawa  Timur yang diangkut  dengan KM (Kapal Motor) Tanto Star Party dan 4.000 ton dengan KM  Ganesa Party. Dengan demikian maka stok total 65.000 ton, ujarnya.

    Stok beras untuk kebutuhan di Sumut sebanyak 4.600 ton katanya sedang dalam proses perjalanan dengan KM Karana 9 dari Sumatera Selatan
    Stok yang didatangkan ke Sumut yakni dari berbagai propinsi di Indonesia, sedangkan dari luar negeri sudah tidak ada lagi didatangkan pembelian stok beras petani lokal di Sumut tidak ada, sebab  harga pembelian ditetapkan pemerintah Rp 6.600 per kg. Sedangkan harga pembelian ditingkat penggilingan mengalami kenaikan dari  Rp  6.600 pe kg  menjadi Rp. 7.200 - Rp 7.400 per kg. Jadi petani condong menjual langsung ke penggilingan.
    Semula tahun 2013 target pembelian beras petani di Sumut sebanyak 15.000 ton, namun realisasinya 310 ton.(A16/A3/ r/W)
    T#gs
    Komentar
    Komentar
    Silakan Login untuk memberikan komentar.
    FB Comments