Rabu, 23 Okt 2019

Tapteng Miliki Alat Pengendali Sirene Warning Bencana Alam

*Terkoneksi Dengan BMKG Pusat
Jumat, 17 Januari 2014 14:16 WIB
SIB/Jan Piter Simorangkir
Kepala BNPB Tapteng Bonaparte Manurung dan Rahmat, operator BNPB Pusat di Pusat Pengendali Operasi (Pusdalop) menera induk Pandan, Rabu (15/1), menjelaskan sistem kerja modular office dan sistem sirene, sebagai warning bencana
Tapteng (SIB)- Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), salah satu daerah rawan bencana alam, kini telah memiliki alat pengendali sirene untuk peringatan ( warning ) terjadinya bencana alam seperti banjir, longsor, tsunami dan gelombang pasang.

Sepenuhnya akan dikendalikan di Pandan sebagai pusat pengendali operasi dan  terkoneksi langsung dengan Badan Meteorologi,Klimatologi dan Geofisika (BMKG) .

Pandan sebagai Pusat Pengendali Operasi (Pusdalop), telah memiliki modular office yang mengontrol semua pergerakan terjadinya bencana alam.

 ”Kantor yang terinterkoneksi dengan BMKG ini akan menganalisa segala sesuatu, termasuk data yang masuk terkait bencana alam di daerah ini,  dan akan disebarluaskan ke seluruh wilayah Tapanuli Tengah agar masyarakat mengetahui,” jelas Rahmat, operator BNPB Pusat yang bertugas di menara induk Pandan.

Sementara itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Alam ( BNPB) Tapteng, Ir.Bonaparte Manurung MM menjelaskan, selain menara induk di Pandan,  juga telah dipasang pemancar sirene di 6 (enam) kecamatan yakni Sorkam, Sosorgadong, Barus, Badiri, Andam Dewi dan Tapian Nauli.

“Pemberitahuan dari menara induk akan segera ditangkap pemancar-pemancar tersebut. Misalkan terjadi bencana di Barus, alat kita yang sudah link  ke BMKG pusat, akan segera diteruskan ke pemancar di  Barus untuk segera disebarluaskan,” sebutnya.

Alat lain yang tersedia di kantor BNPB Tapteng adalah Water Treatment Fortabl (WTP), yang berfungsi sebagai penjernih air, saat terjadi bencana. ”Air yang kotor di lokasi bencana alam setelah diproses dapat dikonsumsi (diminum) saat itu juga,” terang Bonaparte. (E6/c).

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments