Minggu, 17 Nov 2019

Ribuan Warga Peringati Setahun ‘Tragedi’ Kwala Gebang di Perlis

Nelayan Minta *Nelayan Minta Aparat Tegas Tindak Trawl dan Pukat Harimau yang Tetap Beroperasi di Pantai Timur Sumatera Utara
Senin, 13 Januari 2014 15:36 WIB
SIB/Dok
Silahturahim : Anggota Komisi III DPR RI Edi Ramli Sitanggang dari Partai Demokrat didampingi Sekjend AMIB Sumut Indra Utama, Camat Brandan Barat, Kades Perlis Junadi Salim dengan janda dan anak nelayan yang yatim pasca "tragedi" Kwala Gebang, Langkat Min
Langkat (SIB)- Ribuan nelayan dari sejumlah daerah di Pantai Timur Sumatera, Minggu, (12/1), di  Desa Pulau Perlis, memeringati setahun ‘tragedi’ Kwala Gebang, Langkat di mana pada 21 Januari 2013 terjadi amuk warga yang membuat 2 nelayan meninggal. Kegiatan diisi dengan pembacaan doa-doa, pemberian santuan kelanjutan bagi kedua janda dan putra-putri alamarhum yang sudah diangkat menjadi anak asuh anggota Komisi III DPR RI dari Partai Demokrat Edi Ramli Sitanggang SH serta jamuan.

Dalam dialog haru yang membuat sebagian ibu menitikkan air mata, perwakilan nelayan tradisional memohon pada Edi Ramli Sitanggang untuk menyalurkan aspirasi guna menjamin kelangsungan hidup.

“Yang pertama, kami minta diusut tuntas ‘tragedi’ yang membuat keluarga kami meninggal sekaligus mencari tahu di mana jasad yang hingga kini tak tahu rimbanya,” tandas Isfan Rusman, relawan yang memfokuskan diri menjaga hutan manggrove di Pulau Perlis yang kini dirusak pemilik modal.

“Kami minta pada pemerintah, nelayan tradisional dijamin haknya melaut karena 100 persen mata pencaharian warga garis pantai, khususnya di Pulau Perlis dan Pulau Kelantan, melaut...” tandasnya sambil menitikkan air mata.

Lain lagi keluhan Muchtar AR nelayan dari Kwala Serapuh, Abdul Latif Sitorus dari Tanjungbalai - Asahan, Mukhlis dari Tanjungpura, Armensyah Panjaitan dari Asahan, Khaidir Yusuf dan Ramli dari Pulau Perlis.

Semua minta agar pemerintah tegas menindak pengoperasional trawl yang nyata-nyata mematikan usaha nelayan tradisional. “Trawl itu tak hanya menjerat ikat-ikan kecil dan anakan, pasir laut pun disikat. Kami nelayan tradisional mau menangkap apa.

Lama-lama kami ini mati kelaparan,” tandas Muchtar AR sambil minta minta aparat tegas tindak trawl yang tetap beroperasi di garis pantai timur Sumatera Utara.

Abdul Latif Sitorus dan Armensyah Panjaitan mempertanyakan, kenapa kasus trawl di daerah lain tak dapat diseret ke meja hijau. “Kami di Tanjungbalai, bisa menjerat operator trawl yang kasusnya kini masih berjalan di pengadilan,” tandas Abdul Latif Sitorus.

Atas keluh kesah tersebut, Edi Ramli Sitanggang mengatakan pihaknya sudah melakukan langkah protektif untuk nelayan dan mengusut kasus ‘tragedi’ Kwala Bekala, di mana nelayan yang ditahan, dibebaskan tanpa syarat. Ke depan, sesuai perundangan, proteksi nelayan tersebut adalah perundangan.

“Tragedi’ Kwala Gebang adalah kasus penyerbuan ribuan nelayan tradisional dari Desa Perlis, Desa Klantan, Kecamatan Brandan Barat, Kelurahan Sei Bilah Timur dan Sei Bilah Kecamatan Babalan ke perkampungan nelayan Desa Kwala Gebang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat pada Senin, 21 Januari 2013.

Lima kapal pukat harimau dan pukat gerandong dibakar dan sejumlah kapal lainnya yang sedang bersandar dinyatakan hilang. Nelayan trawl di zona tangkapan nelayan tradisional yang dikelola para pengusaha. Insiden itu berujung meninggalnya 2 nelayan Desa Perlis — Suherman dan Syafruddin — seorang hingga kini belum diketahui di mana rimbanya.

“Itu alasan kenapa peringatan setahun dilakukan di Perlis,” tandas Sekretaris Angkatan Muda Indonesia Bersatu (AMIB) Sumut Indra Utama BA, sejumlah kader Partai Demokrat yang memfasilitasi kegiatan bersama panitia besar warga setempat didampingi Waka AMIB Pematangsiantar Drs Mangasa Gultom.
Kegiatan dihadiri Camat Berandan Barat diwakili Erian Azmal, Kades Perlis Junaidi Salim unsur pimpinan dusun dari sejumlah pulau-pulau kecil di wilayah tersebut termasuk keluarga besar nelayan yang meninggal karena insiden dimaksud di atas. (R9/ r)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments