Minggu, 20 Sep 2020

Tenaga Pemanen Minim

Puluhan Ha Padi di Jawamaraja Terancam Gagal Panen

Rabu, 16 September 2020 12:03 WIB
Foto SIB/Revado Marpaung

PADI KERING: Elmeria Tambunan salah satu petani padi di Nagori Jawa Maraja Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi Kabupaten Simalungun menunjukkan padi miliknya yang telah gosong dan kering. Sehingga diperkirakan mengalami gagal panen, Selasa(15/9).

Simalungun (SIB)
Petani di Nagori Jawamaraja Bahjambi, Kabupaten Simalungun kian resah. Pasalnya, puluhan hektare (Ha) tanaman padi siap panen terancam gagal panen karena pemanen minim. Keluhan tersebut disampaikan sejumlah petani padi di antaranya Elmeria Tambunan, B Simangunsong, T Silalahi dan T Sitompul kepada SIB, Selasa (15/9).

Elmeria mengatakan, hampir satu bulan penuh sejak musim panen tenaga pemanen belum juga cukup. Sementara kondisi padi sudah tumbuh dan diprediksi akan mengalami gagal panen bila dibiarkan sampai kering dan gosong.

"Kami tidak tahu lagi mau mengadu kepada siapa. Kalau biasanya gagal panen karena tanaman padi diserang hama penyakit, kali ini berbeda, gagal panen karena pemanen sangat minim, sehingga padi dibiarkan sampai kering dan tumbuh kembali", ungkapnya.

Silalahi mengaku akan langsung mentraktor lahannya dan menganggap musim ini gagal panen meskipun sebenarnya bisa dipanen.

Namun dikarenakan tenaga pemanen padi kurang sehingga dirinya hanya pasrah dengan keadaan. "Sudah hampir dua minggu tak juga ada tenaga pemanen, padahal padi sudah gosong dan tumbuh kembali", keluhnya.

Sementara itu Simangunsong memaparkan nasib para petani akan menderita, bukan hanya karena kekurangan tenaga pemanen, kalaupun ada pemanen, biaya panen pun sangat mencekik leher. Pasalnya, para pemanen menjadi sesuka hati meminta upah panen, ungkapnya.

Sitompul menambahkan akibat tanaman padi kelamaan dipanen, padi menjadi mudah terbakar. "Coba saja dibakar, pasti akan menjalar ke semua areal persawahan yang ditanami padi dan belum dipanen.

Pangulu Jawa Maraja Dirwan Samosir mengaku pada musim panen kali ini petani di nagorinya sangat menderita. Bukan karena tanaman padi diserang hama, tetapi karena tenaga pemanen sangat minim. Sehingga diperkirakan puluhan hektare akan mengalami gagal panen karena terlalu lama dipanen. Bahkan beberapa tanaman padi masyarakat telah ada yang tumbuh kembali padahal belum dipanen, katanya.

Lanjut Dirwan, penderitaan petani pun bertambah karena kalau pun tenaga pemanen ada, mereka seperti mengambil kesempatan dengan langsung mematok biaya panen.

"Kalau biasanya biaya panen 12 persen dari hasil yang dipanen, sekarang tenaga pemanen meminta dengan sistem borongan.

Bahkan ada juga upah pemanen Rp 100 ribu per karung. Jadi kalau hasil panen ada 50 karung, upah pemanen menjadi Rp 5 juta.
Hal inilah yang membuat para petani semakin menderita. Jadi selain dilema, mau tidak mau petani harus menanggung resikonya. Meskipun hasil panen yang diterima lebih sedikit dibandingkan biaya pemanen.

Karena itu, Pangulu berharap agar pemerintah melalui dinas terkait bisa memberikan solusi kepada petani di Nagori Jawa Maraja bagaimana agar tidak terjadi gagal panen total. "Kalau bisa alat pemanen padi segera diturunkan ke nagori kami ini. Jangan pula pemerintah hanya bergantung dan meminta masyarakat produktif, tetapi tidak ada perhatian. Kalau nanti sampai ratusan hektare yang gagal panen dan petani beralih fungsi, dampaknya ketahanan pangan nasional akan semakin berkurang", pungkasnya.(S13/c)

T#gs gagal panenJawamarajaPuluhan Ha PadiTenaga Pemanen MinimTerancam
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments