Jumat, 18 Okt 2019

Proyek Peningkatan Jalan dan Drainase Dana APBN 2013 Masih Dikerjakan di Tanah Karo

Jumat, 17 Januari 2014 14:40 WIB
SIB/Alexander Hr Ginting
EXCAVATOR : Alat berat berupa excavator beroperasi melakukan pengerasan bahu jalan dan pengorekan drainase di Desa Sukadame, Kecamatan Tigapanah, Tanah Karo.
T Karo (SIB)- Proyek peningkatan jalan, bahu jalan dan drainase dana APBN 2013  Kabanjahe-Merek-Dairi dan Kabanjahe-Kutabuluh-Laubaleng wilayah Tanah Karo, sampai Rabu (15/1) masih dikerjakan.

Di antaranya pengerasan bahu jalan dengan rigit beton, pengorekan drainase dan pengaspalan (hotmix) serta pelebaran jalan dan sebagainya. Sementara batas kontrak kerja secara resmi dan diatur sesuai pengaturan keuangan, tiap proyek berakhir 31 Desember 2013.

Demikian pantauan SIB dan laporan masyarakat kepada SIB, Rabu (15/1) di Kabanjahe, Merek dan Laubaleng.

Seperti pantauan SIB di jurusan jalan nasional jurusan Tigapanah-Merek dan Dairi. Ada badan jalan baru separuh dihotmix dan di lokasi lain, pekerjaan pengaspalan (hotmix) dan pengerasan bahu jalan dan pengorekan drainase di desa Sukadame Kecamatan Tigapanah dan penimbunan badan jalan di jalan jurusan Simpangtiga Kabanjahe-Simpangenam, Kabanjahe masih berjalan.

Pengerasan bahu jalan dan pengorekan drainase di lokasi tersebut menggunakan alat berat excavator (beko) dengan roda besi tanpa menggunakan lapisan papan untuk menghindari kerusakan aspal atau badan jalan.

Excavator berbobot lebih 10 ton itu bebas beroperasi di beberapa ratus meter sehingga badan jalan yang baru beberapa bulan dihotmix terancam retak dan rusak.

Warga mengharap agar pihak rekanan atau pihak Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Jalan Nasional Wil I Sumut, BBPJN-I dapat menindak kinerja yang kurang memperhatikan tekhnis dan kualitas pekerjaan tersebut.

Kasatker PJN Wil I BBPJN, Bambang Pardede didampingi PPK 05, Hermansyah yang dikonfirmasi SIB baru-baru ini di ruang kerjanya, Jalan Busi, Medan mengaku gerah dengan ketidaksiapan proyek APBN 2013 di wilayah Tanah Karo.

“Atas ketidaksiapan proyek, sesuai Permenkeu No.25, Pebruari 2012 dilakukan perpanjangan masa pekerjaan 50 hari sampai 13 Pebruari 2014 mendatang.

Jadi kalau sampai 13 Pebruari 2014 tidak siap, baru diberlakukan sanksi dan diantaranya, putus kontrak dan sita jaminan,” katanya.

Disinggung SIB tentang relevansi Permenkeu 25/2012 diberlakukan tahun 2013 atas sejumlah proyek yang tidak siap tersebut, tidak dijawab Bambang dan Hermansyah.

Termasuk ketika disinggung tentang mutu proyek hotmix yang ada masih selapis dan ada sudah dua kali, di antaranya proyek “Kabanjahe cs” di depan kantor bupati Karo, Jalan Jamin Ginting, Kabanjahe dengan kualitas hotmix “Ac Bc” (kasar-red) dikatakannya, itu bisa saja.

“Setahu saya, Kemenkeu 25/2012 itu dikeluarkan berkaitan pada tahun anggaran tersebut akibat kelangkaan aspal. Sementara proyek tahun anggaran 2013 bukan masalah kelangkaan aspal, tapi ketidaksiapan proyek,” tanya SIB lagi.

Lagi-lagi Bambang dan Hermansyah tidak menjawab dengan alasan sibuk dan berjanji akan dijelaskan nanti sepulang dari Jakarta.

Sementara pihak kontraktor, Nelson Matondang yang dikonfirmasi SIB, Selasa (7/1) membenarkan sejumlah proyek yang ditangani belum siap. Sudah kita upayakan menambah tenaga agar galian dapat sesegera mungkin dicor, ujarnya singkat.

Catatan SIB, rincian anggaran rekonstruksi jalan jurusan Kabanjahe-Merek terdiri dari 3 paket. Paket I, Rp16.308.000 sepanjang 4,08 km. Paket ke II, Rp42.750.000.000 sepanjang 14,40 km dan jurusan Merek-batas Dairi (Sumbul) Rp25 miliar sepanjang 10 km. MYC jurusan Kabanjahe-Kutabuluh Rp66.800.000.000, jurusan Kutabuluh-Laupakam (batas Karo dengan NAD) Rp51.250.000.000. (BR2/ r)





T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments