Kamis, 22 Agu 2019

Proyek Multiyears Jalan Nasional di Dairi Terancam Mangkrak

admin Kamis, 14 Februari 2019 13:49 WIB
SIB/Theopilus Sinulaki
RUSAK: Salah satu ruas jalan pada lokasi proyek multiyears di Desa Kuta Buluh Kecamatan Tanah Pinem Dairi belum tersentuh pihak rekanan, sehingga kondisinya sangat memprihatinkan. Foto dipetik Rabu (13/2).
Kuta Buluh (SIB) -Proyek multiyears jalan nasional jurusan Kutabuluh, Kecamatan Tanah Pinem menuju Sidikalang, Dairi yang bersumber dari anggaran APBN 2016, terancam mangkrak. Pasalnya proyek dengan anggaran sebesar Rp240 miliar, dijadwalkan selesai tahun 2019 ini, dikhawatirkan tidak selesai akibat beberapa ruas jalan nasional tersebut sampai saat ini belum tersentuh pekerjaan.
Pihak Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) yang ditangani Satuan Kerja (Satker) Wilayah I telah kembali menyurati pihak General Superintendent (GS) selaku pemimpin proyek dari pihak kontraktor/rekanan.

"Beberapa ruas jalan nasional yang terkena proyek meliputi wilayah Kabupaten Karo dan Dairi belum maksimal disentuh pekerjaannya. Kita khawatir proyek ini nantinya mangkrak akibat kelalaian pihak rekanan. Pihak General Superintendent telah kita surati. Isinya sebagai peringatan keras agar proyek tersebut serius dikerjakan sebelum berakhir masa kontrak. Batas waktu pelaksanaan proyek sudah dekat dan akhir 2019 harus sudah selesai," ujar pihak pengawas saat ditemui wartawan di Kabanjahe, Minggu (10/2).

Pantauan SIB, Rabu (13/2) sepanjang jalan nasional di proyek multiyears tersebut dari Desa Lau Meciho hingga Kuta Buluh masih terlihat sedang dalam pengerjaan, sejumlah alat berat terlihat sedang bekerja untuk pelebaran jalan. Namun beberapa ruas jalan yang terkena proyek multiyears di Desa Kuta Buluh belum tersentuh pekerjaan, sehingga ruas jalan banyak yang rusak bahkan berlobang-lobang.

Sementara kegiatan lain di luar pelaksanaan proyek multiyears, terlihat banyak material galian C yang ditimbun di pinggir jalan, diduga milik pabrik hotmix untuk proyek tersebut di Desa Lau Peranggunen Kecamatan Lau Baleng. Disamping itu, aktivitas galian C terlihat di beberapa tempat di wilayah Kecamatan Lau Baleng. Endapan galian berupa tanah mengendap di badan jalan, bahkan ada yang menutup saluran drainase, sehingga setiap turun hujan, air dari perbukitan mengalir melalui badan jalan. Endapan material galian C dari tanah berubah jadi lumpur dan licin membuat setiap kendaraan sulit melintas. (B01/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments