Senin, 16 Sep 2019

Mediasi Permasalahan Tanah di Desa Aritonang Muara Tak Berujung Damai

* Camat Muara Perintahkan Hentikan Pembangunan Rumah
admin Jumat, 23 Agustus 2019 11:56 WIB
SIB/Bongsu Batara Sitompul
MEDIASI : Camat Muara Richand Situmorang, didampingi Kades Aritonang Erpin Aritonang, dan Kanit Reskrim Bripka Pol P Sianturi memediasi perselisihan tanah di Dusun Huta Nagodang I Desa Aritonang, Rabu (21/8).
Tapanuli Utara (SIB) -Perselisihan tanah warisan di Dusun Huta Nagodang Desa Aritonang Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara, yang dimediasi di Kantor Kepala Desa Aritonang, Rabu (21/8), tidak berujung pada perdamaian.

Perselisihan antara keturunan Opung Raja Thomas Siregar dengan Jusman Siregar, karena Jusman Siregar mendirikan rumah di tanah yang diklaim milik keturunan Opung Raja Thomas Siregar.

Mediasi tersebut dipimpin Camat Muara Richand Situmorang bersama Kades Aritonang Erpin Sianturi dan Kanit Reskrim Polsek Muara Bripka P Sianturi.

Mediasi kedua belah pihak berlangsung hangat dan tak berujung pada perdamaian. Karena itu, Camat Muara memerintahkan pihak Jusman Siregar untuk menghentikan sementara pembanguan rumah yang dilakukan Jusman.

Keturunan Opung Raja Thomas Siregar Gudron Siregar dalam kesempatan itu menjelaskan, silsilah atau 'tarombo' keluarganya, di Dusun Huta Nagodang I. Opung Raja Thomas merupakan keturunan Opung Raja Sojuangan.

"Opung Sojuangan lah yang membuka kampung Desa Huta Nagodang I dan kampung itu diwariskan ke Opung Raja Thomas. Dan kami lah keturunan Opung Raja Thomas. Salahsatu bukti yang jelas adalah makam Opung Raja Sojuangan bersama keturunannya sudah kami satukan dalam tambak di Huta Nagodang I tahun 1994. Selain itu, rumah Batak milik Opung Raja Thomas juga masih berdiri kokoh dan itu menjadi salahsatu bukti. Kami sendiri tidak mengenal Jusman Siregar yang mendirikan bangunan di tanah leluhur kami. Lagian Jusman tidak ada permisi kepada kami, " jelasnya.

Gudron juga mengatakan, masalah tersebut akan dibawa ke jalur hukum. Tidak hanya masalah tanah saja, ia sudah melaporkan Jusman Siregar ke Polsek Muara atas dugaan perusakan dan pencurian beberapa batang pohon dari lokasi tanah leluhurnya.

"Untuk itu, kami keturunan Opung Raja Thomas yang hadir di sini meminta pihak kepolisian supaya memproses laporan kami. Kita kesalkan juga, Jusman Siregar tidak permisi mendirikan rumah ke kami keturunan Op Thomas Siregar. Kenapa Jusman tidak ada permisi ke kami? Kenapa dia tidak membangun sewaktu orang tua kami masih hidup? Jangan dia kira kami tidak mengetahui sejarah kampung itu," katanya.

Jusman Siregar dalam mediasi itu tidak banyak bercerita tentang silsilah atau 'tarombo' keluarganya. Ia mengaku mendirikan rumah di lokasi tersebut karena dia belum memiliki rumah.

"Dari dulu opung kita sudah satu kampung. Saya mengharapkan satu hatilah kita dan jangan terjadi perpecahan karena masalah ini," katanya.

Namun ketika diminta keturunan Opung Raja Thomas supaya dihentikan pembangunan rumah tersebut, Jusman menegaskan, tidak akan menghentikannya.

"Saya tidak akan menghentikan pembangunan rumah tersebut. Kalau memang mau dibawa ke jalur hukum akan saya layani," katanya.

Camat Muara dalam mediasi itu mengatakan, pertemuan itu sudah keempat kali dan belum ada perdamaian antara kedua belah pihak. Ia berharap kedua belah pihak bisa berdamai.

"Kalau memang tidak ada perdamaian lagi, silahkan lanjut ke jalur hukum. Dan dalam forum ini, saya perintahkan Bapak Jusman Siregar menghentikan pembangunan rumah di Huta Nagodang I sementara waktu," ujarnya.
Setelah itu, Camat membubarkan mediasi tersebut.

Kanit Reskrim Polsek Muara Bripka P Sianturi ketika dikonfirmasi SIB mengatakan, pihak keturunan Opung Raja Thomas memang sudah melaporkan Jusman Siregar atas dugaan perusakan.

"Tapi kita bisa memprosesnya kalau ada alas hak si pelapor. Kalau memang si pelapor mau menindaklanjuti masalah sengketa tanah tersebut ke pengadilan, kita tunggulah putusan pengadilan baru bisa kita proses perkara pidananya," ujarnya. (G02/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments