Selasa, 15 Okt 2019

KPPU Medan Selidiki Anjloknya Harga Kopra di Asahan

admin Jumat, 12 Juli 2019 15:43 WIB
Ilustrasi
Medan (SIB) -Aksi para petani kopra Kabupaten Asahan, Sumatera Utara yang mendatangi Istana Negara di Jakarta, untuk mengadukan anjloknya harga kopra, menjadi informasi bagi KPPU Kantor Wilayah I Medan untuk melakukan penelitian guna memelajari data atau menganalisa penyebab tidak menentunya harga kopra di Kabupaten Asahan.

Ramli Simanjuntak selaku Kepala KPPU Wilayah I Medan menyampaikan bahwa salah satu masalah dalam pemasaran kelapa ini adalah kecilnya persentase harga yang diterima petani dari harga yang dibayarkan konsumen. Salah satu faktor dalam masalah tersebut adalah lemahnya posisi petani di dalam pasar.

"Hal ini sangat merugikan para petani dan juga masyarakat konsumen. Harga yang rendah di tingkat petani akan menyebabkan menurunnya minat petani untuk meningkatkan produksinya. Di pihak lain, harga yang tinggi di tingkat konsumen menyebabkan konsumen akan mengurangi konsumsi," kata Simanjuntak melalui realisnya di Medan, Selasa (9/7).

Dikatakannya, dari hasil kajian yang telah dilakukan KPPU, pola perdagangan kelapa di Kabupaten Asahan pada umumnya petani memasarkan kelapa melalui pedagang pengumpul, sedangkan yang langsung ke kilang pengolahan sangat kecil jumlahnya. Dalam upaya menjamin agar bahan baku tepung kelapa tersedia setiap saat, biasanya kilang pengolahan tepung kelapa memberikan modal usaha kepada pedagang pengumpul sebagai panjar untuk membeli kelapa dari petani di desa.

Umumnya masyarakat petani di Kabupaten Asahan dan Tanjungbalai menjual kelapa ke pengumpul. Pengumpul kemudian mengupas kelapa dan memisahkan antara daging dan batok kelapa. Kemudian agen selaku pemilik delivery order (DO) kemudian mendistribusikannya ke kilang pengolahan. Pada desa atau daerah tertentu, pengumpul bisa juga sekaligus menjadi agen.

Lebih lanjut Ramli menuturkan, dari hasil penelitian sementara, di sekitar Kabupaten Asahan dan Tanjungbalai hanya terdapat sembilan perusahaan kilang pengolahan kelapa. Empat di antaranya adalah perusahaan terbesar yaitu CV Sejahtera, UD. Sejati Coconut, PT Sumatera Baru dan PT Pelita Adi Pratama, yang menguasai pangsa pasar ekspor tepung kelapa (dessicated coconut).
"Artinya struktur pasar pada pelaku usaha tepung kelapa di Wilayah Sumatera Utara ini memiliki karakteristik yang memungkinkan pabrikan dapat mengendalikan harga, sehingga tingkat persaingan usaha akan menurun," jelasnya.

Ramli juga menjelaskan, dari penelitian yang dilakukan KPPU ini nantinya akan tergambar secara lebih jelas bagaimana struktur pasar di tingkat petani, pengumpul, pedagang besar, agen dan rantai distribusi diatasnya, bagaimana rantai distribusi kelapa dari produsen sampai ke konsumen dan seperti apa proses penentuan harga di pedagang besar, agen dan rantai distribusi diatasnya sehingga dapat diketahui apa penyebab rendahnya harga pembelian kelapa di tingkat petani.

"Demi kelancaran kegiatan penelitian ini, diharapkan kepada para pelaku usaha dan pabrikan bersikap kooperatif dalam memberikan data dan informasi terkait dengan perdagangan kopra," ujar Ramli. (M09/rel/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments