Sabtu, 19 Okt 2019

Dari Sidang Majelis Pendeta GKPS di Pematangsiantar

GKPS Tolak Setiap Tindakan Eksploitasi, Perusakan dan Kekerasan Terhadap Alam

Jumat, 17 Januari 2014 14:02 WIB
SIB/Meily Saragih SSos
Pimpinan Pusat GKPS Pdt Jaharianson Saragih STh MSc PhD foto bersama Ketua Majelis Pendeta GKPS Pdt Enida Girsang MTh dan para pendeta lainnya pada Sidang Majelis Pendeta GKPS tahun 2014 di Balai Bolon Jalan Pdt J Wismar Saragih , Kamis (16/1).
Pematangsiantar (SIB) - Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) menolak setiap tindakan eksploitasi,  kekerasan dan tindakan perusakan alam. Hal tersebut diungkapkan Ketua Majelis Pendeta  Pdt Enida Girsang MTh kepada SIB, Kamis (16/1) di sela-sela Sidang Majelis Pendeta GKPS yang berlangsung sejak Selasa (14/1) hingga Jumat (17/1) di Balai Bolon  Jalan Pdt J Wismar Saragih Pematangsiantar.

Menurut  Pdt Enida Girsang, kita hendaknya senantiasa menjaga dan melestarikan alam,  bukannya melakukan tindakan perusakan. Karena itu dalam sidang majelis pendeta bergumul tentang tanggungjawab gereja terhadap alam serta diusulkannya “eko spritual” yakni spritualitas cintai alam semesta yang menolak tindakan eksploitasi,  kekerasan dan perusakan alam.

Sidang majelis pendeta diadakan sekali setahun pada  bulan Januari dihadiri Pimpinan Pusat GKPS Pdt  Jaharianson Saragih STh MSc PhD dan sekira 160 pendeta GKPS di seluruh penjuru nusantara untuk memberikan pertimbangan dan pokok-pokok pikiran teologia kepada pimpinan pusat dan synode bolon, serta pertanggungjawaban terhadap kehidupan bermoral secara teologia. Seluruh pelayan diharapkan berjalan dalam rel dan koridor atau paham yang dianut GKPS.

Selain itu, ada beberapa hal yang dibahas pada sidang majelis pendeta tahun 2014 terutama menghadapi pemilihan legislatif, di antaranya peran dan tanggungjawab gereja terhadap tahun perpolitikan.

Melalui sidang ini GKPS perlu mandiri dan tidak menjadi alat politik atau dipolitisasikan oleh kelompok atau organisasi tertentu. Bahkan lanjut Pdt Enida Girsang gereja diminta bertanggungjawab membuat aksi gerakan moral untuk menentang money politik maupun tindakan-tindakan yang tidak jujur dan tidak bersih. GKPS  harus melakukan gerakan moral untuk memonitoring para pelaku politik apakah bertindak bersih.     
        
Sidang majelis pendeta juga membahas dan mengevaluasi  liturgi GKPS apakah masih dipakai. Namun  masih perlu penambahan dan diperlukan dalam kehidupan berbudaya misalnya inmemoriam, tata ibadah 7 bulanan, “membere tukkot pakon dudaduda”,

Tata kerja dimaksudkan agar seluruhnya dapat bersinergi dan memperlengkapi para pelayan GKPS khususnya para pendeta dalam tugas dan tanggung jawabnya agar mempunyai komitmen yang tinggi dan integritas yang jelas.

Para pendeta GKPS dapat meramu talenta dan pikiran-pikiran dari seluruh pendeta GKPS untuk bergumul dan berjuang secara bersama-sama menciptakan pelayanan yang baik. Sidang juga merumuskan hal-hal prinsipil yang didukung oleh rapat distrik dan menjabarkannya dalam bentuk program kerja.

Sebagai wujud kepedulian dan penerapan kesetiakawanan, sidang majelis pendeta juga akan memberikan bantuan kepada korban Gunung Sinabung.

Sebagai perwujudan  tahun 2014 sebagai tahun kesetiakawanan, pihaknya juga senantiasa memberikan dukungan berupa doa-doa syafaat  dan pengumpulan dana kepada korban Gunung Sinabung, banjir di Jakarta dan daerah lainnya. (C4/ r)





T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments