Rabu, 13 Nov 2019

Bangkai Babi Terapung di Sungai Aek Ristop Batang Toru, Bau Busuk Resahkan Warga

redaksi Jumat, 08 November 2019 18:28 WIB
Foto SIB/G01
TERAPUNG: Salah satu bangkai babi yang dibuang di Sungai Aek Ristop Batang Toru, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Taput tepatnya di Jalan TB Simatupang, Kelurahan Hutatoruan VII terapung-apung, Kamis (7/11).
Tapanuli Utara (SIB)
Setiap hari warga di sepanjang Jalan TB Simatupang, Kelurahan Hutatoruan VII, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) terpaksa mencium aroma bau busuk bangkai babi yang terapung di Sungai Aek Ristop Batang Toru hingga menimbulkan keresahan warga.

Belum diketahui penyebabnya, namun dugaan sementara akibat terserang hog cholera atau kolera babi serta diduga puluhan bangkai babi itu sengaja dibuang oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Selain itu, pihak terkait belum ada melakukan pemantauan terkait pembuangan bangkai babi ke Sungai Aek Ristop tersebut.

Informasi yang dihimpun, Kamis (7/11) Lumbantobing warga setempat menyebut, bangkai-bangkai babi sudah terapung-apung sejak sepekan lalu. Akibatnya, warga terganggu dengan bau busuk yang ditimbulkan. "Ya, kami khawatir terhadap kesehatan kami sebab ternak tampaknya sudah berada di sungai selama beberapa waktu. Semakin lama bangkai itu dibiarkan di sana, maka akan semakin banyak bakteri yang tersebar," keluhnya.

Saat yang bersamaan juga, Hutagalung warga setempat mengaku dirinya juga sangat khawatir akibat bau busuk yang ditimbulkan bangkai babi tersebut meski kabar yang beredar dari media massa dan televisi tidak membahayakan virus kolera babi kepada manusia. Akan tetapi persoalannya katanya, bukan virus koleranya tapi bau busuk yang sangat menyengat dihirup setiap hari.

Ia menambahkan, belum ada petugas dari Dinas Peternakan turun ke lokasi untuk mengambil sampel padahal warga juga ingin tahu kepastian penyakit ternak babi hingga mati, walaupun warga biasanya menyebut matinya karena virus kolera babi.

Warga berharap, agar pihak terkait terus menggencarkan pemberian penyuluhan dan memberikan pengetahuan dan imbauan secara terus menerus. Jangan nanti lanjutnya, warga hanya sebatas mendapat informasi dari media massa dan televisi saja serta pihak terkait hanya sebatas melakukan vaksinasi tanpa melakukan pemantauan di sungai. "Itu sama saja program tidak jalan alias "jalan di tempat," tandasnya. (G01/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments